• Cekidot

    Menanti Mobdin Kembali

    Suasana pagi yang cerah tak mengurangi hati Emid yang gundah. Mahasiswa yang baru menginjak tahun ketiga itu nampak asyik menggerak-gerakkan jarinya membaca berita pada tabletnya yang buatan Korea. Bah Jahrowi yang duduk di sampingnya mengernyitkan wajahnya.

    “Kenapa kamu teh, Mid?” tanyanya sebelum menyeruput kopi hitam di hadapannya. Tangannya dengan lincah bergerak mencomot bala-bala. Ia sontak berubah muka. Mulutnya menganga dengan mata setengah terbelalak.

    “Sabar atuh, Bah, pan kata saya juga masih panas! Jiiih, aingah…,” seru Bi Icih yang sedang sibuk di dekat kompor di ruang belakang warung sederhananya, sambil menahan tawa.

    Tapi Emid nampak tak tertarik dengan insiden yang sering terjadi di pagi hari itu. “Bingung baca ini, Bah!” katanya sembari menyodorkan tabletnya, yang segera didorong Bah Jahrowi.

    “Moal kabaca, Jang!”

    Emid maklum, mata Bah Jahrowi seharusnya sudah lama diberi tindakan medis, tapi apadaya biayanya bukan main besarnya.

    “Menurut harapanrakyat.com, tanggal 16 Januari 2014 kemarin, baru satu dari 15 mantan pejabat di Ciamis yang mengembalikan mobdinnya, Bah! Masak sampai disebut di berita ini harus diambil paksa? Ah, memalukan, atuh!”

    “Mobdin?”

    “Mobil dinas, Bah. Baru Pa Jeje, mantan Ketua DPRD, yang mengembalikan mobdin. Yang lain mah malah ada yang belum ketahuan juntrungannya, di mana adanya. Kenapa bisa gitu ya, Bah?”

    “Yah, mungkin masih dipakai atuh, Jang!”

    “Euh, ari Abah. Kan yang berhak memakai mah pejabat yang masih aktif atuh!”

    Bah Jahrowi terdiam. Sedikit banyak sebagai mantan hansip ia juga pernah mendengar peraturan itu.

    “Oh, kitu, nya?” tanyanya kemudian, pelan.

    “Ya iya atuh, Bah!” Emid menjawab penuh semangat. Kata ‘ya iya’ diucapkannya menggunakan intonasi yang sama ketika ia merasa menang berdebat pada diskusi panel organisasi mahasiswa yang diikutinya. “Kalau tidak dikembalikan, itu teh namanya memakai sesuatu yang bukan haknya, Bah!”

    Riak muka Bah Jahrowi memucat. Bala-bala sudah habis ditelan, kopi hitam tinggal ampasnya. Tapi perasaan bersalah tiba-tiba berkecamuk di hatinya. Ia segera berdiri dan membayar ‘konsumsi pagi’.

    “Si Abah mah, diajak ngobrol kalah ngaleos. Mau ke mana, Bah?” Emid kaget.

    “Ada beubeur sama pentungan hansip, Jang… belum Abah kembalikan. Ke heula, nya, Abah ke Kantor Desa dulu…”

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi