• Cekidot

    Rambut Putih Ibunda

    Angin sore yang sejuk menentramkanku. Orkestrasi lengking anak-anak terdengar bersahut-sahutan. Sebuah harmoni. Dunia bermain mereka pastilah mengasyikkan. Tapi Si Bungsu, Fairuz, tiba-tiba saja datang. Tak biasanya. Seolah riuh-rendah dari arah lapangan tak menarik hatinya. Padahal biasanya dia bermain sampai lupa waktu bersama ‘geng krucil’-nya.

    “Kok, udah pulang, De?” tanyaku. Malaikat kecil itu cuma tersenyum, menaruh kepalanya di pangkuanku dan berbaring, bermanja-manja. Kubelai rambut pekatnya, dan seketika desir haru menyeruak ke dalam dadaku. Cukup lama menanti kehadirannya, berselisih lima tahun dengan kakak satu-satunya. Kuakui, kegembiraan atas kehadirannya kadang menjelma menjadi sikap yang membuat ‘Teteh’-nya merengut iri. Bunda mah lebih sayang Ade, protesnya sesekali. Kalau sudah begitu, Amira kupeluk erat dan kubujuk-bujuk, hingga senyum indahnya mekar kembali.

    “Bun…, kenapa rambut Bunda teh ada yang putihnya?” Tangan kanannya meraih rambutku. Aku mengernyit sejenak. Satu dua warna putih memang terselip di sana. Bunda sedang beranjak tua, De.... Ah, tidak, jangan kalimat suram itu jawabannya. Duh, pertanyaanmu itu, Nak, kenapa kadang-kadang ngagetin Bunda? Otakku segera bekerja keras menyusun kata-kata.

    “Mmmm, gara-gara Ade sih....” Sontak, dia duduk dan menatap polos penuh perhatian. Kusentuh hidung kecilnya perlahan, dan ia semakin tak sabar menanti penjelasan. “Ini teh setiap satu kali Ade nakal sama Bunda, ada satu rambut Bunda yang berubah jadi putih, De....”

    Ia nampak berpikir keras. Abaikan ‘bla-bla-bla’ yang kusampaikan sembari mengagumi paras tampannya. Aku berbisik sendiri di dalam hati, “Kamu nakal seratus kali sehari pun, ‘nggak apa-apa, Nak!” Dan dia sama sekali tidak nakal!

    “Ade tahu sekarang...!” tiba-tiba suaranya membahana, diiringi acungan telunjuk kanannya menirukan gaya guru TK-nya.

    “Apa, Sayang?”

    Pantesan rambut Enin teh putih semua! Bunda nakal banget ya sama Enin?”

    Sungguh, kalimat yang tak terduga. Ada yang menjalar dengan cepat dalam hatiku, seirama dengan hadirnya bayangan Mamah nun jauh di Ciamis sana, di kampung halaman tercinta. Ya Allah, malaikat kecilku tiba-tiba mengantarkan kelembutan nasihat-Mu yang menggetarkan dada. Fairuz segera terjebak dalam dekapan, ketika butiran-butiran hangat tak terbendung lagi, meleleh dari sudut-sudut mata.

    (ditulis @yoezka, terinspirasi oleh 'Seorang Anak dan Ibunya')

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi