• Cekidot

    Suatu Malam untuk Jagadalu dan Ki Tempang

    Pertengahan malam. Sedari punggung bukit ia sudah memperhatikan. Ketika, sebagaimana biasanya, ia berkeliling menjalankan kewajiban. Mereka, ketiga orang itu, tampak melanjutkan perjalanan dengan langkah-langkah pasti, menapaki turunan, menuju arah perkampungan. Sesekali, melewati dedaunan, semak-semak dan rambatan tetumbuhan liar. Hingga akhirnya berhenti, di bawah rerimbunan pohon yang menyembunyikan kehadiran. Terdengar gumam percakapan.

    “Sudah dekat. Hati-hati. Siapa tahu ada ronda malam!” “Alaaah, biar aku yang urus. Kuhabisi sekalian!” “Dasar dungu, bisamu hanya membunuh, menyembelih leher orang. Pakai otak! Apa jadinya kalau orang sekampung mengepung kita?” “Kamu takut? Dasar nyalimu memang kerdil! Kalau mau meniru gerombolan, harus tega, jangan pakai perasaan....” “Heh, kalian berdua, dasar sama-sama bodoh! Jangan ribut! Sudah, ayo. Jangan lupa, pilih rumah paling besar, siapa tahu malam ini kita bisa dapat duit dan perhiasan sekalian.”

    Mereka bergerak lagi. Tiga pasang mata semakin tajam. Tangan mereka sudah memegang gagang senjata masing-masing. Semakin dekat. Ketegangan semakin memuncak. Tubuh mereka semakin basah oleh keringat. Tiba-tiba, langkah mereka tercekat. Samar-samar, sesosok bayangan tampak menghadang. Ia, yang sedari tadi terus membuntuti ketiga orang itu, sudah melesat dan berdiri tegak.

    “Terima kasih, Ki Tempang. Inilah kewajiban kita, menjaga tapal batas Rajad├ęsa ini. Jagadalu tidak bisa apa-apa tanpamu. Sekali lagi, terima kasih. Ia membelai, mengusapkan telapak tangannya perlahan. Suara auman membahana, membangunkan lelap malam. Sosok harimau hitam memancarkan sorot matanya yang menyala. Ekornya bergerak-gerak, seolah mengejek mereka yang hanya bisa terbelalak. Tiga jasad yang berteriak tanpa suara, ditikam oleh ketakutan yang amat sangat. Terapung-apung dalam kemarahan air sungai yang meluap-luap, ke arah hilir.

    Kesunyian lantas datang menghampiri perkampungan. Angin sepoi menyambut bulan yang tiba-tiba datang. Arak-arakan awan menghilang seirama lenyapnya sorak-sorai kemenangan. Dua bayangan berjalan perlahan, di bawah sorot temaram Dewi Malam, memantulkan jutaan pesona kegagahan. Lalu, mereka melesat.

    Jagadalu dan Ki Tempang melintasi jaman, dalam rangkaian kata-kata dan dongeng malam, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi lainnya. Generasi yang semoga tak makin melupakan.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi