• Cekidot

    Membawa Nyiar Lumar Ke Pentas Internasional, Mungkinkah?


    Selasa, 13 Desember 2016. Waktu baru saja menunjuk menjelang pukul tujuh malam ketika Dadang M. Rochlik muncul di lobi D’Salvatore Hotel, Jl. Laksda Adisutjipto, Yogyakarta. Penampilannya santai dan bersahaja, berkaus polo oranye dengan celana pendek berpulas pudar. Raut kelelahan membayangi wajahnya, setelah sejak malam sebelumnya ikut mendampingi siswa-siswi SMPN 1 Ciamis dalam perjalanan study tour ke Kota Budaya dan sekitarnya. Meski demikian, ia tetap antusias berbincang mengenai aktivitas seni tradisi di Ciamis, terutama seputar kegiatan ‘Nyiar Lumar 10‘ yang baru saja sukses diselenggarakan pada 19 November 2016 lalu.

    Pendidik yang juga pegiat seni teater di Tatar Galuh Ciamis tersebut didaulat menjadi ‘pupuhu’ atau ketua panitia pada acara ‘Nyiar Lumar 2016’. Dang Q, panggilan akrabnya, yang tak hanya sekali menjadi ketua panitia gelaran tersebut, menganggap ‘Nyiar Lumar 10’ adalah kegiatan tersukses yang pernah diadakan dalam 18 tahun usia kegiatan rutin tersebut. “Jika diadakan lagi, Nyiar Lumar tahun ini harus menjadi acuan pembanding,” ujarnya mantap.

    Lelaki yang pernah menjadi pemain dan sutradara teater, awak televisi, penyelenggara berbagai event seni budaya, namun pada akhirnya menetapkan jalan hidupnya sebagai seorang guru tersebut mengatakan bahwa jumlah pengunjung ‘Nyiar Lumar 10’, yang ditaksir mencapai 10.000 orang, merupakan salah satu indikator kesuksesan dan pendorong semangat untuk penyelenggaraan ke depannya.

    Ayah tiga orang anak –perempuan semua- ini mengaku memiliki obsesi khusus terhadap ‘Nyiar Lumar 11’ yang menurut rencana akan diadakan lagi pada bulan Agustus 2018.

    “Saya sudah menyampaikan harapan dan mewanti-wanti, sewaktu ngasih sambutan di acara kemarin. Nanti, tahun 2018, event ini harus meningkat menjadi berskala internasional,” ungkapnya. Paling tidak, menurutnya, sudah ada tiga negara yang akan diundang pada pergelaran dua tahun mendatang: Jepang, Australia dan Amerika Serikat. Peserta dari negara lain pun sangat terbuka dan dimungkinkan. Mengingat cita-cita besar ini, persiapan yang lebih panjang dan matang akan sangat diperlukan.

    “Pihak pengisi yang berminat hadir pun pastinya perlu waktu yang cukup untuk mencari sponsor pementasan,” imbuhnya, memberi gambaran.

    Dukungan berbagai pihak akan sangat dibutuhkan, mengingat gelaran ‘Nyiar Lumar’ memang membutuhkan sumber daya yang cukup besar, terlebih masalah pendanaan. Tetapi, berkaca dari penyelenggaraan ‘Nyiar Lumar 2016’, Dang Q mengajak agar optimisme panitia harus tetap terjaga. Dukungan luar biasa dari pihak aparat pemerintah dan masyarakat patut mendapat apresiasi yang sebesar-besarnya, mulai dari urusan perizinan, tenaga lapangan, pengaturan parkir, konsumsi dan sebagainya. Tak lupa terselip juga kisah keterlibatan pawang hujan karena musim hujan yang membuat deg-degan.

    “Kemarin, asalnya kita juga hanya punya modal tiga puluh juta,” akunya. Bantuan dari pemangku kebijakan di bidang kebudayaan di Kabupaten Ciamis tersebut masih sangat jauh dari kebutuhan proposal yang mencapai sekitar Rp. 150 juta. Pada akhirnya, bantuan dari Kementerian Pariwisata menjadi solusi pada saat yang menentukan. Ke depannya, waktu persiapan yang lebih panjang diharapkan akan memberi ruang yang memadai untuk menggali sumber daya pendanaan.

    Konsep acara sendiri tak akan beranjak dari suasana murni dan natural yang selama ini disuguhkan, tanpa pelibatan teknologi canggih kekinian seperti yang sudah mulai diadopsi berbagai pertunjukan seni atau event budaya lain. ‘Nyiar Lumar’ tetap akan mengajak pengunjung untuk menyatu dengan khidmatnya suasana alam, lengkap dengan seluruh rangkaian dan nilai filosofisnya nan sakral. Acara ini akan tetap menjadi ‘ritual pencarian cahaya masa lalu di masa kini’. Lokasi pun tetap akan tetap berada di situs budaya bersejarah di wilayah Kawali, Kabupaten Ciamis.

    Dang Q mengajak semua elemen pendukung untuk menjaga niat dan semangat, sembari merintis kerja setahap demi setahap. Militansi panitia ‘Nyiar Lumar’, selama ini juga menjadi modal terbesar penyelenggaraannya. Sebagai langkah awal, sembari mereview dan mengolah ulang konsep, proses sosialisasi akan terus dijaga secara intensitasnya. “Dukungan semua pihak yang micinta budaya karuhun-nya, tentu akan kita sambut dengan tangan terbuka,” pungkasnya

    Sang Pupuhu Acara Nyiar Lumar 10, Dang Q. Foto: Rudi Bratawidjaja.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi