• Cekidot

    R.A. Danadibrata, Potret Pejuang Cinta Bahasa Sunda


    CIAMIS.info - Suatu hari di penghujung tahun 1973, seorang laki-laki berusia lanjut datang bertamu ke rumah kontrakan sastrawan Ajip Rosidi di Gang Asmi Bandung. Ia memperkenalkan diri sebagai pensiunan wedana yang tinggal di lingkungan pendopo Kabupaten Bandung dan mengaku memiliki naskah kamus bahasa Sunda berisi 40.000 entri. Maksud kedatangannya, meminta bantuan Ajip menerbitkan naskah tersebut.

    Ajip, kala itu direktur pada perusahaan penerbit Pustaka Jaya Jakarta, awalnya sangsi terhadap pengakuan tersebut. Tamunya menyebut jumlah entri yang cukup fantastis, padahal kamus bahasa Sunda yang sudah ada saja, susunan R. Satjadibrata, isinya ‘hanya’ 13.000 kata.

    Ajip baru percaya di kemudian hari, saat mengunjungi balik rumah tamunya tersebut dan melihat 2000 lembar kertas ketikan, yakni naskah yang dimaksudkan. Sejak itulah, meski sempat tertunda puluhan tahun, Ajip terus mengawal –bahkan menjadi editor- terbitnya sebuah karya yang luar biasa: “Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata”.

    ***

    Sang penyusun kamus bahasa Sunda itu bernama Raden Alla Danadibrata, lelaki kelahiran Ciamis, 23 April 1905. Ia adalah lulusan Sakola Menak (OSVIA) Serang tahun 1925. Sosoknya seolah terlahir sebagai keajaiban karena menyusun kamus sendirian, yang ikut menjaga kelestarian Basa Sunda sebagai basa indung.

    Semua berawal dari pertanyaan R. Kanduruan S. Djajadiredja, seorang guru OSVIA yang juga paman istrinya. Pendidik yang termasyhur sebagai pengarang buku “Roesdi djeung Misnem” tersebut pada suatu waktu bertanya pada R. Alla Danadibrata muda, “ponakanku, kenapa ya, yang menjadi adpiseur untuk inlander (advisseur voor inlandsche zaken), adpiseur urusan agama Islam, adpiseur bahasa Sunda, Melayu dan Jawa, malah yang membuat kamus bahasa Sunda pun hanya orang Belanda saja, padahal mereka dilahirkan dan dibesarkan di negrinya…?”

    Seketika, pertanyaan tersebut bagaikan menyalakan sumbu api semangat di dalam dada Alla muda. Pemuda yang sedang berkobar-kobar gairah hidupnya tersebut menancapkan tekad untuk mengangkat harkat dan martabat orang Sunda. Pada saat yang sama tumbuh pula semacam keyakinan untuk mampu menjalankan misi suci tersebut dalam hidupnya.

    Rd. Kanduruan mendukung tekadnya menyusun kamus, membekalinya dengan kertas bergaris, pensil dan penghapusnya. Langkah pertama R.A. Danadibrata adalah dengan memasukkan bagian-bagian tumbuhan bambu, hingga bagian-bagian kecilnya. Kemudian, pohon pisang dan lain sebagainya. Ia kemudian juga menuliskan bermacam peribahasa Sunda, arti dan asalnya, dan seterusnya. Ia memang tidak menggunakan metoda yang lazim dalam penyusunan kamus.

    Meski ia menyadari betul kekurangannya dalam ilmu bahasa Sunda, kegigihan dan ketabahnnya sangat mengagumkan dan tak dapat dicapai orang kebanyakan. Menyusun kamus bukanlah pekerjaan sederhana, tapi ungkapnya: “een blaffende hond mist de kluff” (kalau hanya bicara, tak akan ada hasilnya).

    ***

    Dalam kutipan memoar singkatnya R.A. Danadibrata menuliskan kilasan riwayat hidup dan perjuangannya. Pada awalnya tak ingin menjadi amtenar di pamongpraja. Istrinya, R. Gantirah binti Widjajapradja, memberi pandangan bahwa sudah banyak di kalangan keluarga besar mereka yang menjadi pegawai negeri. Selain itu, menjadi pamongpraja membawa konsekuensi siap dipindah-pindah tugas ke mana saja, yang pasti akan berpengaruh kurang baik pada pendidikan anak-anak mereka.

    Setelah menimbang segala-sesuatunya, ia sepakat dengan usul istrinya dan memutuskan untuk tinggal di Bandung pada tahun 1926. Ia memilih hidup prihatin demi kebahagiaan anak di masa depan. Pekerjaan pertama yang didapatkannya adalah sebagai pegawai di HBPTT (kini kantor pos) bagian radio laboratorium dengan gaji fl. 3,- (Rp. 3,-) sebulannya. Ia menikmati pekerjaannya sebab tertarik dengan teknologi radio yang baginya ‘serba aneh’. Lama-kelamaan ia mampu menjadi montir radio di rumahnya, meski tanpa ijasah formal.

    Tahun 1946 merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan hidup R.A. Danadibrata. Setelah dua puluh tahun menjalani kehidupan di Bandung, ia terpaksa harus mengungsi ke luar kota karena revolusi fisik kemerdekaan. Bersama istri dan anak-anaknya yang masih kecil, ia meninggalkan rumahnya di Jl. Ciateul Bandung dan menuju tanah kelahirann, Ciamis, dengan hanya membawa bekal baju seadanya.

    Penting untuk dicatat, bahwa hasil kerjanya mengumpulkan kata-kata untuk kamus bahasa Sunda, yang dijalaninya penuh kesungguhan dan ketelatenan, ikut musnah terbakar. Naskah yang sudah selesai itu di kemudian hari diulanginya lagi ditulis dari awal.

    Tahun 1947, ia memutuskan pindah kerja dari HBPTT ke kantor Kabupaten Ciamis, waktu itu dipimpin Bupati R. Peter Dendadikusumah. Dua tahun kemudian, tahun 1949, ia ditawari menjadi wedana di Pacet, Cianjur, tapi ditolaknya karena menginginkan kembali ke Bandung demi pendidikan anak-anaknya. Setahun kemudian, tahun 1950, sebagai camat ia dipindahkan dari Ciamis ke Kabupaten Bandung, yang saat itu dipimpin Bupati R. Male Wiranatakusumah.

    Selama bekerja di pemerintahan Kabupaten Bandung, berkali-kali ia ditawari menjadi wedana, tetapi ditolaknya karena mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. Barulah pada tahun 1956, atas bujukan Gubernur Jabar R. Ipik Gandamana, kakak kelasnya di OSVIA, ia mau diangkat menjadi wedana di kantor Kabupaten Garut. Itupun dengan syarat keluarganya diijinkan tetap tinggal di Bandung dan ia mendapat 'scheidingstoelage' (tunjangan karena berjauhan dengan keluarga).

    Tahun 1958, R.A. Danadibrata kembali ke kantor Kabupaten Bandung dan lima tahun kemudian (1963) ia akhirnya pensiun sebagai wedana. Konsistensinya dalam menjaga pendidikan anak dan jalan hidupnya yang tidak ambisius terhadap jabatan tetap tidak berubah, ketika sempat menolak tawaran Bupati R. Sabri untuk menjadi patih (sekda) di Bekasi.

    Setelah pensiun, perjuangannya mewujudkan kamus bahasa Sunda kembali berlanjut, hingga naskahnya selesai di sekitar pertengahan tahun 1973, yakni beberapa saat sebelum menemui Ajip Rosidi. Sayangnya, karena berbagai sebab, baru 30 tahun kemudian kamus tersebut diterbitkan atas kerjasama Universitas Padjadjaran dan Penerbit Kiblat Buku Utama.

    ***

    R.A. Danadibrata wafat di Bandung pada 13 Oktober 1987. Almarhum dikaruniai enam orang anak laki-laki dan dua anak perempuan, serta 31 orang cucu dari pernikahannya.

    Sepeninggalnya, “Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata” merupakan warisan tak ternilai yang menjadi karya monumental. Kamus tersebut akan selalu menginspirasi para pecinta bahasa dan kebudayaan Sunda. Selain menyusun kamus, ia juga menghasilkan karya lainnya berupa buku “Onom Jeung Rawa Lakbok”.


    Baca juga: Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata, Karya Luar Biasa yang Tak Ternilai Harganya

    Perjuangannya yang konsisten dan tak kenal menyerah dalam mewujudkan kamus bahasa Sunda, menempatkannya sebagai pribadi yang istimewa di dalam lintasan sejarah. Meski ia pernah mendapat pembayaran atas hak cipta penerbitan kamusnya, yang ia gunakan untuk pergi berhaji bersama istrinya, namun ketika menyaksikan naskahnya tak juga diterbitkan, ia memilih membeli kembali hak cipta tersebut.

    Ketika beberapa pihak akhirnya bekerjasama untuk mewujudkan kamus tersebut, pihak keluarga memilih menyerahkan hak cipta sepenuhnya kepada penrbit, dengan permintaan agar nama R.A. Danadibrata terus dicantumkan dalam karya monumentalnya.

    Apakah kamus yang disusunnya sudah sesuai benar dengan harapannya? R.A. Danadibrata sendiri pernah mengungkapkan kepada para putranya, keinginannya adalah menyempurnakan kamus yang masih umum tersebut hingga serupa modelnya dengan “Dictionary of Word Origin”. Sebuah tugas besar yang menunggu jawaban dari generasi urang Sunda selanjutnya. Semoga.(*@urang_ciamis)

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi