• Cekidot

    Para Pelarian yang Melewatkan Hari Kemerdekaan

    Bulan Juli, tahun 1945. Desa Cinyasag, Panawangan, Ciamis, terasa mencekam. Suasananya serba muram, bak perkampungan tak bernyawa. Rumah-rumah penduduk yang sedari awal pun kebanyakan sangat bersahaja, kini jadi lebih memprihatinkan penampakannya.

    Dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya berwarna putih hasil dicat larutan batu kapur, sekarang berubah menjadi kecoklat-coklatan dan kusam akibat dipulas dengan lumpur. Konon, tujuannya supaya warna pemukiman tidak terlalu kontras bila dilihat dari udara oleh pilot pesawat musuh. Taktik camouflage tersebut entah seberapa efektif keberhasilannya.

    Rumput dan alang-alang tumbuh di mana-mana, di halaman rumah warga, di jalan-jalan dan di sekeliling kampung. Desa pun tampak nyata tak terurus, atau memang sengaja dibiarkan saja, sebab harapan dan masa depan pun masih belum karuan seperti apa. Pemukiman penduduk bahkan hampir nampak seperti kampung mati.

    Jumlah penduduknya berkurang banyak, sebab kaum lelaki tulang punggung keluarga dan pemuda-pemuda yang sehat badannya dipaksa ikut romusha. Sudah tiga tahun lebih ‘saudara tua’ menindas Nusantara. Kekejaman Jepang yang luar biasa memupus kesan tentang ‘saudara tua’ yang akan membawa bahagia.

    foto ilustrasi romusha sumber: blog Langkah Joeang

    Syahdan, beberapa warga Cinyasag yang terpaksa ikut romusha dan ditempatkan di wilayah pinggiran kota Bandung, memiliki rencana untuk melarikan diri. Hal itu dipicu oleh keadaan di sekitar lokasi kerja paksa yang mulai longgar pengawasannya.

    Sungguhpun aksi nekat tersebut sangat beresiko, tetapi menurut pengamatan terlihat bahwa para serdadu Jepang sering lengah dan kendur penjagaannya. Para tentara Dai Nipon yang dikenal sadis itu malah sekarang sering berkumpul dan mendengarkan siaran radio saja.

    Ajakan untuk kabur dari area kerja paksa tak begitu saja disetujui warga lainnya. Sebagian melarang karena kuatir akibatnya, meskipun yang lain keukeuh mengajak pulang ke kampung saja sebab tak tahan lagi dengan suasana romusha.

    Tak ada kata sepakat, akhirnya sebagian warga Cinyasag memaksa kabur diam-diam dari lokasi romusha. Mereka meninggalkan warga lainnya yang memilih bertahan. Para pelarian memilih jalan kaki, karena memang tak ada alat transportasi yang memungkinkan dan dinilai lebih aman.

    Dimulailah perjalanan panjang menuju kampung halaman tersebut. Mereka memilih jalur yang cukup sulit dan berat, sebab selalu menjauhi kampung-kampung maupun jalan besar. Alasannya, khawatir akan serdadu Jepang atau mata-matanya.

    Akibatnya, jalur hutanlah yang dipilih selama meninggalkan pinggiran Bandung menuju Ciamis utara. Naik turun bukit dan melewati jalan curam pun harus dilalui, sementara untuk kebutuhan makan sehari-hari hanya mengandalkan buah-buahan atau umbi-umbian yang ditemui di jalan. Pulang kampung yang amat melelahkan dan penuh keprihatinan, masih ditambah lagi tersesat ke sana ke mari karena tak tahu jalan.

    Setelah sebulan lamanya melakukan perjalanan, tak urung sampai jugalah para warga Cinyasag korban romusha ke kampung halaman. Kerinduan yang amat sangat terhadap desa tercinta, berubah menjadi keheranan yang amat sangat.

    Mereka terpana. Desa yang ditinggalkan dalam keadaan suram, kumuh dan tak karuan, ternyata sudah berubah. Cinyasag tampak segar, bersih dan penuh keceriaan. Rumah-rumah tampak berbenah, rumput-rumput dibersihkan. Penduduk pun tak sedang dicekam ketakutan.

    Rupanya Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan, pada saat mereka masih berada di hutan, sembari penuh keaengsaraan. Mereka tak pernah tahu, sebab selalu menjauhi pemukiman. Jadilah kabar tersebut tak pernah mereka ketahui samasekali.

    Yang istimewa, mereka disambut warga lain sesama korban romusha yang dulu menolak kabur, yang sudah duluan sampai di kampung halaman karena diantarkan pulang dengan kendaraan. Jadilah pertemuan yang mengharukan, sekaligus di kemudian hari menjadi kenangan yang dikisahkan dengan senyuman.

    “Haru dan lucu, namun demikianlah jalan panjang menuju kampung halaman,” pungkas sastrawan Godi Suwarna, mengutip ayahnya, Bapak Suwarna, salah seorang sesepuh daerah Cinyasag, Panawangan, Ciamis.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi