• Cekidot

    29 Oktober 2018

    Jembatan di Bangunharja Butuh Perhatian


    Harapan masyarakat Ciamis, khususnya yang tinggal di kawasan pedesaan, pinggiran atau perbatasan, untuk menikmati sarana dan prasarana transportasi yang memadai, tampaknya masih memerlukan waktu, perjuangan dan kesabaran.

    Sebagai contoh, sebagaimana yang terlihat pada kondisi jembatan di atas Sungai Cihonje di kawasan perbatasan, tepatnya Desa Bangunharja, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis.


    Jembatan yang merupakan urat nadi transportasi masyarakat tersebut sudah lebih dari 5 tahun kondisinya makin memprihatinkan. Karena tergerus arus sungai, tiang penyangga menjadi amblas, sehingga badan jembatan tampak melengkung.

    Meski kondisinya tampak membahayakan, jembatan penghubung tersebut masih digunakan oleh masyarakat. Untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, melihat fisik jembatan yang seolah tinggal menunggu ambruk, kini kendaraan roda empat hanya boleh lewat jika tanpa muatan.

    Ironisnya, walaupun kondisinya tampak miris, belum ada penanganan berarti hingga saat ini. Keterbatasan anggaran dan skala prioritas pembangunan desa membuat alokasi untuk jembatan belum dapat direalisasikan. Di lain pihak, status jembatan menjadi kendala tersendiri.

    “Meski setiap tahun diajukan, tapi sampai saat ini belum juga ada yang menyentuh perbaikannya, dengan alasan status jembatan/jalan sebagai poros desa,” ungkap K. Waryana, Ketua RW 05, Blok Tameng, Dusun Desa, Desa Bangunharja.

    Menurut pria yang akrab dipanggil Yana ini, jembatan tersebut adalah penghubung Dusun Desa dengan Dusun Mekarmulya.

    Tak hanya satu jembatan, ternyata kondisi serupa juga terjadi pada jembatan penghubung antara Desa Bangunharja dengan Desa Girimukti yang ukuran lebarnya lebih kecil.


    Pada awalnya jembatan tersebut direncanakan untuk dapat dilalui oleh pejalan kaki dan roda dua. Tetapi, pada akhirnya kini kondisinya juga memprihatinkan.


    Salah satu jalan di mulut jembatan belum dapat dikatakan layak untuk dilalui kendaraan roda dua.


    Sementara itu, retakan di tiang penyangga pun tampak sangat mengkhawatirkan.

    “Itu kalau tidak salah pekerjaan tahun 2016 oleh pihak ketiga, menggunakan dana anggaran propinsi,” tambah Yana.

    Pihaknya berharap ada perhatian dan bantuan dari pihak terkait, karena keterbatasan anggaran desa belum memungkinkan untuk melakukan perbaikan jembatan yang keberadaannya sangat vital bagi kehidupan masyarakat setempat tersebut.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi