// API callback
showrecentposts({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$blogger":"http://schemas.google.com/blogger/2008","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755"},"updated":{"$t":"2024-01-06T03:24:29.571+07:00"},"category":[{"term":"berita ciamis"},{"term":"prestasi"},{"term":"wisata ciamis"},{"term":"kodim 0613 ciamis"},{"term":"olahraga"},{"term":"sosok"},{"term":"serba-serbi"},{"term":"lakalantas ciamis"},{"term":"damkar ciamis"},{"term":"kuliner ciamis"},{"term":"lingkungan"},{"term":"infrastruktur"},{"term":"komunitas"},{"term":"bupati ciamis"},{"term":"inspirasi"},{"term":"tanggap bencana"},{"term":"keagamaan"},{"term":"pendidikan"},{"term":"kriminalitas"},{"term":"sejarah"},{"term":"asal-usul"},{"term":"seni budaya"},{"term":"humanity"},{"term":"kesehatan"},{"term":"polres ciamis"},{"term":"opini"},{"term":"advertorial"},{"term":"fasilitas publik"},{"term":"fiksi ciamis"},{"term":"tradisi"},{"term":"bnnk ciamis"},{"term":"giat desa"},{"term":"kkn ciamis"},{"term":"mahasiswa ciamis"},{"term":"pramuka ciamis"},{"term":"212"},{"term":"jadwal vaksinasi"},{"term":"moka ciamis"},{"term":"antara kita"},{"term":"literasi ciamis"},{"term":"tokoh ciamis"},{"term":"KCPP2019"},{"term":"air terjun"},{"term":"ekonomi bisnis"},{"term":"heritage"},{"term":"humor"},{"term":"pertanian"},{"term":"hikmah"},{"term":"kadin ciamis"},{"term":"pelajar ciamis"},{"term":"pembangunan"},{"term":"pesantren ciamis"},{"term":"suara warga"},{"term":"twibbon ciamis"},{"term":"artikel"},{"term":"bpbd ciamis"},{"term":"bumi perkemahan"},{"term":"dongeng ciamis"},{"term":"giat warga"},{"term":"info jabar"},{"term":"sketsa"},{"term":"suasana desa"},{"term":"unigal"},{"term":"agribisnis"},{"term":"kisah misteri"},{"term":"majelis ilmu"},{"term":"mesjid"},{"term":"nyiar lumar"},{"term":"peduli berbagi"},{"term":"seni"},{"term":"berita mancanegara"},{"term":"dprd ciamis"},{"term":"dunia kerja"},{"term":"hilang temukan"},{"term":"hobi"},{"term":"jajak pendapat"},{"term":"merch"},{"term":"paskibra ciamis"},{"term":"sajak dan puisi"},{"term":"santri"},{"term":"satpol pp ciamis"},{"term":"wilayah"}],"title":{"type":"text","$t":"CIAMIS.info"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Ragam Tulisan, Gambar dan Info Berita Seputar Ciamis"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/posts\/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/-\/fiksi+ciamis?alt=json-in-script\u0026max-results=500\u0026orderby=published"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/search\/label\/fiksi%20ciamis"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"9"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"500"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-7598464228516371428"},"published":{"$t":"2021-09-11T18:39:00.018+07:00"},"updated":{"$t":"2022-04-17T00:49:34.250+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Kurengkuh Angan di Panawangan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhr5jCKtX-ClohsTgd-Tui_YDp4BAD3ZyXoxZg6KVG1evUffjaHPT96EbqhS8kfQ5zNmpctXucd5BR52-WG6SR__Y2BXOBo1FlDsAxKcgEpK0zhCn2jErdrtzykljBUOoDg83N0HuuQQ_Gx\/s1600\/fiksi-ciamis.jpg\" style=\"display: block; padding: 0px; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhr5jCKtX-ClohsTgd-Tui_YDp4BAD3ZyXoxZg6KVG1evUffjaHPT96EbqhS8kfQ5zNmpctXucd5BR52-WG6SR__Y2BXOBo1FlDsAxKcgEpK0zhCn2jErdrtzykljBUOoDg83N0HuuQQ_Gx\/s1600\/fiksi-ciamis.jpg\" width=\"600\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nHari semakin siang dan benderang, tetapi cuaca sedemikian itu tak mampu mengusir muram yang malah bersemayam. Perjalanan yang dimulai dengan keriangan di pagi buta di Taman Raflesia, kini terasa amat menyedihkan. Namun, ia berusaha untuk terus optimis, meski hatinya kian meringis. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSemakin bertambah jumlah anak tangga yang didakinya di Batu Walet ini, semakin terasa pula bahwa impian itu menjauh dari jangkauannya. Ia, Irfan Galuh Martadisastra, yang dikenal selalu optimistis dan kerap mengajak untuk melihat segala sesuatu dengan sudut pandang positif, kini harus bersiap untuk mengakui pahitnya kenyataan. Harapannya mungkin terlalu tinggi, melebihi bukit yang sedang dia daki.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kang Irfaaan! Lambat \u003Ci\u003Ebangeeet\u003C\/i\u003E, \u003Ci\u003Egimana\u003C\/i\u003E siiih!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTeriakan merdu dan manja itu membuyarkan lamunannya, memaksanya berpaling ke arah suara. Fira Anindya, si cantik berambut panjang bertopi hitam, tampak merengut sambil melambai-lambaikan tangan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, tunggu, Ra. Sabarlah ….” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAh, Ra, andai saja berbicara denganmu tak jadi sesulit ini. Irfan menarik napasnya dalam-dalam. Diakuinya, Fira selalu membawa semangat dan kegembiraan bagi semua orang. Jalannya paling depan, tak sabaran, sebab kabar viral keindahan Batu Walet membuat gadis periang itu amat penasaran. Tubuh ramping gadis berkaus oranye itu terlihat kontras di antara hijau dedaunan. Wajah ovalnya yang kuning langsat tampak berkeringat, dengan mata bulatnya yang berbinar-binar, begitu memesona meski riasannya sederhana saja. Mahasiswi tingkat akhir itu sangat paham cara merias dirinya, dan sadar betul akan potensi kecantikan, suara, dan pembawaannya. Namanya kerap muncul di ajang pencarian bakat, modeling, \u003Ci\u003Ephotoshot\u003C\/i\u003E, dan sejenisnya. Di media sosial, sudah puluhan ribu jumlah pengikutnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nUsaha Irfan mendekati gadis itu sudah dimulai sejak tadi pagi di titik kumpul. Sayang, pendekatannya di Taman Raflesia tak berjalan mulus seperti yang diharapkan. ‘Gadis idola kawan-kawan semua’ itu tak pernah sendirian, termasuk saat bus yang mengangkut rombongan bergerak menyusuri jalur Ciamis-Cirebon, menuju lokasi kegiatan. Kerumitan semakin bertambah, karena ada fans berat gadis itu, pemuda lincah Rendy Barata, yang selalu lengket dan begitu menyebalkan. Irfan kesal, sebab senyum dan tatapan pemuda itu dirasakannya menyiratkan rasa kasihan dan ejekan di saat yang bersamaan. Hal yang tak bisa disangkalnya, tapi juga tak mungkin diiyakan. Nasibnya memang sedang mengenaskan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Cepat, Kangbro!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, iyaaa.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMereka menunggu di tikungan. Fira dengan cemberut manjanya, Rendy yang tersenyum menyebalkan, dan Mita Maulida yang wajah kalemnya menyembul sebentar di belakang Fira, sebelum membalikkan badan. Gadis kutu buku berkacamata itu lantas tampak bersemangat mengambil alih posisi Fira, berjalan paling depan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSemua peserta “Karang Taruna Saba Desa” akhirnya tiba menjelang tengah hari di puncak Batu Walet. Destinasi wisata di Kampung Kondang, Desa Cinyasag, Kecamatan Panawangan, yang keindahannya memang tak mengecewakan. Segala lelah langsung terbayar tuntas saat memandang panorama alam yang terhampar di hadapan. Kudapan dan minuman yang dibekal mulai dihidangkan. Beberapa pegiat alam bebas memasak air untuk membuat kopi panas. Suara tawa mulai berderai-derai dan saat itulah Fira mendekat, lalu duduk di sebelahnya. Hati Irfan bersorak. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kang Irfan \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E kenapa, kok pendiam amat \u003Ci\u003Esih\u003C\/i\u003E dari tadi?” Fira menatapnya, tersenyum manis. Pandangan gadis itu lalu beralih mengikuti sebuah mobil yang sedang bergerak hati-hati mengikuti liukan jalan, tampak kecil di kejauhan, di lembah sana. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Masak \u003Ci\u003Esih\u003C\/i\u003E? \u003Ci\u003ENggak\u003C\/i\u003E juga rasanya.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Jangan-jangan belum makan ya? Terus kena \u003Ci\u003Esalatri syndrome\u003C\/i\u003E,” tawa gadis itu pecah di ujung kalimatnya, tapi Irfan hanya diam, sebab hatinya sedang bergemuruh. Inilah kesempatan yang sudah direncanakan berhari-hari lamanya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ada yang mau aku bicarakan, Ra...,” suara Irfan tercekat di tenggorokan, ia terdiam sesaat seperti sedang mengumpulkan kata-kata yang berceceran, \"mau \u003Ci\u003Enggak \u003C\/i\u003Ekalau ....\"\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E sudah sarapan, Fan? Tampak lemah \u003Ci\u003Episan\u003C\/i\u003E, \u003Ci\u003Ebro\u003C\/i\u003E!” Irfan hampir saja bicara, ketika tiba-tiba suara Rendy menggelegar di dekat kupingnya. Astaga, sialan! Irfan menyumpah-nyumpah di dalam hatinya. Bagaimana bisa orang menyebalkan itu selalu datang di saat yang tepat untuk menjegal usahanya? Ini sudah yang ketiga kalinya ia gagal bicara pada Fira. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAkhirnya, ia setengah hati saja menikmati agenda kegiatan. Untungnya, soal bicara di muka publik ia memang sudah jagonya, bahkan sudah diakui teman-temannya sejak dulu SMA, lalu kini di dunia kerja. Bicaranya lugas, ringan dan mudah dicerna, saat menyampaikan pemikiran tentang perjuangan karang taruna memajukan Tatar Galuh tercinta. Apalagi selain aktif berorganisasi, sesudah lulus kuliah ia bergelut dalam dunia agribisnis sambil mengelola kedai kopi di pusat kota. Kini retorikanya semakin berbobot karena didukung oleh pengalaman kerja dan berwirausaha. Hampir semua peserta memberi aplaus untuknya. Fira memberi pujian sambil berbinar-binar matanya. Rendy, entah tulus atau tidak, juga melempar senyum lebar sambil memberi isyarat jempol padanya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAh, celaka, aku \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E bisa bicara tentang perjuangan kaum muda, tapi tak berkutik mengajak Fira bicara. Diam-diam, itulah yang berkecamuk di dalam hatinya. Diliriknya Rendy sialan itu menempel lagi di dekat Fira. Waktu terus berlalu, detik demi detiknya menjadi siksaan baginya yang terus memendam rasa. Makin sadarlah dirinya bahwa di luar kemampuan berorganisasi dan bisnisnya, dalam urusan menghadapi perempuan, ia jauh panggang dari api senyata-nyatanya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPuncak bukit Batu Walet mulai sepi, hanya terdengar gemerisik dedaunan terkena hembusan angin sore yang sejuk. Sesekali kicau burung terdengar di kejauhan. Orang-orang sudah mulai turun lagi ke bawah, setelah selesai aksi bersih-bersih sampah. Bungkus plastik dikumpulkan dan dibawa turun. Semua telah sepakat untuk tak meninggalkan secuil pun sampah, demi menjaga kelestarian alam. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu suka pemandangannya, Mit?” Fira menoleh pada Mita yang sedang berkemas di sebelahnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Tempat ini \u003Ci\u003Eamazing\u003C\/i\u003E! Konon, di zaman kerajaan dulu, pasukan patroli bisa mengawasi kehadiran musuh dari atas sini, makanya disebut Panyawangan, lalu lama-lama berubah pengucapannya jadi Panawangan,” jawaban Mita seringkali seperti itu, punya referensi, khas kutu buku. Sementara Fira selalu melihat sesuatu dengan riang dan tanpa beban, Mita biasanya akan berkomentar dengan lebih bernas. Irfan menatap gadis berkacamata itu beranjak ikut mengumpulkan sampah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, dari atas sini memang semuanya terlihat lebih jelas ya, \u003Ci\u003Egak \u003C\/i\u003Ebisa disembunyikan. Keindahan yang kita rasakan di sini harus disebarluaskan. Sayangnya, ada \u003Ci\u003Eaja\u003C\/i\u003E yang biarpun punya perasaan, \u003Ci\u003Ekeukeuh\u003C\/i\u003E memilih \u003Ci\u003Egak\u003C\/i\u003E punya nyali \u003Ci\u003Ebuat\u003C\/i\u003E mengungkapkan,” Rendy, si sialan itu, melirik padanya sambil tersenyum dan menyipitkan matanya. Ejekan yang terkandung pada kata-katanya itu hampir membuat Irfan tersedak minuman. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca style=\"display: block; padding: 0px; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" data-original-height=\"1350\" data-original-width=\"1080\" height=\"auto\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjM3fEz2o81INoajuscIVt6ohT1AjKgrnzIvT13AS3AcaZ1x2BfUZxM9H2zCdVpkdyYmnTt5we8uXsjV__mcYNlentYfzsggxMS2f6Pd4nOifQaRUe4yNX7av9kHB8LqvbVhMhLEXGUcCXv\/s1600\/batuwalet.jpg\" width=\"400\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cp\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Nanti aku \u003Ci\u003Eposting\u003C\/i\u003E foto-foto pemandangan yang indah parah ini di instagramku. Pasti banyak yang \u003Ci\u003Elike\u003C\/i\u003E!” ucapan Fira jelas menunjukkan dia punya fokus kegembiraan dan dunianya sendiri.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIrfan menghela napas panjang, saat melihat Fira dan Rendy mulai turun ke bawah. Sialan, si Rendy memang paling pintar ambil kesempatan, keluhnya dalam hati. Mereka sempat berhenti sejenak, menoleh dan memanggilnya, tapi dibalasnya hanya dengan isyarat menyuruh duluan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa masih ingin menikmati sebentar lagi suasana Batu Walet ini, akunya tadi. Padahal, sebetulnya hanya terduduk lemas sambil menatap mereka semakin menjauh. Gagal sudah ia mengajak Fira bicara, dan entah kapan lagi kesempatan itu akan datang. Ia menghela lagi napas panjangnya, berulang-ulang.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kesabaran itu konon \u003Ci\u003Enggak\u003C\/i\u003E ada batasnya,” tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang, mengagetkannya. Saat ia menoleh, Mita sedang tersenyum sambil menjinjing wadah kumpulan sampah di tangan kirinya, lalu menyambung ucapannya, \"tapi kalau terlalu lama bersabarnya, nanti \u003Ci\u003Enyesel\u003C\/i\u003E ujungnya.\"\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu …, kamu kok masih di sini, Mit?” Irfan merasa wajahnya panas, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti isi lamunannya terpergok dan dirampas gadis itu begitu saja. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya. Mita sengaja \u003Ci\u003Epengen\u003C\/i\u003E ngasih tahu Kang Irfan, soalnya kasihan terus-terusan \u003Ci\u003Engalah\u003C\/i\u003E sama Kang Rendy. Kang Irfan harus berani \u003Ci\u003Edong\u003C\/i\u003E. Kenapa sih \u003Ci\u003Egak\u003C\/i\u003E berani bicara sama Fira? Apalagi kan Fira juga deket banget sama Akang. Kang Irfan idolanya dia! Heran \u003Ci\u003Edeh\u003C\/i\u003E, padahal soal \u003Ci\u003Epublic speaking\u003C\/i\u003E, Kang Irfan tuh idola kita semua, tapi bicara \u003Ci\u003Esama\u003C\/i\u003E dia kok susah \u003Ci\u003Ebanget\u003C\/i\u003E?” gadis itu nyerocos sambil duduk di sebelahnya. Semerbak harum tubuhnya tercium lembut, segera menelusup perlahan ke rongga dada Irfan, memberinya semacam ketenangan yang instan. Ketenangan itu lalu menggerakkan tangannya merogoh sesuatu yang ada di dalam tasnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Soal Fira, sebenarnya …,” Irfan berusaha keras untuk bersuara, tapi masih tertahan juga.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Hmmm, ya sudah. Mita turun duluan, ya. Maaf kalau Kang Irfan \u003Ci\u003Egak\u003C\/i\u003E nyaman dengar saran Mita, tapi Kang Irfan harus berani bicara,” gadis itu bangkit dan tersenyum, tapi cepat-cepat menundukkan wajahnya, seperti kebiasaannya, yang sering Irfan perhatikan selama ini. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, Mit, Kang Irfan mau bicara.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Naah, begitu dong, pasti bisa,” gadis itu mengakhiri dengan tawa kecil yang jarang terdengar dari mulutnya.\nTawa yang lantas berhenti seketika, saat Irfan tiba-tiba bangkit mendekat, sangat dekat di hadapannya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, aku mau bicara langsung saja, Mit. Maksudku, aku akan bicara tanpa harus lewat Fira ….”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKetika tangan Irfan mengeluarkan buku berjudul “Kitab Pernyataan Cintaku” dari dalam tasnya, kado yang sudah disiapkannya sejak lama, detik itu juga terasa olehnya timbunan keraguan yang menggunung dan memberati pundaknya menghilang dan terhempas seketika ke lembah di bawah sana. Hembusan lembut angin dan senyum mentari di balik awan, menjaganya tetap berpijak, meskipun hatinya sejak tadi melayang meraih angan di sekumpulan awan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E \nWajah gadis kutu buku itu masih merona, menunduk malu, tapi bibirnya tersenyum dan matanya berkaca-kaca, sambil memeluk buku yang baru diterimanya. Ketika laju waktu melambat di senja itu, kedua bola mata Mita yang bening mengingatkan Irfan pada tetes-tetes embun di ujung daun. Kedamaian yang ada di balik tatapan teduh gadis itu menyatu dengan harmoni Batu Walet yang meluruhkan semua perasaan ragunya. Kini, tak ada lagi yang tak terlihat di Panawangan ini.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPenulis: @fiksisaja\u003Cbr \/\u003E\nFoto: @coast_abung\u003Cbr \/\u003E\nEditor: @ciamisnulis\u003C\/i\u003E\u003C\/p\u003E"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/7598464228516371428\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/09\/kurengkuh-angan-di-panawangan.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7598464228516371428"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7598464228516371428"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/09\/kurengkuh-angan-di-panawangan.html","title":"Kurengkuh Angan di Panawangan"}],"author":[{"name":{"$t":"CIAMIS info"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/05745303277002210768"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"32","height":"32","src":"\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiKOWIYf6n3O2Z_FGgSAgWkqIpfoSmWXdAb3_x1eowPGm9sOMv1xXdXbhSFX8YKvSvBcvKM-jZUum1obOm9OURIkQTu3tfyN-O4WM8EGvCa5WMyIz95q1sdOHUwWxZSqA\/s220\/logo-ciamisinfo-fix.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhr5jCKtX-ClohsTgd-Tui_YDp4BAD3ZyXoxZg6KVG1evUffjaHPT96EbqhS8kfQ5zNmpctXucd5BR52-WG6SR__Y2BXOBo1FlDsAxKcgEpK0zhCn2jErdrtzykljBUOoDg83N0HuuQQ_Gx\/s72-c\/fiksi-ciamis.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-858161952750216030"},"published":{"$t":"2021-04-03T12:54:00.006+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-09T00:21:23.942+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Kala Atiqah Merindu Rancah"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiax6pls12ypVJz55gZzZGpIdSLfPNpXgB8N1fSIqcRNwxrEv_c-Grz17z3FTaOb3rfldyotQH3ZjJxNI-3y99afGZh24fbMyWtUQcBG6TucVSSAmYUuG4vSGGbJ5rFy-zXCuSSPbIBvuEh\/s1600\/Rancah.jpg\" style=\"display: block; padding: 0px; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiax6pls12ypVJz55gZzZGpIdSLfPNpXgB8N1fSIqcRNwxrEv_c-Grz17z3FTaOb3rfldyotQH3ZjJxNI-3y99afGZh24fbMyWtUQcBG6TucVSSAmYUuG4vSGGbJ5rFy-zXCuSSPbIBvuEh\/s1600\/Rancah.jpg\" width=\"600\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E benar tidak akan pulang ke Rancah, Atiqah? Benarkah? Apa kamu sadar kalau Ibu dan Ayah pasti bakal bertambah susah mendengar rencanamu yang bikin resah? Mereka rindu kamu, Atiqah, dan makin ke sini terlihat semakin gundah. Pulanglah!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAtiqah, sejatinya, juga semakin merasa susah. Hari demi hari batinnya bertambah gelisah. Ucapan kakaknya, Teh Aisyah, membuatnya semakin yakin bahwa rencananya untuk tidak pulang mudik lebaran ke Rancah, ternyata hanya akan menambah masalah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIbu dan Ayah memang tak akan marah, karena mereka bukan tipe orang tua pemarah. Ibu terlalu lembut untuk bisa marah, bahkan dari seluruh keluarga besar, Ibu-lah yang kerap disebut sebagai sosok perempuan paling ramah. Sementara Ayah, dia seorang pendidik senior di madrasah, kesabarannya begitu melimpah-ruah. Atiqah tak pernah melihat Ayah marah, bahkan pada kondisi yang begitu susah, itu yang ia tahu dari kejadian yang sudah-sudah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBiasanya, agenda yang paling ditunggu-tunggu Atiqah setiap menjelang lebaran adalah pulang ke rumah di Rancah. Suasana bulan Ramadhan selalu membuat kerinduannya semakin membuncah. Ia tetap rindu mudik, meski Ibu dan Ayah sejak lebaran tahun lalu terus menerus menanyakan kapan ia menikah. Atiqah sadar, usianya memang cukup sudah. Apalagi ia sudah beberapa tahun bekerja setelah lulus kuliah. Kini, ia punya penghasilan yang lumayan, meski tidak berlimpah. Orang tuanya juga tak melihat ada yang kurang dalam penampilan anak bungsunya yang memang selalu berwajah cerah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E cantik, Atiqah. Ibu mah yakin banyak pemuda yang mau meminangmu di Rancah,” begitu kata Ibu saat meneleponnya di suatu malam, dan seperti biasa selepas saling menanyakan kabar lantas berujung di pertanyaan yang sama: “kapan kamu mau menikah?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAh, Rancah. Atiqah bukannya tak rindu dengan Rancah. Bahkan hatinya selalu tertaut dengan Rancah Betah. Rancah memang selalu membuatnya betah. Jika tak memikirkan tugas dan kewajibannya di tempat kerja, setiap pulang ke Rancah rasanya ia ingin menyerah dan memilih tinggal saja seterusnya di rumah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKampung halaman terasa begitu \u003Ci\u003Etumaninah\u003C\/i\u003E, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk Jakarta yang setiap hari dihadapi Atiqah. Ia selalu ingin berlama-lama di Rancah, yang dirasakannya lebih membuat hatinya \u003Ci\u003Ebungah\u003C\/i\u003E, ketimbang kehidupan metropolitan yang serba meriah, atau meskipun mulai mengenal gaya hidup mewah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSayangnya, pertanyaan tentang menikah berputar-putar di kepalanya, semakin hari semakin riuh-tendah, tak mampu dicegah Atiqah. Meski Ayah tak banyak bicara padanya, ia bisa merasakan bahwa lelaki yang sudah beranjak senja itu juga mulai resah. Ayahnya, panutannya, sangat menyayangi dirinya, anak bungsu yang terpaut tujuh tahun dari kakaknya, Teh Aisyah. Ia anak kesayangan Ayah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAtiqah juga tak mau gegabah. Ia juga tak mau kehilangan berkah. Baginya, keridaan orang tua adalah sumber segala berkah. Menjadi anak durhaka tak ada dalam kamus hidup Atiqah. Masalahnya, lagi-lagi memang sebuah masalah, ini tentang jodoh yang bukan perkara mudah. Ia tak bisa sembarang menerima hanya karena waktunya habis sudah. Seolah, karena kepepet maka harga dirinya menjadi murah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003ETerlalu pilih-pilih sih kamu mah!\u003Cbr \/\u003E\nJangan terlalu kaku, cowok-cowok jadi ogah!\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSuara-suara itu kadang singgah. Ia bahkan pernah merasa jengah. Beberapa teman baik memberitahunya, di mata mereka dia memang amat ramah, selalu berwajah cerah, tapi untuk urusan laki-laki tak pernah mau memberi celah. Ketegasannya membuat banyak peminat akhirnya menyerah. Mereka, yang sebenarnya lumayan banyak, adalah teman sekantor, sesama alumni sekolah atau kuliah, bahkan ada pula tetangga kosannya yang sebenarnya baik dan pemurah. Ia, Atiqah gadis Rancah, tetap memilih asyik dengan kesendiriannya yang semakin parah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBukannya tak pernah. Ia pernah punya Gagah, jejaka asal Rajadesa yang menjadi tambatan hatinya, yang membuatnya jatuh cinta parah. Ia mulai tertarik sejak sama-sama ikut menjadi penari pada sebuah acara yang meriah. Ia dan Gagah menjadi penari utama dalam pagelaran yang dilakukan oleh Sanggar Ringkang Pamayang, sebuah kelompok seni terkemuka dari Cisontrol, Rancah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSedemikian parahnya rasa cinta yang dimilikinya untuk Gagah, Atiqah pernah berharap lelaki itu akan menjadi pendamping hidupnya. Lalu, semuanya menjadi hancur ketika harus berpisah. Ia merasa tak diharapkan, tak cukup baik, dan terlalu rendah. Gagah memang tak pernah mengucapkan kata ‘pisah’, tetapi lelaki kurus itu seperti dibawa angin badai yang menyapu dedaunan basah. Hilang, musnah. Beberapa saat, ia sempat berharap lelaki itu akan kembali, tetapi harapannya kian melemah. Hanya saja, kesetiaannya memang tak bisa hilang dengan mudah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa akhirnya berdamai dengan kenyataan hidupnya yang tak indah, yang tak seperti panorama Puncak Bangku di Desa Situmandala, ‘negeri di atas awan’-nya Rancah. Ia sadar, jodoh tak dapat diharapkannya sebagai semacam hadiah, sebab harus ada pertemuan antara ikhtiar dengan doa yang diijabah. Namun, rasa perih akibat ditinggal kepergian Gagah, membuat kehampaan hatinya tak dapat dicegah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa menganggap Gagah sebagai panutan, sebab selalu penuh perhitungan, sopan dan sejujurnya tak pernah membuat susah. Lelaki yang ditinggal ayahnya sejak kecil itu juga tak pernah berlebihan mengumbar janji, tapi satu kalimat saja selalu membuat Atiqah begitu tergugah. Kata-kata Gagah selalu mampu menenangkan di saat hatinya gundah, dan membuat yang susah menjadi terasa lebih mudah. Atiqah yakin, bersama Gagah ia akan punya hidup yang penuh gairah, bukan kehidupan monoton yang membuat jiwa-jiwa semakin lemah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAku ingin memberimu yang terbaik. Aku harus meraih dulu mimpi-mimpiku, lalu aku akan lebih punya maruah. Barulah aku datang dan menjemputmu, Atiqah. Akan kujemput untuk sama-sama bertani di sawah, mengelola sekolah, atau berkebun buah.\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSebagian dari kata-kata pada surat Gagah, sebelum lelaki muda dari Rajadesa itu menghilang, tak pernah bisa benar-benar dimengerti oleh Atiqah. Ia melihat Gagah tak kurang apapun: baik, ramah, rajin salat, ngajinya bagus, aktif, dan pintar, meskipun bukan bintang kelas seperti Atiqah. Gagah satu tahun di atas Atiqah, lebih dewasa dan luwes bergaul, dan dikenal hingga ke kelas bawah. Atiqah juga tak pernah mempermasalahkan status sosial keluarga, saat berdekatan  dengan Gagah, sudah bukan zamannya lagi berpikir apakah kalangan atas atau bawah. Gagah memang berasal dari keluarga yang amat terbatas kemampuan ekonominya, tetapi Atiqah melihat semangatnya begitu hebat dan tak kenal lelah. Begitu kuatnya sosok Gagah, Atiqah tak pernah mampu berlama-lama dengan beberapa lelaki yang menyukainya selama kuliah. Mereka tak ada apa-apanya dibanding Gagah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ccenter\u003E***\u003C\/center\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Apa \u003Ci\u003Ebeneran\u003C\/i\u003E, kalau kita pulang kampung, nanti kita bakal dipecat, Atiqah?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSuara itu mengagetkannya, seolah ia sedang asyik berkelana di hamparan awan Puncak Bangku Rancah yang indah, lalu tiba-tiba harus kembali ke dunia bawah. Atiqah melirik pada Dinar, temannya yang sedang melihatnya dengan muka resah. Dinar sudah beberapa waktu menanyakan pertanyaan yang sama pada Atiqah. Mereka teman satu ruangan yang sama-sama sedang dihantui persoalan pulang ke rumah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Aku merasa itu cuma ancaman saja, biar kita makin jadi budak si bos pemarah,” bisik Atiqah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPersoalan di kantor inilah sebenarnya yang paling parah. Atiqah mau berdamai dengan pertanyaan tentang menikah, ia sudah pasrah. Namun, perkara ‘si bos pemarah’-lah yang membuatnya sangat susah. Ia sudah beberapa kali membuat bosnya itu marah, bahkan di depan rapat pimpinan pun Atiqah berani melawan karena merasa benar dan tak gentar menyanggah. Andai tak ada salah satu direksi yang tahu betul kemampuan Atiqah, dan selalu membela serta menyelamatkannya, ia mungkin sudah menyerah dan kalah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPerusahaan sedang berada dalam kondisi yang cukup payah. Pembukuan menunjukkan kas berjalan yang berdarah-darah dihantam wabah. Sudah cukup banyak karyawan yang di-PHK, dan si bos pemarah sangat mengincar untuk memecat Atiqah. Si bos pemarah, yang sudah beristri dan beranak itu, yang dikenal pintar tapi genit, pernah mencoba menggoda Atiqah dan ditolak mentah-mentah. Tak lama berselang, Atiqah juga tak sengaja memergoki orang itu keluar dari sebuah hotel, bergandengan tangan mesra dengan perempuan muda cantik berbaju merah. Si bos pemarah seketika pucat dan berganti arah. Atiqah hanya tersenyum kecil sambil berlalu untuk mengurus penyewaan ruangan untuk rapat direksi, dan sejak itulah sikap si bos pemarah jadi berubah. Apapun yang dikerjakan Atiqah hampir selalu dianggap salah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Pekerjaan ini harus kamu jalani dengan penuh syukur, Atiqah. Banyak yang saat ini begitu susah, \u003Ci\u003Eenggak\u003C\/i\u003E bisa \u003Ci\u003Enyiar kipayah\u003C\/i\u003E, kondisi sangat sulit karena pandemi, dan yang pasti ini teh sebuah amanah,” tutur Ayah tahun lalu, saat Atiqah pulang ke rumah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAtiqah terus memegang nasihat Ayah. Orang tua adalah pintu segala berkah. Meskipun ia merasa tersiksa dengan kondisi di tempat kerja, hatinya selalu damai jika mengingat Ayah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nHari sudah sore, hampir waktunya pulang, ketika tiba-tiba si bos pemarah singgah. Setumpuk berkas dijatuhkannya di meja Atiqah. Si bos pemarah menatap pada Dinar, teman sebelah Atiqah. Biasanya, begitu caranya bicara, tak mau menatap langsung Atiqah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Dinar, saya sudah suruh kamu kerjakan ini dari tiga hari yang lalu, tapi hasil kerjamu payah. Data-datanya masih kacau dan tidak sesuai dengan luasan denah. Senin ada rapat direksi, dan saya harus presentasikan ini, jadi saya tunggu revisinya lengkap, kerjakan sama Atiqah! Oh ya, satu lagi, kerjakan ini dengan benar atau kamu, Atiqah, boleh anggap ini tugas terakhir sebelum memilih kembali saja ke kampungmu di Rancah!” cerocosnya sebelum berlalu ke ruang bawah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDinar cepat meraih laporan itu, tampak \u003Ci\u003Eshock\u003C\/i\u003E dengan ucapan si bos pemarah. Atiqah memberi isyarat tangan, menenangkan Dinar yang gelisah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Tenang, Dinar, itu kan maksudnya aku yang harus menyelesaikan laporan rincian anggaran dan denah,” ucap Atiqah lembut dan barulah Dinar mengusap matanya yang basah.\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Si bos bergantung sama kamu, Atiqah.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAtiqah memilih menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, sambil membuka pesan Whatsapp dari Teh Aisyah. Ia berusaha melupakan sejenak urusan kantor yang siksaannya makin bertambah-tambah. Hatinya kembali diliputi kerinduan pada Rancah yang \u003Ci\u003Etumaninah\u003C\/i\u003E. Ia sudah hampir menyerah, tapi pekerjaan ini adalah amanah, kata Ayah. Ia juga tak mau pulang ke Rancah, lalu menjadi beban yang hanya membuat orang tuanya susah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa memijit tombol \u003Ci\u003Ecall\u003C\/i\u003E untuk Teh Aisyah. Tak lama, panggilannya dijawab oleh kakak kesayangannya itu, yang menjawab dengan sumringah. Atiqah bahkan merasa tak diberi waktu untuk bicara atau menjawab oleh \u003Ci\u003Eteteh\u003C\/i\u003E-nya itu. Ada untungnya, sebab diam-diam ia sedang merasa sesak dihimpit oleh tugas baru dari si bos pemarah. Ia hanya tak ingin Dinar ikut stress dan biaanya menangis sampai air matanya tumpah ruah.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EApa yang harus kamu lakukan sekarang, Atiqah? Bertahan, atau menyerah? Pulang ke rumah?\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Neng, kamu tahu \u003Ci\u003Eenggak\u003C\/i\u003E, tanah Aki Darminta yang di samping jalan yang ke arah Patakaharja, yang luas itu, iya dekat dengan kebun Ayah ... nah, tanah itu kan sudah lama ditawarkan mau dijual sama pewarisnya, dan ternyata dua hari yang lalu sudah jadi terjual, sudah sah. Ternyata yang membeli \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E teman kamu \u003Ci\u003Egeuningan\u003C\/i\u003E, dia habis pulang dari Mesir, kuliah di Al-Azhar terus dilanjut kerja, diajak temannya, di Jeddah. Sekarang sudah pulang, mau buka sekolah sama pertanian katanya, di Rancah. Kamu masih kenal si Gagah yang pinter nari itu ‘kan, teman kamu waktu sekolah? Ahhh, \u003Ci\u003Eenggak\u003C\/i\u003E mungkin lupa sama si Gagah. Teteh \u003Ci\u003Emah\u003C\/i\u003E tahu \u003Ci\u003Eatuh\u003C\/i\u003E, tahu \u003Ci\u003Episan\u003C\/i\u003E kamu, Atiqah. Dia sama ibunya malah mampir tadi pagi ke rumah, ketemu Ibu dan Ayah. Dia bilang, dua hari lagi mau datang ke rumah, sambil nengok kebunnya Aki Darminta yang sebagian mau dibangun jadi sekolah. Dia masih sendirian, Atiqah. Sayang ya, kamu enggak ada di rumah ….”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPenulis: @fiksisaja\u003Cbr \/\u003E\nEditor: @ciamis.info\u003Cbr \/\u003E\nFoto: @puncakbangkuofficial\u003C\/i\u003E\n\n\n\n\n\n\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/858161952750216030\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/04\/kala-atiqah-merindu-rancah.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/858161952750216030"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/858161952750216030"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/04\/kala-atiqah-merindu-rancah.html","title":"Kala Atiqah Merindu Rancah"}],"author":[{"name":{"$t":"CIAMIS info"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/05745303277002210768"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"32","height":"32","src":"\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiKOWIYf6n3O2Z_FGgSAgWkqIpfoSmWXdAb3_x1eowPGm9sOMv1xXdXbhSFX8YKvSvBcvKM-jZUum1obOm9OURIkQTu3tfyN-O4WM8EGvCa5WMyIz95q1sdOHUwWxZSqA\/s220\/logo-ciamisinfo-fix.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiax6pls12ypVJz55gZzZGpIdSLfPNpXgB8N1fSIqcRNwxrEv_c-Grz17z3FTaOb3rfldyotQH3ZjJxNI-3y99afGZh24fbMyWtUQcBG6TucVSSAmYUuG4vSGGbJ5rFy-zXCuSSPbIBvuEh\/s72-c\/Rancah.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-7370578611314584633"},"published":{"$t":"2021-03-21T19:38:00.006+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-09T00:21:23.943+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Menanti Melati Kembali di Sukamantri "},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi52hkPGc6AJf6f16VU_IkWoGWp823VXKKZ0KRaP2I4tZmy7Jj9r31Dmr_0B8hGLdeEAGqfyoDAIKJRBm_97_w53riyES5yrLM4IkaRaEVb2FiS4PElZNSw_u-DnStlnQb4AwLvGO19Xf1z\/s1600\/Jahim.jpg\" style=\"display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi52hkPGc6AJf6f16VU_IkWoGWp823VXKKZ0KRaP2I4tZmy7Jj9r31Dmr_0B8hGLdeEAGqfyoDAIKJRBm_97_w53riyES5yrLM4IkaRaEVb2FiS4PElZNSw_u-DnStlnQb4AwLvGO19Xf1z\/s1600\/Jahim.jpg\" width=\"600\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKabut pekat menyambutnya, saat mobil yang dikemudikannya sampai di kawasan hutan Jahim Sukamantri, tujuannya. Hari masih pagi dan belum banyak kendaraan yang lalu-lalang melewati jalur perlintasan antara Ciamis dan Majalengka tersebut. Di kejauhan, sorot cahaya lampu dari satu dua motor yang sedang melaju perlahan menembus kabut, menciptakan nuansa eksotis dan keindahan yang sedikit magis.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMobil diparkirkannya di dekat belokan penuh kenangan yang sudah lama tak dikunjunginya. Ia masih sangat hafal detail sekitar lokasi perhentian ini, dari mulai alur jalannya, belokannya, tanjakannya, kedai kopinya, sampai ke letak pohon-pohon besar yang berjejer di kiri-kanannya. Semua itu seolah terekam sebagai memori fotografik yang lekat di dalam kepalanya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSejak dulu, ia sering menyengajakan diri mencari kabut ke hutan pinus Jahim Sukamantri ini, menunggangi motor tua bapaknya yang kadang mogok di tengah perjalanan. Saat sudah menjadi mahasiswa pun, setiap sedang pulang dari Bandung, ia pasti menyempatkan diri main ke hutan ini, biasanya pagi-pagi sekali. Dulu, di sini, pernah dikatakannya pada Melati, mencari kabut adalah salah satu ‘\u003Ci\u003Eme time\u003C\/i\u003E’ favoritnya sejak SMA. Baginya, kabut selalu memberi ketenangan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKedai kopi langganannya ternyata masih ada, bertahan, dan tetap bersahaja dalam penampilan. Meski terlihat sepi, kelun asap dari bagian belakang bangunan menandakan adanya denyut kehidupan. Rasa haru menyergap batinnya, melihat wajah kedai yang nyaris tak berubah dibanding dulu. Nasibnya dan nasib kedai itu rupanya tak jauh berbeda. Hembusan napas panjang dikeluarkannya perlahan-lahan, sambil meresapi rasa bahagia dan nelangsa yang tiba-tiba muncul bersamaan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Sudah sampai kita, Mel. Turun, yuk! Sebentar, ya, aku siapkan,” katanya lembut, sambil melirik perempuan cantik tapi kuyu yang termangu di sampingnya. Sosok bermata sayu itu hanya diam, masih tetap menyandarkan kepalanya ke kaca samping, sambil memeluk tasnya erat-erat. Sejak berangkat dari Panjalu, Melati tak juga buka suara. Diamnya perempuan itu membuatnya agak kuatir.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa mengajak Melati mengambil tempat di bagian samping kedai, terpisah dari kumpulan meja dan kursi lain. Di situ, mereka berdua bisa duduk-duduk santai dan leluasa, sambil melihat rimbunnya pepohonan yang masih juga berselimut kabut, dan sesekali memperhatikan kendaraan yang lewat. Penjaga kedai segera menyiapkan kopi hitam dan teh tawar panas yang dipesannya, beserta kudapan berupa singkong rebus yang sebentar lagi matang. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Dingin kan, Mel, di sini?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nLagi-lagi, tak ada jawaban. Sesaat setelah keluar dari mobil tadi, hawa dingin langsung menyergapnya, membuatnya menyesal tak membawakan Melati jaket yang lebih tebal. Pasti dia juga kedinginan, pikirnya. Napas dari lubang hidung keluar seperti hembusan uap, mengepul-ngepul ke udara. Sementara itu, harum getah Pinus mercusii menyelusup ke rongga dada, terasa halus, lembut, dan menyegarkan. Wangi itu segera mengembalikan memorinya pada kebahagiaan yang pernah direngkuhnya di bawah pohon-pohon tinggi itu bertahun-tahun sebelumnya. Bersama Melati, tentu saja. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Masih ingat ‘kan, Mel, dulu kita pernah berkunjung ke situs Gunung Madati, di dekat sini. Iya, yang banyak batu-batu panjangnya itu. Menurut penjaganya, batu-batu itu mungkin sisa bangunan zaman dulu, sakral dan penuh makna. Rupanya, orang-orang dulu kalau datang ke sini memang ingin mendekat ke Sang Penguasa Semesta. Mungkin sama seperti kita, mencari ketenangan.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EDan kenangan\u003C\/i\u003E, lanjutnya dalam hati. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSudah cukup banyak ia bicara, tapi Melati masih tetap bungkam juga, tak bersuara meski hanya sepatah kata. Sesekali matanya hanya merespon kalau ada nyanyian burung-burung di pepohonan, atau saat kendaraan yang lewat saja. Selebihnya, sepasang mata dengan bulu mata yang lentik itu terlihat kosong. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa tak mau menyerah, dirogohnya sebuah buku berwarna merah muda dari dalam tasnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ini, Mel. Aku masih menyimpan buku harianmu yang kamu hadiahkan dulu. Ini catatanmu tentang jalan-jalan kita di Sukamantri. Coba lihat halaman ini, deh.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDiary yang disodorkannya menarik perhatian perempuan muda yang seolah tak punya gairah hidup lagi itu. Matanya sayunya tiba-tiba berbinar-binar saat melihat gambar yang ada di halaman yang ditunjukkan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Hihi, ini… ini lucu. Apa ini?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa tersentak. Suara Melati, yang merdu itu, sudah ditunggunya sejak berangkat dari Jakarta. Tante Mira, mamanya Melati, melepasnya dengan penuh harap tetapi juga khawatir putrinya hanya akan merepotkan. \u003Ci\u003ETidak apa-apa, saya akan berusaha yang terbaik, Tante, demi Mel\u003C\/i\u003E, ucapnya meyakinkan, saat berpamitan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Naah, akhirnya kamu mau bicara juga. Ini kan gambar yang kamu buat. Kamu pintar membuat lukisan, menggambar di mana-mana, aku enggak ada apa-apanya soal itu. Ini gambar Bebegig Sukamantri versi kamu, Mel. Coba diingat-ingat!” jawabnya lembut.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPerempuan itu mengernyitkan dahinya, tampak berusaha mengingat-ingat, tapi kemudian menggeleng-gelengkan kepala.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu dulu pernah jatuh di dekat kantor Kecamatan Sukamantri. Kita lagi nonton festival bebegig yang meriahnya minta ampun. Luar biasa. Waktu itu kamu begitu penasaran, \u003Ci\u003Epengen \u003C\/i\u003Ecoba pakai kostum bebegig yang paling kamu suka, dan … ternyata berat kan? Konon yang paling berat bisa sampai 60 kilogram! Kamu, iya kamu, malah mau coba pakai itu. Kamu jatuh waktu itu, lalu malah \u003Ci\u003Engakak \u003C\/i\u003Ekeras-keras,” ia terus mencerocos, tak peduli Melati yang kembali bengong, menatap ke arah jalan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Di sini dingin ya, A Wildan, tapi tak sedingin di Pyeongchang, tapi aku bahagia kok, makasih udah ngajak ke sini,” ucap Melati setelah jeda beberapa saat.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa menghela napas, menekan perasaan. Ternyata memang butuh lebih banyak lagi kesabaran menghadapi Melati yang sekarang. Kadang Melati 'datang', tapi seringkali perempuan itu 'menghilang'. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ccenter\u003E***\u003C\/center\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDulu, di hutan pinus Sukamantri ini, ia pernah membacakan satu bait puisi untuk menebus seulas senyuman manis Melati. Tak peduli tanggapan beberapa pelintas yang sedang singgah dan menghangatkan perut di kedai kopi ini, ia berdiri dan membaca puisinya dengan lantang. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EMelati puspa abadi, \u003Cbr \/\u003E\nkabut ini bawakan pesan,\u003Cbr \/\u003E\nsatu larik pertanyaan, \u003Cbr \/\u003E\nyang tak boleh kauabaikan …. \u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPuisi gombal mahasiswa tingkat akhir yang sedang galau menghadapi sidang skripsi itu nyatanya mujarab memancing seulas senyuman. Senyuman Melati, sang buah hati. Senyuman yang lalu dibawanya hingga ke alam impian. Meski tak sanggup mendatangkan gemerlap harta, tapi rangkaian kata-kata yang dikumpulkannya siang dan malam telah menjelma menjadi aset yang paling berharga. Baginya, dan untuk Melati juga. Perempuan yang dikejar banyak pemuda itu tak ragu menjawab \"iya\" saat ditanya apakah mau menemaninya hingga tutup usia. Kedai kopi dan pepohonan di Jahim Sukamantri jadi saksinya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu \u003Ci\u003Eenggak \u003C\/i\u003Eusah berpikir untuk \u003Ci\u003Engasih \u003C\/i\u003Eapa-apa, pemberianmu hanya bakal membuatku bosan dan menganggapmu sama saja seperti mereka. Aku hanya ingin mendengarmu membacakan cerita atau puisi yang indah tentang kita,” ucap Melati, seolah tahu kegundahannya. Ia merasakan sedikit perih, tapi tak berdaya untuk menyangkalnya. Ia lantas berusaha sedikit berbangga. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMelati bukan pribadi biasa-biasa. Wajahnya putih bersih, dengan sepasang mata yang tajam dan bersinar-sinar, menyiratkan antusiasme yang selalu menyala-nyala. Rambutnya lebih sering dikepang kuda, bergoyang-goyang ketika sedang berjalan, membuatnya tambah menjadi perhatian para mahasiswa. Meski terkesan tak acuh soal dandanan, nyatanya ia tetap begitu memesona.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSejak ia melihatnya pertama kali pada sebuah acara di kampus Fakultas Ilmu Budaya, sudah tampak jelas bahwa gadis itu bukan berasal dari keluarga biasa-biasa. Melati datang sambil menyetir mobil sendiri ke kampus, sesuatu yang tidak semua mahasiswi bisa melakukannya. Ia hampir tertabrak mobil gadis itu di pintu gerbang kampus, dan itu jadi perjumpaan pertama yang aneh dan tak terlupakan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSuara ban berdecit sempat mengagetkan semua orang. Ia sendiri hampir terloncat, menyadari honda jazz putih hampir saja menyerempet badannya saat terpaksa turun dari trotoar, karena ada penghalang.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Maaf ya …, mau ke atas? Masuk, ikut bareng aku \u003Ci\u003Eaja\u003C\/i\u003E, ya!” sang sopir, Melati yang putih berseri, memperlihatkan wajah bersalahnya yang tetap manis. Ia tersihir suara merdu suara dan wajah sopir cantik itu, lantas seperti kerbau dicocok hidung langsung masuk dan duduk manis di sebelahnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu \u003Ci\u003Eenggak \u003C\/i\u003Etakut, main nyuruh aku naik \u003Ci\u003Eaja\u003C\/i\u003E?” tanyanya saat sudah sadar dari keterpesonaannya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ada tiga alasan aku ngerasa \u003Ci\u003Eenggak \u003C\/i\u003Eperlu takut. Pertama, aku hampir menyerempet barusan. Maaf ya, terburu-buru dan teralihkan melihat catatan. Kedua, pembukaan kegiatan Lomba Panjat Dinding di kampusku hampir dimulai, dan kamu ini pakai seragam mapala, jadi sama sepertiku kelihatannya lagi terburu-buru juga. Pasti salah satu undangan, kan? Nah, kita satu tujuan. Ketiga, setahuku pemakai seragam yang ini baik-baik kok, Fakultas Teknik 'kan? Aku kebetulan ada beberapa kenalan juga.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJawaban itu segera menyadarkan dirinya. \u003Ci\u003ENah, ternyata ada perempuan di alam nyata yang persis sosok di dalam imajinasi puisimu, bro!\u003C\/i\u003E Tapi ia tak hendak merendahkan diri dengan terlihat terperosok ke dalam jurang keterpesonaan lagi. Gengsi! Maka ia pun mengalihkan topik pembicaraan pada toples kecil yang berada di bagian tengah bawah \u003Ci\u003Edashboard\u003C\/i\u003E.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu suka \u003Ci\u003Engemil \u003C\/i\u003Eya?” tunjuknya.\n“\u003Ci\u003EWhat?\u003C\/i\u003E Sembarangan, bukan! Itu makanan kucing. Aku suka \u003Ci\u003Engasih \u003C\/i\u003Emakan kalau \u003Ci\u003Enemu \u003C\/i\u003Ekucing yang kelaparan di jalan,” sahut perempuan, diakhiri ledakan tawanya. Benar-benar tawa yang tanpa canggung dan malu. Ia suka tawa Melati yang khas itu, bahkan tak butuh waktu lama untuk kemudian jatuh cinta. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ccenter\u003E***\u003C\/center\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPerjalanan dirinya bersama Melati Anum Bahira, mengalir mengikuti perputaran waktu, hembusan angin, buaian kata-kata dan beragam isyarat semesta. Beberapa waktu kemudian, kedekatannya dengan Melati menjadi gosip terhangat di kalangan teman-teman. Konon, perpaduan yang membuat iri dan cemburu banyak pasang mata.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMelati memang pribadi yang unik dan istimewa, memukau dirinya sejak perbincangan pertama. Sering kali, perempuan itu masih juga memberinya kejutan-kejutan yang tak terduga. Meski keseharian Melati terlihat demikian teratur dan lancar, seolah tak pernah ada kesulitan di dalam hidupnya, sebab semua berjalan serba mudah dan nyaman, nyatanya gadis itu malah suka dengan berbagai tantangan yang tak biasa, seperti lomba debat, les masak, panjat tebing dan naik gunung, misalnya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSosoknya menjadi perpaduan antara cantik, pintar, kaya, suka beraktivitas dan penyuka petualangan alam bebas. Meskipun begitu, Melati tetapi tetap luwes bergaul dengan sesama mahasiswa. Bukan hanya menjadi aktivis biasa, apalagi sekadar penggembira, sebaliknya Melati malah pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa di jurusannya, Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Jangan hanya menilai dengan apa yang ada di permukaan, bung!” canda Melati, saat mendengar pujiannya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Aku tidak akan melepaskanmu. Kita bakal terus bersama, seperti pinus dan kabutnya, di hutan Jahim yang kita kunjungi dulu,\" jawabnya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAlih-alih pipinya merona, atau tampak berbunga-bunga, Melati hanya menyahut pelan, \"Gombal!\" katanya, sambil mencubit tangannya, lalu menyandarkan kepala berambut kepang kuda itu di bahunya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa tertawa, lalu bersenandung perlahan. Senandungnya konon semerdu Aki Sasmita, kakeknya, salah satu seniman termasyhur di zamannya, itu kata ibunya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EDengkleung dengkleung déngdék, \u003Cbr \/\u003E\nbuah kopi raranggeuyan…. \u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa menghentikan senandungnya, saat merasakan tangan Melati meraih tangannya, lalu mendekatkan tangan itu ke mulutnya. Ciuman tangan itu tak pernah dilupakannya. Sebagaimana kabut yang selalu datang ke hutan Jahim, kenangan tentang ciuman tangan itu selalu kembali ke pikirannya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ccenter\u003E***\u003C\/center\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKini, diliriknya perempuan kuyu itu. Melati yang dulu dikenalnya selalu penuh semangat dan hampir tak pernah diam, sekarang tampak kurus dan layu. Tak ada lagi sisa-sisa enerjiknya yang selalu membuatnya ikut bersemangat mengarungi kehidupan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Kamu harus melanjutkan hidupmu, Mel. Kamu masih muda, hidupmu masih panjang. Kamu berhak buat bahagia …,\" ucapannya menarik perhatian Melati.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Kok A Wildan bilang gitu? Aku bahagia kok. Harus bahagia, biar Papa juga bahagia,\" jawab Melati sambil tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Iya, Papa memang pasti ingin yang terbaik buatmu, Mel. Tapi sekarang Papa dan A Wildan sudah pergi, harus diikhlaskan,\" ia berusaha mengungkapkan kata-katanya selembut mungkin, sambil mengelus kepala Melati perlahan. Namun wajah perempuan itu beriak, lalu mulai tampak panik. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Papa, Papa … ke mana, A Wildan?\" katanya gugup, sambil mencengkram sisi kursi rodanya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa mengeluarkan potongan kliping koran yang didapat dari Tante Mira, berita kecelakaan pesawat di Laut Jawa yang terjadi setahun silam. Tak ada penumpang yang selamat, termasuk papa dan suami Melati. Sejak itu Melati berubah. Ia yang akhirnya menyerah untuk mau  dinikahi Wildan, pilihan papanya, menjadi janda dan yatim secara tiba-tiba. Baru saja ia terguncang karena harus meninggalkan pilihan hatinya, lalu berusaha menjadi anak berbakti, sebab Melati sangat dekat dengan papanya, lalu tiba-tiba kehilangan dengan cara yang sangat tak terduga. Kecelakaan itu hanya seminggu setelah bulan madunya di Korea. Beberapa saat setelah itu, Melati sempat dirawat. Tante Mira menceritakan semuanya sambil menangis. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Papa dan A Wildan sudah berada dalam kasih sayang Allah. Mel harus ikhlas. Relakan, lepaskan beban ini. Kecelakaan pesawat itu ….\" \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMelati mengibaskan tangannya, membuang potongan kliping koran yang baru dilihatnya, lalu menutup telinga. Tak lama, lalu sibuk membuka tasnya, mencari-cari sesuatu. Saat Melati sudah menemukan wadah obat yang dicarinya, ia segera menggenggam tangan yang gemetaran itu. Dipeluknya perempuan yang mulai menangis itu, sambil mulai bersenandung. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EDengkleung dengkleung déngdék, \u003Cbr \/\u003E\nbuah kopi raranggeuyan…. \u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSenandungnya, yang kata ibunya semerdu senandung Aki Sasmita, mengalun di udara, menembus kabut yang mulai memudar. Suaranya indah tetapi lirih, menyambut mesra semburat cahaya matahari yang mulai menembus rimbun dedaunan. Ia baru berhenti ketika merasakan sebuah kecupan di tangan. Kecupan yang tak pernah dilupakan, seperti kabut tak pernah melupakan hutan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPenulis: @fiksisaja \u003Cbr \/\u003E\nFoto: @akmalpk_\u003C\/i\u003E\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/7370578611314584633\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/03\/menanti-melati-kembali-di-sukamantri.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7370578611314584633"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7370578611314584633"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/03\/menanti-melati-kembali-di-sukamantri.html","title":"Menanti Melati Kembali di Sukamantri "}],"author":[{"name":{"$t":"CIAMIS info"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/05745303277002210768"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"32","height":"32","src":"\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiKOWIYf6n3O2Z_FGgSAgWkqIpfoSmWXdAb3_x1eowPGm9sOMv1xXdXbhSFX8YKvSvBcvKM-jZUum1obOm9OURIkQTu3tfyN-O4WM8EGvCa5WMyIz95q1sdOHUwWxZSqA\/s220\/logo-ciamisinfo-fix.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi52hkPGc6AJf6f16VU_IkWoGWp823VXKKZ0KRaP2I4tZmy7Jj9r31Dmr_0B8hGLdeEAGqfyoDAIKJRBm_97_w53riyES5yrLM4IkaRaEVb2FiS4PElZNSw_u-DnStlnQb4AwLvGO19Xf1z\/s72-c\/Jahim.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-7317273726773665112"},"published":{"$t":"2021-03-12T23:00:00.030+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-09T00:21:23.943+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Kukejar Cinta ke Rajadesa"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi_hQCZROfZR_MAr7YTdiwR4ctQ8vTgQdd3u9YXU4nQGirL5AQyr9TsGoAdxzjAgFWvPG6G6DZk3JjkMsSx-OrlRdr8OMSyXLX3FDwPJ32P3HQx5CCbr33n2-2j-mWvisJrihTWdID4NsDb\/s1600\/Kukejar.jpg\" style=\"display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi_hQCZROfZR_MAr7YTdiwR4ctQ8vTgQdd3u9YXU4nQGirL5AQyr9TsGoAdxzjAgFWvPG6G6DZk3JjkMsSx-OrlRdr8OMSyXLX3FDwPJ32P3HQx5CCbr33n2-2j-mWvisJrihTWdID4NsDb\/s1600\/Kukejar.jpg\" width=\"600\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Beneran kamu mau pergi ke Ciamis, Jay? Kamu \u003Ci\u003Eenggak\u003C\/i\u003E serius ‘kan? Memangnya di Jakarta ini \u003Ci\u003Egak\u003C\/i\u003E ada lagi \u003Ci\u003Ecewek\u003C\/i\u003E yang bisa dipilih, sampai harus jauh-jauh datang ke kota kecil \u003Ci\u003Ekayak gitu\u003C\/i\u003E?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nReza Nathan Buana─setuju dipanggil Jay, bukan lelaki muda yang mudah menunjukkan reaksi atas sebuah ucapan, atau bahkan terhadap tindakan. Ia bereaksi hanya kalau benar-benar ingin saja. Wajahnya yang putih bersih, dengan mata coklat teduh, hidung bangir, dan alis tebalnya, hampir selalu tampak tenang. Raut muka itu lebih banyak datar dan nyaris tanpa senyuman di sepanjang waktu. Anehnya, kebanyakan gadis, alih-alih menganggapnya terlalu dingin, lebih memilih menyebutnya sebagai ‘begitu menggemaskan’. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa tetap duduk bersila di lantai teras kamarnya, seolah tak mendengar apa-apa, tetap tenggelam dalam keasyikan menata barang-barang ke dalam tas gunungnya. Tak jauh darinya, di dekat bibir kolam yang airnya selalu jernih kebiru-biruan, tiga teman terdekatnya, Dani, Rian, dan Kiki, duduk-duduk santai sambil memperhatikan. Jay tak terlalu suka dibantu saat berkemas, sementara ketiganya juga tak ingin jauh-jauh dari kopi hitam dan pisang goreng keju yang mantap. Mereka tampak bahagia, selalu demikian. Mengunjungi Jay memang pasti menyenangkan dan mengenyangkan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Serius kita ke Ciamis besok, Jay? Hoi!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nPertanyaan kedua pun hanya menghilang diserap asri dan sejuknya taman. Dani dan Rian, saling berpandangan, lantas sama-sama mengangkat bahu, sementara Kiki menggeleng-gelengkan kepala.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAku jadi pergi ke Ciamis. Rindu suasana negeri di atas awan, seperti yang pernah ramai-ramai kita kunjungi dulu. Jamiaki ya? Indah banget! Sebelum kemping, aku bakal mampir ke rumahmu. Tunggu besok hari Sabtu ya.\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay memandangi layar ponselnya untuk yang kesekian kalinya. Belum ada juga balasan DM masuk di instagramnya. Memang seperti itu biasanya, yang dikiriminya pesan akan selalu terlambat membalas, seolah-olah harus membuka dulu sejumlah buku referensi di perpustakaan sebelum mengirimkan \u003Ci\u003Ereply\u003C\/i\u003E. Itu pun, setelah menunggu lama, hanya beberapa patah kata saja jawabannya. Kadang, hanya satu kata! Memprihatinkan, tapi Jay selalu merasa tak apa-apa. Ia tetap suka, bahkan─parahnya, makin tergila-gila.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Buset, ini anak! Beneran, ya, diajak ngomong aja \u003Ci\u003Enggak\u003C\/i\u003E jawab. \u003Ci\u003ENgeselin, dah\u003C\/i\u003E!” gerutu Kiki.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Mungkin memang benar … jangan buang waktumu dengan mengajak bicara anak manusia yang sedang jatuh cinta,” timpal Dani. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTepat pada waktunya, jawaban itu akhirnya muncul juga.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EGa usah datang ke rumah. Tapi makasih. Beneran cuma rindu hamparan awan ya?\u003C\/i\u003E \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay bukan tipe yang akan melonjak kegirangan. Ia tetap tenang, meskipun sorot matanya sama sekali tak demikian, dan meski ada bunga-bunga yang bermekaran, harum mewangi di taman hatinya. Tidak, ia memang tidak butuh jawaban panjang.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Berisik saja kalian ini!” itulah ucapnya, saat akhirnya menghadap ke arah tiga temannya, “Kalian jadi ikut apa enggak? Astagaaa, gila kalian, pisang gorengnya \u003Ci\u003Edihabisin\u003C\/i\u003E?” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nKetiga temannya hanya cengengesan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kami pasti ikut,” Rian menjawab santai, “tapi jangan salah menyimpulkan. Kami semata-mata menjagamu saja, si korban cilok, cinta lokasi gegara KKN. Siapa namanya, bro? Rahma?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n***\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nRahma bukanlah sekadar nama. Jay menyimpannya sebagai impian tentang sosok gadis Tatar Galuh Ciamis yang alunan suara dan rekah senyumannya telah meluluhkan perasaan. Semua bermula pada semester sebelumnya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nIa melihatnya pertama kali saat sedang berbicara pada rapat koordinasi antar tim KKN di lokasi penempatan, sebuah desa yang sejuk di Kecamatan Panumbangan. Tim KKN dari kampusnya berjumpa dengan tim lain dari perguruan tinggi setempat. Rapat diadakan demi menghindarkan tumpang tindih program. Saat itulah, sementara ia berhasil membuat semua peserta rapat menyimak presentasinya tentang rencana aksi reboisasi, dilihatnya seorang gadis di pojok \u003Ci\u003Esaung\u003C\/i\u003E pertemuan malah tampak tak acuh dan asyik membaca sambil memasang \u003Ci\u003Eheadset\u003C\/i\u003E.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Mari kita jadikan KKN ini sebagai pembuktian, teman-teman, bahwa mahasiswa yang kadang dipertanyakan perannya dalam membangun wilayah, terutama desa, ternyata mampu memberikan solusi yang nyata dan konstruktif untuk masyarakat sekitar. Terima kasih,” Jay mengakhiri paparannya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSecara mencolok, kharisma seorang Reza Nathan Buana, ketua mapala kampus, terlihat pada saat ia ‘harus berbicara’, padahal sehari-hari ia dikenal pendiam. Usulannya dengan segera mendapat aklamasi persetujuan, sebab presentasi singkatnya begitu runtut, argumentatif dan mudah dicerna. Rapat pun berlangsung singkat saja, sebab para peserta sudah gelisah karena terprovokasi oleh wangi ikan bakar dan goreng sambal terasi. Makan bersamalah yang kemudian menjadi agenda utama. Selepas itu, Jay menemukan momen istimewa pertamanya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Aduuuh, Dewiii, kamu \u003Ci\u003Eteh enggak\u003C\/i\u003E boleh boros tisu \u003Ci\u003Ekayak gitu\u003C\/i\u003E!” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAstaga, suaranya!\u003C\/i\u003E Jay berdebar. Ia belum pernah mendengar alunan suara sehalus dan serenyah itu. Lembut tapi tetap berwibawa. Pandangannya tertaut pada seraut wajah manis berhijab ungu, dengan dagu yang lancip dan mata bercahaya, yang sekilas tadi sempat menarik perhatiannya karena tampak asyik membaca dan tak peduli presentasinya. Ia menatap gadis itu lekat-lekat.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ahh, kenapa sih, Rahma? Ini \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E tisunya kan memang disimpan di sini buat dipakai sama kita!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu enggak tahu ya berapa pohon yang ditebang hanya buat keperluan manusia \u003Ci\u003Ebikin\u003C\/i\u003E tisu? Setiap membuat satu ton tisu, kita \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E harus menebang tujuh belas pohon, lalu menyediakan dua puluh ribu galon air. \u003Ci\u003EBayangin!\u003C\/i\u003E Kita \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E harusnya ….”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay tak pernah lupa momen berikutnya. Pemilik suara renyah itu, Rahma Khatulistiwa, si mahasiswi berhijab ungu, tiba-tiba menyadari tatapannya. \u003Ci\u003ESlow motion\u003C\/i\u003E yang terjadi adalah dua pasang mata terperangkap sesaat di dalam keheningan semesta, lalu terjadi letupan-letupan singkat kembang api berwarna-warni di langit hati yang luas dan senyap. Hanya singkat saja, sebelum mata indah itu menunduk dan suaranya tercekat. Wajahnya bersemu merah, lalu dengan cepat bangkit berdiri. Ia sempat melirik lagi ke arah Jay yang entah kenapa kehilangan gaya dan terdiam saja. Pipi itu semakin merona. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ih, kamu \u003Ci\u003Emah\u003C\/i\u003E, udah ngomong \u003Ci\u003Engacapruk\u003C\/i\u003E, malah pergi. Mau ke mana, Ma?” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Cuci tangan!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTerjadilah drama berdurasi singkat itu. Potongan buah-buahan, serpihan kayumanis, \u003Ci\u003Enata de coco\u003C\/i\u003E dan sirup manis, tumpah ruah dari sebuah gelas tertendang kaki gadis yang sedang kikuk itu. Jay secara ajaib segera bergerak menyambar buku yang kebasahan, segesit saat dirinya sempat ikut mengevakuasi korban di medan operasi SAR. Sementara itu, sang gadis ngeloyor pergi diikuti temannya, Dewi, yang haha-hihi. Beberapa peserta rapat mulai berdehem dan menimbulkan suara riuh rendah bercampur tawa.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n***\n\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMomen indah kedua, terjadi tiga minggu kemudian, di suatu sore yang sejuk, saat semua peserta aksi reboisasi sudah pulang dan hanya panitia yang tersisa. Kegiatan berjalan sukses. Pak Camat, Kapolsek, dan Danramil berkenan datang. Mereka ikut menanam pohon bersama Kepala Desa, ibu-ibu PKK, para mahasiswa, pemuda karang taruna, pelajar, santri dan warga lainnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay tak suka berlama-lama beristirahat selepas evaluasi singkat. Ia mulai membersihkan sisa-sisa sampah sambil diam-diam mengeluh di dalam hatinya. Masih banyak peserta kegiatan yang membuang sampah di sembarang tempat, padahal lokasi pengumpulan sudah ditetapkan. Panitia sepakat membersihkan dan membawa semua sampah turun ke bawah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay hampir sampai ke dekat bibir tebing, lokasi dengan pemandangan terindah ke arah lembah, ketika telinganya mendengar lagi suara itu. Sebuah pohon aren besar menghalangi pandangannya, tapi ia yakin dengan sosok pemilik suara yang selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Selama tiga minggu, ia nyaris tak berinteraksi dengan Rahma, yang selepas insiden ‘gelas tumpah’ tampaknya memilih menghindar darinya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Sebenarnya aku agak kuatir, Wi.” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kuatir kenapa?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Soal penanaman pohon kopi di kaki Gunung Sawal ini \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E harus terus dicermati pelaksanaannya, biar memberi manfaat sebesar-besarnya buat penduduk, tapi jangan sampai merusak kondisi lereng gunungnya.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nAlunan suara itu tetap masih mempesona dirinya, tapi Jay tak terbiasa mencuri dengar. Ia langsung menempatkan diri di belakang dua mahasiswi yang sedang asyik memandang ke arah lembah itu.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Tapi kalau tentang pemilihan bibit pohon aren yang kita tanam, kalian setuju ‘kan?” pertanyaannya terlontar segera.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ehhh, Kang Jaaay!” Dewi langsung menyapanya dengan ramah, sementara Rahma tampak pucat, “Setuju, dong. Pohon aren kan memang bagus daya serap airnya. Ya ‘kan, Rahma? Kamu yang anak Biologi, coba \u003Ci\u003Ejelasin\u003C\/i\u003E!” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nRahma mendelik. Tak ada jawaban. Wajah yang bersih itu mulai bersemu merah lagi. Ia menatap Jay sekilas, tapi cepat-cepat menunduk sambil tersenyum tipis. Jantung Jay berdegup kencang. Senyuman itu membuat sisa kebekuan di puncak gunung es hatinya meleleh lagi dan mengalir menjadi sungai karamel yang wangi. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBukan hembusan angin lembah Gunung Sawal yang mendorong Rahma langsung bergegas menggamit Dewi pergi. Ketua Panitia Reboisasi-lah penyebabnya. Sang gadis bergerak cepat, tapi nahas, sisa tunggul kecil yang menyembul di jalan setapak menahan sepatunya. Tubuh yang agak kurus itu oleng dan kehilangan keseimbangan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSemesta lalu mencatatkan lagi kisah mereka, Jay dan Rahma, ketika rengkuhan spontan sang pemuda menahan tubuh gadis yang nyaris terguling itu. Jay cepat-cepat menarik lagi tangannya, lalu mundur selangkah, sebab ia tak sedang ambil kesempatan atau bertindak tak sopan. Sebaliknya, Rahma melesat lari melewatinya dengan rona pipi yang sudah menyerupai warna tomat matang. Hanya wangi tubuhnya yang tertinggal dan merasuk ke rongga kesadaran Jay. Mahasiswa yang selalu penuh stamina itu merasa lemas seketika.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“\u003Ci\u003ELalaunan atuh\u003C\/i\u003E, Ma! Cieee …,” Dewi menyusul sambil mengikik. Ia pamit meninggalkan Jay yang masih terkesima.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kamu nggak apa-apa, Rahmaaa?” teriak Jay kemudian. Di dalam hatinya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n***\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay tak diam saja. Sudah berbagai cara ditempuhnya untuk bisa terhubung dengan gadis pemalu itu. Dewi yang sepenuh hati mau menjadi mak comblangnya—karena Jay sering mentraktirnya bakso, seblak, dan lain-lainya. Akhirnya, beberapa informasi bisa didapatkan Jay darinya. Rahma lahir dari keluarga pendidik yang religius dan cukup ketat, dan sejak kecil sudah dimasukkan ke lingkungan pondok pesantren. Rahma qariah terbaik di pondoknya, suka membaca dan aktif di pramuka. Selepas lulus madrasah aliyah sambil mondok, Rahma memilih program studi pendidikan biologi di kampus lokal, sesuai keinginan ayahnya agar tak pergi terlalu jauh dari rumah. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay mulai berkomunikasi via instagram dengan Rahma setelah sebuah akun khusus dibuat untuk mendokumentasikan semua kegiatan KKN di desa, dan dari situlah ia tahu akun semua peserta KKN yang diwajibkan mem-follow akun KKN tersebut. Rahma menolak berkomunikasi dengan whatsapp, dengan dalih jarang dibuka, sebuah alasan yang membuat Jay tersenyum. Ia tak memaksa, padahal sudah tahu nomornya. Sudah beberapa kali pula mereka berpapasan dan hanya bertukar senyuman canggung, dan hanya sebatas itu. Tak pernah ada percakapan apalagi jalan bersama. Jay sendiri tak ingin membuat gadis kikuk itu tak nyaman. Ia cukup senang menemukan jalan istimewa. Kegemaran Rahma membaca membuat Jay memberanikan diri membawakannya sebuah buku, sehabis ia pulang ke Jakarta di pertengahan bulan. Ia sengaja memilih judul buku yang pernah diposting Rahma di instagramnya, dengan caption ‘nabung dulu’. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Terima kasih,” hanya kata itu yang didapat Jay, lewat Dewi tentunya. Buat Jay, itu lebih dari cukup. Ia bahagia.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n***\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“\u003Ci\u003ELu\u003C\/i\u003E sih, Jay, maksa ke sini. Kita sampai \u003Ci\u003Edikerubutin\u003C\/i\u003E gini!” Dani berbisik ke kuping Jay pelan-pelan. Indra dan Kiki duduk dengan muka agak tegang. Raut muka Jay sendiri seperti biasa, datar-datar saja. Di poskamling yang hanya tinggal beberapa menit jaraknya dari rumah Rahma, mereka berempat tertahan oleh para pemuda kampung yang sedang bekerja bakti. Beberapa di antaranya menatap dengan penuh curiga dan saling berbisik. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay dan kawan-kawannya menempuh perjalanan dengan kereta, dilanjutkan dengan menyewa kendaraan lokal untuk menuju ke rumah Rahma. Alamat yang didapatnya dari Dewi ternyata tidak terlalu sulit untuk dijangkau, hanya saja Jay tidak menyangka mendapat penyambutan istimewa pagi ini.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSeorang yang mungkin pimpinan para pemuda itu mencoba menenangkan suasana. Ia mengajak Jay dan teman-temannya bicara di poskamling tersebut tersebut.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Dulu pernah ada yang mencari Rahma, datang ke rumahnya. Ternyata dia \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E tukang mabuk yang sering mangkal di dekat sekolah Rahma, membuntuti sampai ke kampung ini. Rahma menolak ditemui, tapi si pemuda \u003Ci\u003Ekeukeuh\u003C\/i\u003E dan ngamuk, hampir merusak rumah. Kejadian itu membuat keluarga Rahma sempat \u003Ci\u003Eshock\u003C\/i\u003E. Sejak itu kami lebih hati-hati menerima tamu untuk Rahma,” tuturnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Maksudnya, kita ini tampang-tampang pemabuk gitu, ya? Jangan kebiasaan menilai orang dari penampilannya saja!” Dani yang agak temperamental, angkat bicara. Nadanya agak naik. Sia-sia Jay menahan dengan isyarat tangannya. Dani yang bertubuh tinggi besar dan atlet silat memang paling pemberani. Masalahnya, menghadapi belasan pemuda kampung yang sudah penuh rasa curiga, dengan golok, arit dan cangkul di tangan mereka, tentu bukan hal sederhana.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBenar saja, tiba-tiba beberapa pemuda sudah tersulut dan siap merubung Dani. Satu di antaranya bertubuh hampir sama seperti Dani, sudah mendekat dengan mata berkilat-kilat. Jay cepat loncat menengahi sambil mengangkat tangan meminta bersabar. Ketua pemuda setempat juga sama mengambil posisi menengahi percikan di pagi yang sejuk itu. Perang suara segera pecah di poskamling yang asalnya tenang dan damai.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ada apa ini?” tiba-tiba sebuah suara menghentikan keributan itu. Suara yang dalam dan berwibawa, berasal dari sesosok tubuh kurus berbaju dan berpeci serba putih, dengan sarung hijau dan memakai serban di lehernya. Laki-laki paruh baya tersebut sudah ada di antara para pemuda yang keheranan atas kemunculannya yang tiba-tiba. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Eh, ini ..., Pak Haji,” sang ketua pemuda langsung mendekat dan mencium tangan lelaki berwajah bersih penuh wibawa dan dipanggil Pak Haji tersebut. Ia kemudian berbisik-bisik kepadanya. Pak Haji terdiam sesaat, manggut-manggut, lalu duduk di poskamling sambil memegang tongkatnya. Ia memberi isyarat, memanggil Jay dengan tangannya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Sini, nak!” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBarulah Jay melangkah dan kemudian ikut duduk setelah dipersilakan. Para pemuda kampung kembali ke aktivitasnya membersihkan sekitar jalan, meski pandangan mereka sesekali melihat ke arah poskamling. Indra dan Kiki mencari tempat duduk di dekat kumpulan tas gunung mereka, sambil menenangkan Dani, ditemani ketua pemuda setempat yang juga mulai reda rasa tegangnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Betul, kamu mencari Rahma?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay mengangguk, mengiyakan, lantas menyampaikan maksud kunjungannya untuk mengirimkan buku-buku yang sudah dipersiapkannya sejak beberapa hari yang lalu. Ia sudah mengemas beberapa novel dan sebuah buku tebal bertema biologi yang pernah diposting Rahma sebagai impian lain yang belum dapat dimilikinya. Jay menunjukkan bungkusan buku-buku tersebut. Pak Haji sejenak tertegun, lalu tersenyum. Jay dapat merasakan tatapan orang tua tersebut menembus ke dasar hatinya, terasa bijak, damai, dan teduh. Ia menaruh hormat meskipun Pak Haji tak banyak bicara.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Sepertinya Rahma belum dapat kamu temui di rumahnya saat ini. Bapak pernah muda seperti kamu, dan kagum dengan perjuanganmu jauh-jauh dari Jakarta ke sini hanya untuk mengantarkan buku-buku ini. Biar tidak berat, buku-buku ini biar Bapak yang memberikannya nanti pada Rahma, itu pun kalau kamu percaya. Kasihan kalau dibawa lagi, berat, dan ini sepertinya mau kemping, ya?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Aduh, jadi merepotkan. Tentu saya percaya sekali. Iya, betul kami mau berkemah. Terima kasih atas bantuan Pak Haji dan mohon maaf sudah membuat keributan pagi-pagi.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Tidak apa-apa, Bapak \u003Ci\u003Engerti\u003C\/i\u003E, darah muda memang begitu. Atau kamu dan teman-temanmu mau ke rumah Bapak dulu? Istirahat dulu, ngopi? Kopi Rajadesa enak sekali!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ah, tidak, Pak. Tidak usah. Terima kasih banyak. Kami langsung pamit saja ….”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\n***\n\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSebenarnya Jay cukup kecewa, sebab ia tak sampai ke rumah Rahma untuk menuntaskan kerinduannya. Namun mengingat insiden yang hampir terjadi, dan mereka berempat selamat, maka perasaannya cukup lega dan bersyukur tak terjadi apa-apa. Mereka akhirnya beristirahat sejenak di dekat Masjid Besar Baitulhuda yang megah di pusat Kecamatan Rajadesa. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Sabar ya, Jay,\" Kiki menghiburnya. Wajahnya tulus, meski pandangannya segera beralih pada warung bakso di seberang jalan sana. Jay tersenyum sambil menepuk bahu sahabatnya yang tukang makan tetapi ajaibnya tak pernah gendut itu.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"It's ok. Aku \u003Ci\u003Eenggak\u003C\/i\u003E apa-apa, bro. Ayo kita ke rencana semula, ke Puncak Jamiaki yang kabutnya indah di pagi hari itu.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDani dan Indra saling berpandangan. Inilah yang selalu mereka kagumi dari Reza Nathan Buana. Meski sedang sedih sekalipun, ia pasti tetap memperhatikan teman-temannya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Aku sudah kirim foto kamu yang lagi ngobrol sama Pak Haji di poskamling tadi via WA, Jay,” Dani menunjukkan ponselnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ok, \u003Ci\u003Emakasih\u003C\/i\u003E, bro.”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay segera mengirimkan foto itu melalui DM ke Rahma.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EAku sudah sampai ke poskamling di dekat rumahmu, tapi terhalang \u003Ci\u003Ebodyguard\u003C\/i\u003E-mu yang satu kompi. Ini buktinya, dan aku sudah titipkan oleh-olehku buatmu lewat Pak Haji. Aku langsung ke Puncak Jamiaki ya. Doakan.\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSosok yang wajahnya lembut dan imut itu, yang dagunya lancip dan sikapnya kerap kikuk, yang matanya indah dan suaranya mengalun merdu, yang renyah tapi tetap berwibawa, terus terbayang saat Jay membereskan lagi bawaannya. Tas gunungnya terasa lebih ringan setelah buku-buku tadi dikeluarkannya. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSelepas istirahat, mereka akan langsung bergerak ke Panumbangan. Jay berniat mencari tempat makan dulu untuk mentraktir makan teman-temannya, ketika tiba-tiba sebuah teriakan memanggilnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kang Jaay! Waaah, jadi juga ternyata ke sini, ya? Luar biasaaa!”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nDewi, si mak comblang ceria, ternyata baru saja turun dari kendaraan, sudah berada di depannya dengan setelan baju lapangan, ditemani teman-temannya yang langsung Jay kenali wajah-wajahnya. Mereka bersembilan adalah teman-teman KKN Rahma.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\"Loh, kok... ke sini juga, Wi?\" \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Iya, kita datang semua dong, Kang Jay. Seperti reunian kan?” Dewi mengakhiri pertanyaannya dengan tawa. Kedua rombongan saling bersalaman. Kiki, Indra, dan Dani langsung bersemangat bertemu gerombolan yang didominasi para mahasiswi tersebut. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ini mau pada ke mana sih?” Jay penasaran.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Kita mau kemping di puncak Upsa Rahong, salah satu ‘negeri di atas awan’-nya Ciamis juga yang nggak kalah indahnya dibanding lokasi-lokasi lain. Rahma \u003Ci\u003Engajakin\u003C\/i\u003E datang ke sini, dia kebetulan lagi jadi kakak pendamping di acara pramuka madrasahnya dulu. Sekalian tim KKN diajak reunian, katanya. Kang Jay diundang juga pastinya, ya ‘kan? Duuh, romantisnya ....”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nJay merogoh ponselnya, sementara Dani, Indra dan Kiki mulai keheranan.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003ESudah aku bilang, jangan ke rumah. Aduh, kok \u003Ci\u003Epake\u003C\/i\u003E ketemu bapakku di poskamling segala siih.\u003C\/i\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nBerbeda dengan biasanya, yang hanya satu dua patah kata saja, jawaban Rahma semakin mengalir lancar, bahkan diakhirinya dengan emotikon tawa. Jay tertegun. Ada letupan-letupan kembang api perayaan yang kembali bergema di langit hatinya. Sungai karamel yang mewangi, bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran di taman hati, kini semakin jelas gambarannya. Hanya saja, Jay adalah Jay. Wajahnya datar-datar saja. Ia tetap tenang sambil melanjutkan menata bawaan ke dalam tas gunungnya.\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Eh, bro, \u003Ci\u003Egimana\u003C\/i\u003E ini? Jadinya kita ke mana?”\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EKarya: @fiksisaja\u003Cbr \/\u003E\nFoto: @dzikky\u003Cbr\/\u003E\nEditor: @ciamisnulis\u003C\/i\u003E\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/7317273726773665112\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/03\/kukejar-cinta-ke-rajadesa.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7317273726773665112"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/7317273726773665112"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2021\/03\/kukejar-cinta-ke-rajadesa.html","title":"Kukejar Cinta ke Rajadesa"}],"author":[{"name":{"$t":"CIAMIS info"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/05745303277002210768"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"32","height":"32","src":"\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiKOWIYf6n3O2Z_FGgSAgWkqIpfoSmWXdAb3_x1eowPGm9sOMv1xXdXbhSFX8YKvSvBcvKM-jZUum1obOm9OURIkQTu3tfyN-O4WM8EGvCa5WMyIz95q1sdOHUwWxZSqA\/s220\/logo-ciamisinfo-fix.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEi_hQCZROfZR_MAr7YTdiwR4ctQ8vTgQdd3u9YXU4nQGirL5AQyr9TsGoAdxzjAgFWvPG6G6DZk3JjkMsSx-OrlRdr8OMSyXLX3FDwPJ32P3HQx5CCbr33n2-2j-mWvisJrihTWdID4NsDb\/s72-c\/Kukejar.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-3203861861200145499"},"published":{"$t":"2019-07-11T09:06:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-09T00:21:23.943+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Hujan Sore Hari"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiddoZtI-LX88NK2SWAuD34PB4dYOCmP__tmtlJKb4eqtuI0hJh6b9W3i5yhxXrolcwmF2JIGFpRBZlUQi0PkoaFGVaOxaJ1rIzEVvNQzQsYFUtMz1T4n444gczUl4zFrc6AuibFAkkdA0t\/s1600\/Hujan.png\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 0em; margin-right: 0em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiddoZtI-LX88NK2SWAuD34PB4dYOCmP__tmtlJKb4eqtuI0hJh6b9W3i5yhxXrolcwmF2JIGFpRBZlUQi0PkoaFGVaOxaJ1rIzEVvNQzQsYFUtMz1T4n444gczUl4zFrc6AuibFAkkdA0t\/s1600\/Hujan.png\" width=\"400\" height=\"300\" data-original-width=\"1440\" data-original-height=\"1080\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\"Kamu pikir aku ini apaaa, Daniii?\" teriak Winda histeris. Kekesalannya meluap. Air mata bercucuran membasahi pipinya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSore terasa begitu panjang baginya. Hujan di luar masih amat deras dan langit Kota Manis tak juga berubah warna gelap pekatnya. Rumah terkunci rapat. Entah di mana kuncinya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Aku mau pulang!\" ucap Winda ketus.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDani bergeming. Ia terduduk di lantai ruangan yang dingin. Tersudut. Kakinya ditekuk, kedua tangannya memegang kepala. Ribuan sesal bersarang di sana, menghimpit ruang pikirnya. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBagaimana bisa, ia melakukan hal yang benar-benar melukai Winda, belahan jiwanya. Betapa bodohnya. Ia telah melanggar janji untuk selalu menjaga perasaan perempuan itu sepenuh hatinya. Tapi sekarang, ia malah gegabah. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Buka pintunya! Atau aku teriak sekerasnya?\" Winda mulai mengancam. Watak asalnya muncul kembali. Benar saja, tak lama kemudian ia mulai berteriak-teriak. Dani terlonjak. Ia segera bangkit dan berusaha menghentikan Winda.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Wiiin! Berhenti teriak! Atau aku…,\" ancam Dani. Kedua tangannya meraih bahu Winda. Ia yang sedari tadi berusaha menahan diri, akhirnya geram juga. Winda menepis, tak memedulikan ancaman, karena memang bukan tipe penakut. Ia lantas sibuk mencari-cari kunci.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Aku akan membuka pintu itu, tapi aku minta satu hal…,\" Dani berusaha keras merendahkan suaranya, \"tolong lupakan soal tadi. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi.\"\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nWinda terdiam, memilih duduk di kursi dekat jendela, menatap hujan. Pandangannya sayu, berkaca-kaca. Ada yang kembali menetes dari sudut matanya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMasih lekat di ingatannya, Dani memuji perempuan lain. Tak sengaja terbaca di layar \u003Ci\u003Ehandphone\u003C\/i\u003E. Hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Padahal selama ini kebersamaan mereka baik-baik saja. Hanya dia yang menjadi satu-satunya perempuan yang dipuji Dani. Dia selalu mengusahakan semua yang terbaik untuk lelaki itu. Tidak pernah sedikit pun dia biarkan lelaki itu memikirkan orang lain.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Winda, dengarkan aku dulu. Aku minta maaf. Aku janji gak akan mengulangi lagi...,\" suara Dani penuh kesungguhan, tapi lebih terdengar memelas.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nBagaimanapun, janji di depan penghulu dua tahun lalu telah membuat Dani membulatkan tekad untuk tetap bersama, apapun yang terjadi. Setemperamental apapun istrinya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Itu cuma revisi dialog di naskah yang dia minta, sayang… bagian itu rayuan untuk Diah Pitaloka. Sandiwara Perang Bubat. Cuman aku lupa ngasih tahu kamu….\" \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDani tertunduk lesu, tangannya lemah pegangi sudut kursi. Winda bertahan memilih duduk dan diam, mencoba mencerna ucapan suaminya, sembari memandangi langit yang semakin deras menumpahkan tangisannya. Kilatan petir sesekali menyambar. Sejenak, keduanya lebih memilih untuk menahan lisan. Sama-sama berharap pertengkaran segera usai.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Dani...,\" guman Winda perlahan, hampir tak terdengar, bersaing dengan suara hujan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Hmmm… apa?\" suara Dani sudah terdengar normal lagi. Lembut. Kelembutan yang sejak dulu meluluhkan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\"Aku gak jadi pulang ke Rancah…, Mamah pasti sedih melihat anaknya pulang sendiri,\" suara Winda berlanjut hembusan napas panjang. Ia sudah memilih antara percaya atau tidak. Pipinya bersemu merah terkena pancaran cahaya lampu di pojok ruangan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDani mendekatkan wajahnya ke telinga Winda. Dengus napasnya terdengar jelas. Tangan kanannya menjulur ke kaca jendela yang berembun karena tampias. Ia menuliskan tiga kata dengan telunjuknya. Bibir Winda merekah. Matanya berbinar-binar.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAdzan magrib berkumandang, bersahutan dengan suara hujan. Hujan yang kini terasa tenang. Sebab kunci pintu tak lagi dicari oleh mereka yang mengurung diri. Ciamis semakin dingin. Kisah ini tak pernah terjadi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EFiksi pendek Diantika IE\u003Cbr \/\u003E\nKetua Umum KPKers (Komunitas Penulis Kreatif) \u003Cbr \/\u003E\nAsli Ciamis\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/3203861861200145499\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2019\/07\/hujan-sore-hari.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/3203861861200145499"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/3203861861200145499"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2019\/07\/hujan-sore-hari.html","title":"Hujan Sore Hari"}],"author":[{"name":{"$t":"CIAMIS info"},"uri":{"$t":"http:\/\/www.blogger.com\/profile\/05745303277002210768"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"32","height":"32","src":"\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiKOWIYf6n3O2Z_FGgSAgWkqIpfoSmWXdAb3_x1eowPGm9sOMv1xXdXbhSFX8YKvSvBcvKM-jZUum1obOm9OURIkQTu3tfyN-O4WM8EGvCa5WMyIz95q1sdOHUwWxZSqA\/s220\/logo-ciamisinfo-fix.png"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEiddoZtI-LX88NK2SWAuD34PB4dYOCmP__tmtlJKb4eqtuI0hJh6b9W3i5yhxXrolcwmF2JIGFpRBZlUQi0PkoaFGVaOxaJ1rIzEVvNQzQsYFUtMz1T4n444gczUl4zFrc6AuibFAkkdA0t\/s72-c\/Hujan.png","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-5000596757213774416"},"published":{"$t":"2019-03-29T09:31:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-13T22:08:34.215+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Tetap Kutunggu Kamu di Desaku"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ePmxUetUYY8\/XJ2CG4KZb5I\/AAAAAAAAT6U\/57Tj4GtjXtkoDCjJzZRExsNzF8OjFKeLgCLcBGAs\/s1600\/Diantika.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"margin-left: 0em; margin-right: 0em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" data-original-height=\"960\" data-original-width=\"1280\" height=\"480\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ePmxUetUYY8\/XJ2CG4KZb5I\/AAAAAAAAT6U\/57Tj4GtjXtkoDCjJzZRExsNzF8OjFKeLgCLcBGAs\/s640\/Diantika.jpg\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cdiv style=\"text-align: center;\"\u003E\u003Ch3\u003ESebuah cerpen, karya: Diantika IE\u003C\/h3\u003E\u003C\/div\u003E\u003Cbr \/\u003E\nHujan sore ini begitu deras, menimbulkan tampias di kaca jendela. Angin dingin berhembus, menusuk pori. Kuangkat kaki naik ke kursi, menghindari dingin dari ubin yang merasuk ke telapaknya. Bertahun-tahun kutinggalkan kampung halaman, rasanya sulit kembali beradaptasi dengan suhu Panawangan. Desa Indragiri yang terletak di dataran tinggi pegunungan Ciamis utara, cukup membuatku sering malas mandi ketika pulang kampung. Ah, mungkin itu alasan klasik ketika aku terpaksa hanya mandi satu kali sehari. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Hayu disimbut!” ajak adikku sambil berlalu. Kujawab dengan senyum dan gelengan kepala. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAyah dan Ibu sedang menghadiri undangan di desa sebelah. Adikku lebih asik di kamar bersama selimut dan ponsel pintarnya. Aku memilih tetap duduk di ruang tengah, menghadap kaca jendela berukuran besar. Dari sana aku bisa menikmati hamparan hijau rerunputan di halaman rumah yang lumayan luas. Di sudut kanan halaman, tumbuh subur pohon kedondong yang sedang berbuah lebat, pasrah dicumbui rintik hujan. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDaun-daun yang basah segar menyejukkan, lebih menarik kunikmati daripada hanya berdiam diri di balik selimut dalam kamar yang terkungkung tembok.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAku menggosok-gosokkan kedua telapak tangan sebagai usaha menghangatkan tubuh. Sebuah kebiasaan yang kulakukan jika gigil menyerang tak tertahankan. Ilmu itu kudapat dulu, saat aktif di organisasi PMR SMAN 1 Ciamis. Seorang senior mengajariku melakukannya beberapa tahun silam.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nJaket tebal pemberianmu setahun yang lalu, kini kukenakan. Namun gigil ini tak juga pergi. Kopi putih yang kuseduh masih mengepul. Asapnya jelas terlihat. Wanginya merasuk menusuk hidung, memberi kesan tenang. Perlahan kureguk, berharap hangat itu akan segera datang.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTentang kopi dan hujan, ada seseorang yang selalu kurindukan. Termasuk saat ini. Dia adalah rindu yang selalu bersarang, tak pernah pergi dari benakku. Dia adalah mimpi yang lebih kerap kupercayai tak akan akan bertemu perwujudannya. Dia, sosok paling menyenangkan yang pernah kuketahui. Sosok lengkap yang selalu bisa menjadikanku merasa sempurna. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nNamun, dia juga sekaligus pembohong terbesar yang pernah kukenal. Sayangnya, dia adalah kamu. Laki-laki yang selalu ingin aku jadikan suami. Kamu, yang pernah berjanji akan berkunjung ke rumah ini. Rumah yang, katamu, selalu ingin kamu datangi dengan sejuta harap. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSederet cita-cita telah kita bicarakan, seandainya kita akhirnya hidup bersama. Kamu bilang, ingin membuka usaha perkebunan palawija, ingin memiliki kolam yang luas, membeli sawah dan apapun yang bisa dilakukan di pedesaan. Yang termanis…, hidup bersamaku sampai hanya ajal memisahkan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKamu bilang, ingin menepi dari bisingnya kota. Hidup di sana sudah sangat membuatmu muak. Otakmu sudah panas, memikirkan pekerjaan yang tidak ada ujungnya. Memenuhi permintaan orang lain, seolah kaulah yang paling memiliki tugas menyenangkan mereka. Kamu lelah, kamu ingin bebas dan merasakan kedamaian alam pedesaan. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nNamun nyatanya, sampai saat ini kamu belum benar-benar datang. Kamu masih sibuk dengan pekerjaan-pekerjaamu. Menyenangan orang lain. Termasuk menyenangkan seseorang yang katamu telah menyakitimu. Aku anggap itu adalah kebohonganmu yang kedua. Saat kau begitu sedih, karena merasa telah disia-siakan, kamu datang padaku dengan penuh harap. Kamu bilang aku bisa menyembuhkan luka sampai benar-benar sembuh. Tapi ternyata setelah kuat, kamu memilih kembali kepadanya, meski katamu hanya sesekali saja. Aku menjadikanmu satu-satunya, tapi kamu jadikan aku hanya sebagai salah satunya. Aku… hanyalah sebuah pilihan. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAku tak mengapa. Jika misal kamu tidak jadi datang ke sini menemui kedua orang-tuaku. Namun jangan salah, ada benih yang tumbuh subur, telah terlanjur kamu semai di tanah hatiku yang gembur. Kamu menanam harap. Kamu menyemai cinta. Ya, aku kini mencintaimu dan tidak bisa kupungkiri betapa sering kuberharap jika kamu benar-benar datang ke sini. Membangun rumah sederhana di tanah yang lapang. Dikelilingi tanaman sayur, TOGA, buah-buahan, dan bunga-bunga indah yang kusuka. Tahukah kamu, cinta ini tak bertepi dan tidak akan pernah habis?\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nTak terasa, derai hangat mengalir membasahi pipi. Mengingat semua tentangmu  memang selalu berhasil membuat air mataku meluncur tanpa permisi. Banyak yang tak terkendali karena kamu. Bahkan, kamu sendiri tidak tahu, alasan kepulanganku ke sini juga karena aku merasa kecewa terhadapmu. Entah sampai kapan aku di sini. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nAku ingin mengasing. Tanpa gadget, tanpa kabar darimu, tanpa melihat postingan instagram miliknya yang sengaja kuikuti. Mengikuti dan menyimak postingan dia memang kebodohan terbesar yang kulakukan. Terkadang aku hanya ingin tahu apa saja yang sudah kalian lakukan di luar sana. Tetapi, aku sering merasa bahwa hatiku retak-retak setelah melihatnya. Ah, aku memang aneh.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKopi di gelas tinggal setengah, sudah dingin. Gigil di tubuh tidak terasa lagi. Dingin yang teramat sangat, kini berpindah ke dalam sini, di relung hati. Kehadiranmu dan ketiadaanmu adalah harapan dan kenyataan yang saling bertentangan. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nHujan mulai mereda. Jingga mulai hinggap di ufuk barat. Ayah dan Ibu tiba, saat gerimis kecil di mataku masih tersisa. Kini kutahu, cara terbaik agar desaku selalu terasa hangat dan nyaman adalah dengan kehadiranmu di sini. Di sisiku. Di rumah impian kita. Aku akan tetap menunggumu…, meski kehadiranmu hanya sebatas mungkin. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003E*Penulis adalah perantau asal desa Indragiri, Panawangan, Ciamis. Hobi menulis sejak duduk di bangku SMP. Bisa ditemui di akun FB-nya dengan nama Diantika IE, fanpage FB Ruangpena Diantika IE, instragram @diantika.i.e atau di webnya ruangpena.com.\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/5000596757213774416\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2019\/03\/tetap-kutunggu-kamu-di-desaku.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/5000596757213774416"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/5000596757213774416"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2019\/03\/tetap-kutunggu-kamu-di-desaku.html","title":"Tetap Kutunggu Kamu di Desaku"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-ePmxUetUYY8\/XJ2CG4KZb5I\/AAAAAAAAT6U\/57Tj4GtjXtkoDCjJzZRExsNzF8OjFKeLgCLcBGAs\/s72-c\/Diantika.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-6681849284643605636"},"published":{"$t":"2014-05-28T11:03:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-13T22:09:29.971+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Suatu Malam untuk Jagadalu dan Ki Tempang"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Ca href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-01KCpbTooik\/U4Ve8xU2uQI\/AAAAAAAALsY\/yCLuDP9vV9g\/s1600\/jagadalu-ki-tempang-ciamisinfo.jpg\" imageanchor=\"1\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 0em; margin-right: 1em;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-01KCpbTooik\/U4Ve8xU2uQI\/AAAAAAAALsY\/yCLuDP9vV9g\/s200\/jagadalu-ki-tempang-ciamisinfo.jpg\" \/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003EPertengahan malam. Sedari punggung bukit ia sudah memperhatikan. Ketika, sebagaimana biasanya, ia berkeliling menjalankan kewajiban. Mereka, ketiga orang itu, tampak melanjutkan perjalanan dengan langkah-langkah pasti, menapaki turunan, menuju arah perkampungan. Sesekali, melewati dedaunan, semak-semak dan rambatan tetumbuhan liar. Hingga akhirnya berhenti, di bawah rerimbunan pohon yang menyembunyikan kehadiran. Terdengar gumam percakapan.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Sudah dekat. Hati-hati. Siapa tahu ada ronda malam!” “Alaaah, biar aku yang urus. Kuhabisi sekalian!” “Dasar dungu, bisamu hanya membunuh, menyembelih leher orang. Pakai otak! Apa jadinya kalau orang sekampung mengepung kita?” “Kamu takut? Dasar nyalimu memang kerdil! Kalau mau meniru gerombolan, harus tega, jangan pakai perasaan....” “Heh, kalian berdua, dasar sama-sama bodoh! Jangan ribut! Sudah, ayo. Jangan lupa, pilih rumah paling besar, siapa tahu malam ini kita bisa dapat duit dan perhiasan sekalian.”\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMereka bergerak lagi. Tiga pasang mata semakin tajam. Tangan mereka sudah memegang gagang senjata masing-masing. Semakin dekat. Ketegangan semakin memuncak. Tubuh mereka semakin basah oleh keringat. Tiba-tiba, langkah mereka tercekat. Samar-samar, sesosok bayangan tampak menghadang. Ia, yang sedari tadi terus membuntuti ketiga orang itu, sudah melesat dan berdiri tegak.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Terima kasih, Ki Tempang. Inilah kewajiban kita, menjaga tapal batas Rajadésa ini. Jagadalu tidak bisa apa-apa tanpamu. Sekali lagi, terima kasih. Ia membelai, mengusapkan telapak tangannya perlahan. Suara auman membahana, membangunkan lelap malam. Sosok harimau hitam memancarkan sorot matanya yang menyala. Ekornya bergerak-gerak, seolah mengejek mereka yang hanya bisa terbelalak. Tiga jasad yang berteriak tanpa suara, ditikam oleh ketakutan yang amat sangat. Terapung-apung dalam kemarahan air sungai yang meluap-luap, ke arah hilir.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nKesunyian lantas datang menghampiri perkampungan. Angin sepoi menyambut bulan yang tiba-tiba datang. Arak-arakan awan menghilang seirama lenyapnya sorak-sorai kemenangan. Dua bayangan berjalan perlahan, di bawah sorot temaram Dewi Malam, memantulkan jutaan pesona kegagahan. Lalu, mereka melesat. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nJagadalu dan Ki Tempang melintasi jaman, dalam rangkaian kata-kata dan dongeng malam, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi lainnya. Generasi yang semoga tak makin melupakan."},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/feeds\/6681849284643605636\/comments\/default","title":"Posting Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2014\/05\/suatu-malam-untuk-jagadalu-dan-ki.html#comment-form","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/6681849284643605636"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/6681849284643605636"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2014\/05\/suatu-malam-untuk-jagadalu-dan-ki.html","title":"Suatu Malam untuk Jagadalu dan Ki Tempang"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-01KCpbTooik\/U4Ve8xU2uQI\/AAAAAAAALsY\/yCLuDP9vV9g\/s72-c\/jagadalu-ki-tempang-ciamisinfo.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-6149857884150355967"},"published":{"$t":"2014-01-08T17:12:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2021-09-13T22:09:15.632+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Rambut Putih Ibunda"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both; text-align: center;\"\u003E\u003Cimg border=\"0\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" height=\"360\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEgvDR9wy2yW2LkmxyBfFWQBXi7bdLi3KFRmmskd1W2qDZtX99Ec4RRRwFI4fM_xFlgobaL8YTtTfcG956dZmJ27Q4C6fy8ucT2Yj7dCKA9zcUep3a_TYDlbAQy7uddjpTkjpx4ywzx71FRa\/w640-h360\/Putih.jpg\" width=\"640\" \/\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003EAngin sore yang sejuk menentramkanku. Orkestra lengkingan anak-anak terdengar bersahut-sahutan. Sebuah harmoni. Dunia bermain mereka pastilah mengasyikkan. Tapi Si Bungsu, Fairuz, tiba-tiba saja datang. Tak biasanya. Seolah riuh-rendah dari arah lapangan tak menarik hatinya. Padahal biasanya dia bermain sampai lupa waktu bersama ‘geng krucil’-nya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Kok,  udah pulang, De?” tanyaku. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nMalaikat kecil itu cuma tersenyum, menaruh kepalanya di pangkuanku dan berbaring, bermanja-manja. Kubelai rambut hitam pekatnya dan seketika desir haru menyeruak ke dalam dadaku.\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003ECukup lama menanti kehadirannya, berselisih lima tahun dengan kakak satu-satunya. Kuakui, kegembiraan atas kehadirannya kadang menjelma menjadi sikap yang membuat ‘Teteh’-nya merengut iri. Bunda \u003Ci\u003Emah\u003C\/i\u003E lebih sayang Ade, protesnya sesekali. Kalau sudah begitu, Amira kupeluk erat dan kubujuk-bujuk, hingga senyum indahnya mekar kembali.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Bun …, kenapa rambut Bunda \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E ada yang putihnya sih?” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nTangan kanannya meraih rambutku. Aku mengernyit sejenak. Satu dua warna putih memang terselip di sana. Bunda sedang beranjak tua, De ... ah, tidak, jangan kalimat suram itu jawabannya. Duh, pertanyaanmu itu, Nak, kenapa kadang-kadang \u003Ci\u003Engagetin\u003C\/i\u003E Bunda sih? Otakku segera bekerja keras menyusun kata-kata.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Mmmm, gara-gara Ade \u003Ci\u003Esih\u003C\/i\u003E....” \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nSontak, dia menggeliat dan mengambil posisi duduk, lalu menatap polos penuh keseriusan. Kusentuh hidung kecilnya perlahan, membiarkannya semakin tak sabar menanti penjelasan. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\n“Ini \u003Ci\u003Eteh\u003C\/i\u003E setiap satu kali Ade nakal sama Bunda, ada satu rambut Bunda yang berubah jadi putih, De ...,” candaku, berpura-pura.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nIa nampak berpikir keras, mengabaikan penjelasan ‘bla-bla-bla’ yang kusampaikan sambil mengagumi paras tampannya. Aku berbisik sendiri di dalam hati, “Kamu nakal seratus kali sehari pun, \u003Ci\u003E‘nggak\u003C\/i\u003E apa-apa, Nak!” Padahal, dia sama sekali tidak nakal!\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Ade tahu sekarang ...!” tiba-tiba suaranya membahana, diiringi acungan telunjuk kanan menirukan gaya guru TK-nya.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“Apa, Sayang?”\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n“\u003Ci\u003EPantesan\u003C\/i\u003E rambut Enin putih semua! Bunda nakal banget ya sama Enin?” tanyanya tak terduga.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nSungguh, kalimat yang tak terduga. Ada yang menjalar dengan cepat di dalam hatiku, seirama dengan hadirnya bayangan Mamah nun jauh di Ciamis sana, di kampung halaman tercinta. \n\u003Cbr \/\u003E\u003Cbr \/\u003E\nYa Allah, malaikat kecilku tiba-tiba saja mengantarkan kelembutan nasihat-Mu yang menggetarkan dada. Fairuz segera terjebak dalam dekapan, ketika butiran-butiran hangat tak terbendung lagi dari mataku, meleleh dari sudut-sudut kerinduan yang berujung doa. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cspan style=\"font-size: small;\"\u003E\u003Ci\u003E(ditulis @ciamismenulis, terinspirasi tulisan 'Seorang Anak dan Ibunya')\u003C\/i\u003E\u003C\/span\u003E\n\n\n\n\n\n\n\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/6149857884150355967"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/6149857884150355967"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2014\/01\/rambut-putih-ibunda.html","title":"Rambut Putih Ibunda"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEgvDR9wy2yW2LkmxyBfFWQBXi7bdLi3KFRmmskd1W2qDZtX99Ec4RRRwFI4fM_xFlgobaL8YTtTfcG956dZmJ27Q4C6fy8ucT2Yj7dCKA9zcUep3a_TYDlbAQy7uddjpTkjpx4ywzx71FRa\/s72-w640-h360-c\/Putih.jpg","height":"72","width":"72"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-7834720731142953755.post-2623830240194363739"},"published":{"$t":"2013-08-28T23:42:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2021-11-14T06:08:01.260+07:00"},"category":[{"scheme":"http://www.blogger.com/atom/ns#","term":"fiksi ciamis"}],"title":{"type":"text","$t":"Malam Kudeta di Tengah Kota"},"content":{"type":"html","$t":"\u003Cdiv class=\"separator\" style=\"clear: both;\"\u003E\u003Ca style=\"display: block; padding: 0; text-align: center; \"\u003E\u003Cimg alt=\"\" border=\"0\" width=\"600\" data-original-height=\"900\" data-original-width=\"1600\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/a\/AVvXsEhHNTosojzxS20accft2x5h8ZEd10Z36HbpgIg8Np0jB6mAH0w1Aac5txWJ-msXwy9otdbudC2n4s9RIM4xvQL379tDXBq0I7PAdictToqWPRLKsMYKn5H6BI-tvflYtXRbyGe1JT7ipvZnOmt1DSlE0_EQn1bwYV-WZpO44BuSphPfXQOejwyHsMbnmQ=s1600\"\/\u003E\u003C\/a\u003E\u003C\/div\u003E\n\u003Cbr\/\u003E\nMalam menyergap langkah mereka. Puluhan orang bersenjata, berwajah tegang, dan nampak mabuk karena buaian angan-angan kesamarataan. Segerombolan manusia yang bosan terjepit kesengsaraan dan kebencian yang diwariskan. Tetinggal leluhur-leluhurnya, korban kehadiran kaum bermata biru, bangsa pendatang yang di negerinya sendiri dulu hampir-hampir tak punya apa-apa lagi. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nDendam, menjadi irama degup jantung. Buah dari kebencian yang menyala-nyala pada para penggenggam kuasa, yang merampok dan mengangkut segalanya, dengan hanya menyisakan derita. Rasa tersiksa dan putus asa, terbungkus dalam dada. Menggurita hingga ke aliran di ujung pembuluh-pembuluh mereka. Kini dibawa mengendap-endap, hendak menghadap. Ke pendopo, di tengah kota! Tempat seseorang yang paling dicari sedang berada. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nGaluh sudah tiada. Orang ini telah mengubur namanya. Ciamis. Apa yang amis? Nasib rakyat yang dipimpinnya? Sudah amat jelas pahitnya. Atau amis darah bangsawan yang akan tertumpah dari tubuhnya? “Kita datang untuk menuntuk hak kita! Kekayaan tanah air ini bukan untuk dinikmati mereka yang ningrat saja, apalagi hanya disetor untuk para Walanda!” Wajah-wajah sayu, kurus dan kurang darah, mengangguk bak mayat hidup. \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nPagi yang selalu tenang, dan sejuk sekali. Suara burung, kemilau sinar mentari dan rerumputan alun-alun yang setia menanti. Empat beringin tak hirau pernah lelah berdiri. Hari demi hari. Pengulangan ironi demi ironi, hingga kisah kepiluan rakyat menjadi misteri. Tergusur oleh hingar-bingar dongeng Sang Bupati mendapat medali. Dan tutur-tinular cerita kehadiran ratusan prajurit Rawa Lakbok yang menghadang para pembenci.  \u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\nMalam kudeta mungkin tak pernah ada. Hanya bumbu pemanis kisah tentang pasukan yang tak diketahui datang serta perginya. Melindungi tempat yang memang sejatinya tak mudah untuk dikunjungi.\u003Cbr \/\u003E\n\u003Cbr \/\u003E\n\u003Ci\u003EPenulis: @fiksisaja\u003C\/i\u003E\u003Cbr \/\u003E\n\n\n\n\n"},"link":[{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/2623830240194363739"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"https:\/\/www.blogger.com\/feeds\/7834720731142953755\/posts\/default\/2623830240194363739"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"https:\/\/www.ciamis.info\/2013\/08\/malam-kudeta-di-tengah-kota.html","title":"Malam Kudeta di Tengah Kota"}],"author":[{"name":{"$t":"Unknown"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$image":{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail","width":"16","height":"16","src":"https:\/\/img1.blogblog.com\/img\/b16-rounded.gif"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/a\/AVvXsEhHNTosojzxS20accft2x5h8ZEd10Z36HbpgIg8Np0jB6mAH0w1Aac5txWJ-msXwy9otdbudC2n4s9RIM4xvQL379tDXBq0I7PAdictToqWPRLKsMYKn5H6BI-tvflYtXRbyGe1JT7ipvZnOmt1DSlE0_EQn1bwYV-WZpO44BuSphPfXQOejwyHsMbnmQ=s72-c","height":"72","width":"72"}}]}});