• FYI

    01 Mei 2021

    Sosok K.H.M. Yusuf Amin, Santri Tulen yang Berguru Sepanjang Waktu


    Berbeda dengan istrinya, yakni Hj. Siti Maria Ulfah yang memiliki ‘darah biru’ garis keturunan kiai, K.H.M. Yusuf Amin adalah 'hanya' sosok anak petani biasa yang kemudian menjadi santri tulen. Namun, atas kesungguhan ikhtiar dan doanya, ia dianugerahi kemampuan untuk dapat menjadi seorang hafizh penghafal Al-Quran dan juga menjadi seorang kiai yang memimpin pondok pesantren.

    Putra nomor 4 dari pasangan H. Amin dan Rukamah ini lahir pada tanggal 6 Agustus 1959 di Kiarapayung, Rancah. Ayahnya adalah seorang petani dan ibunya merupakan ibu rumah tangga biasa. M. Yusuf Amin muda sempat bersekolah hingga lulus di SD Kiarapayung 6 Rancah.

    Selepas itu, ia melanjutkan menuntut ilmu dengan mondok di sebuah pesantren di Karangkamulyan, di bawah bimbingan K.H. Damanhuri, dari tahun 1972 hingga tahun 1978. Setelahnya, ia melanjutkan mondok lagi di daerah Maribaya, Bogor, untuk belajar ilmu nahwu dengan kajian khusus Alfiyah Ibnu Malik. Tak cukup dengan itu, ia kambali pindah mondok ke Desa Sukamenak, Kecamatan Cibeureum Tasikmalaya, untuk belajar Mantiq dan Balaghoh, di bawah bimbingan K.H. Khoeruddin, pada tahun 1980.

    Ia kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke Pesantren Riyadhul Muta’alimin yang berlokasi di Desa Gegempalan, Cikoneng, Ciamis. Selama tiga tahun (1980-1983), ia belajar di bawah bimbingan K.H. Muhammad. Selepas itu, ia pindah mondok lagi ke Cicalengka Bandung, untuk mendalami kajian kitab Jam’ul Jawami, dan belajar ushul fiqh di bawah bimbingan K.H. Jazuli. Setelahnya, ia kembali pindah mondok untuk belajar Al-Quran di Pesantren Asy-Syifa, masih di daerah yang sama, dibimbing oleh almarhum K.H. Hasanuddin, sampai tahun 1984.

    Tak berhenti di situ, ia kembali melanjutkan mondok di Pesantren Roudhothul Mardhiyyah Kudus, Jawa Tengah, di bawah bimbingan K.H. Hisyam Hayat. Setelahnya, pada tahun 1986 ia pindah ke Manonjaya, Tasik, untuk belajar Ushuluddin dan mendalami aqidah kepada K.H. Khoer Affandi, sampai tahun 1989. Perjalanannya mondok kemudian 'berakhir' pada saat ia memutuskan untuk menikah pada tahun 1990 dan mukim di Pesantren Al-Ulfah Rancah.

    Selain mondok di berbagai pesantren, K.H.M. Yusuf Amin juga pernah mengikuti kegiatan ngaji pasaran (musiman) di Pesantren Cijantung, di bawah bimbingan K.H. Syirodz, dan di daerah Petir, di bawah bimbingan K.H. Habubulloh. Sementara itu, khusus tentang Ilmu Falaq dan Faraid, ia pernah mengaji di daerah Ciroyom, Cipedes, Tasikmalaya, kepada K.H. Eni Juaeni.

    Dengan semua pengalaman mondok di berbagai tempat, tak heran jika bekal ilmu K.H.M. Yusuf Amin menjadi lebih mumpuni untuk menjalankan amanah sebagai pengasuh di Pondok Pesantren Al-Ulfah Rancah, tugas yang kini sedang diembannya. Terungkap, bahwa di balik keanggupan seorang kiai dalam mengelola lembaga pendidikan pondok pesantren yang diasuhnya, terdapat sederet proses penempaan diri yang berlangsung sepanjang waktu, selama bertahun-tahun lamanya, di bawah gemblengan para guru yang ikhlas dan berdedikasi dalam melanjutkan pembinaan umat.

    Penulis: @ciamisnulis
    Editor: @ciamis.info

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi