• Cekidot

    Begini Suasana Makan Pagi Sebelum 'Tandur' di Pesawahan Banjarsari Ciamis


    Suasana alam pedesaan di kampung halaman memang tak dapat dilupakan, tetap terkenang di benak pikiran, meskipun seorang warga Ciamis sudah lama berada di perantauan. Pendatang yang pernah melihat atau mengalami sendiri kehidupan masyarakat petani di pedesaan Ciamis pun, meski hanya berkunjung sebentar saja, akan merekamnya dalam bentuk kenangan yang amat berkesan.

    Makan bersama para pekerja di pematang sawah, yang dilakukan di sela-sela pekerjaan ‘tandur’ adalah salah satu kegiatan yang lazim dilakukan, meskipun tidak semua pemilik sawah memberi konsumsi pada pekerja, tergantung pada perjanjian sebelumnya.

    Pemilik sawah biasanya menyiapkan ransum lebih awal, bahkan sejak sehari sebelumnya, karena jika dibuat mendadak maka akan cukup merepotkan. Kegiatan ‘tandur’ sendiri terkadang melibatkan banyak orang, yang direkrut dari para tetangga atau mereka yang sudah biasa mengerjakannya.

    Menu sarapan para pekerja ‘tandur’ umumnya mengikuti kelaziman yang sudah biasa berlaku, dengan harapan dapat menambah semangat dan tenaga mereka yang sedang giat bekerja. Jenis hidangan di daerah Banjarsari misalnya, di antaranya terdiri atas nasi, goreng ayam, tempe, sambal godog, oseng paria, leob genjer, dan seupan mantang/boled. Tambahan lainnya berupa lalapan mentah, semisal bonteng (mentimun) dan terong. Tak lupa, air minum yang mencukupi.

    Kenapa ada hidangan ayam? Baca: Antaran untuk Pekerja di Sawah, Sedekah yang Membawa Berkah

    Empunya sawah, atau orang yang menyiapkan konsumsi, mengolah makanan di atas hawu (tungku tradisional) dan/atau kompor, agar lebih cepat pemrosesannya. Kegiatan memasak dilakukan mulai sebelum subuh, hingga di pagi hari. Jam makan para pekerja tak boleh sampai kesiangan, karena sarapan pagi sangat penting untuk aktivitas berat mereka di sawah.

    Sekira pukul sembilan pagi, pekerja ‘tandur’ sudah selesai mengikuti sesi makan pagi bersama, yang diselenggarakan di galengan sawah atau sekitarnya, diselingi suasana keakraban dan ‘sempal-guyon’. Suasana yang sangat khas, bersahaja, namun sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.

    (foto/liputan: Yuyun Yulistiani, editor: @urang_ciamis)

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi