• FYI

    09 Mei 2020

    Lartot, Alarm Betot, Alat Keamanan Warga yang Nge-hits di Desa Bunter Sukadana


    Lartot, begitulah julukannya, kependekan dari ‘alarm betot’. Alat ini sangat sederhana, dibuat atas insiatif warga, tetapi manfaatnya luar biasa. Alat yang berbunyi unik ini tetiba menjadi sangat populer di kawasan Desa Bunter, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis.

    Ide dasar lartot sebenarnya sangatlah sederhana. Bermula dari kebutuhan untuk saling memberitahu tetangga agar selalu waspada dan jangan terlalu lelap tidur. Maklum saja, selama beberapa waktu terakhir ini kehadiran maling menimbulkan keresahan tersendiri.

    Padahal, sejatinya kesusahan warga sudah cukup dapat membuat sesak dada. Selama beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia, tak terkecuali warga Desa Bunter, Sukadana, terdampak oleh adanya pandemi wabah virus corona. Efek dari wabah tersebut sudah merambah pada berbagai hal yang tak terbayangkan pada awalnya.

    Munculnya kriminalitas di berbagai wilayah Ciamis, menimbulkan keresahan dan gangguan kualitas kehidupan. Berbagai keluhan dan laporan, selama beberapa waktu terakhir kerap masuk ke redaksi CIAMIS.info, terutama dari wilayah-wilayah yang penduduknya sering kemalingan. Warga Desa Bunter ikut bersiaga menghadapi kondisi tersebut.

    Kabar bahwa para pencuri membawa senjata tajam membuat banyak kampung mengadakan aksi Jagur (Jaga Lembur/kampung) dengan kesiapsiagaan tinggi. Para pemuda merelakan diri begadang setiap malam dan berpatroli keliling kampung untuk menjaga keamanan.

    Di sisi lain, kreativitas warga akhirnya ikut muncul dalam mengantisipasi keadaan. Jika dulu masyarakat terbiasa menggunakan kentongan, kini warga berkreasi dengan ‘alarm betot’ yang berbunyi unik.


    “Malam hari biasanya dibunyikan, bersahut-sahutan,” ujar Dwi Octaria, warga Desa Bunter pada CIAMIS.info.

    Lartot, alarm sederhana yang dibunyikan dengan cara ‘dibetot’ (ditarik, bahasa Sunda) terbuat dari bahan-bahan sederhana. Alat ini dapat dikatakan sebagai hasil re-use alias daur ulang dari barang-barang yang asalnya mungkin sudah tak berguna.

    Cara membuatnya juga sangat mudah. Ember atau wadah cat bekas diberi lubang kecil di bagian dasarnya, asal dapat dipakai untuk memasukkan tali sepatu. Salah satu ujung tali sepatu, yaitu yang terletak di bagian dalam ember/wadah cat, dibuat tersimpul agar dapat menahan tarikan dan tidak copot ketika digunakan. Ember cat lalu digantung pada dahan pohon di halaman rumah.

    Tali sepatu pada lartot nantinya berguna sebagai sumber rambatan bunyi. Cara membunyikannya, yakni dengan membasahi dulu tali sepatu, lalu dua jari menjepit tali sepatu yang basah tersebut, lalu ditarik. Sederhana sekali, saat jari menarik, akan timbul bunyi unik dan khas. Alih-alih melengking, suaranya cenderung ngebass dan seperti bunyi “wuerrr, wuerrr” dengan durasi tergantung panjangnya tali sepatu.


    Meski sangat sederhana, suara lartot di malam hari yang sepi di perkampungan, menimbulkan sensasi tersendiri. Apalagi jika saling bersahutan. Selain menjadi alat keamanan yang bersahaja, penggunaannya menimbulkan rasa kebersamaan dan saling menjaga antar sesama warga.

    Tertarik membuat lartot?

    Foto: @dwi_octaria08
    Editor: @ciamis.info

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi