• Ads

    06 Juli 2026

    Hidupkan Kembali Permainan Tradisional, Festival Kaulinan Lembur Ajak Bangun Karakter Anak dan Perkuat Parenting Berbasis Budaya


    Sabtu (4/7/2026), tak kurang dari 150 peserta mengikuti Festival Kaulinan Lembur, bertempat di Lembur Kaulinan Cibunar, Sakola Motékar, Desa Sukajadi, Kecamatan Sadananya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Saras Duduluran Salawasna tersebut diikuti oleh peserta dari beragam usia, mulai anak PAUD, pelajar, mahasiswa, hingga kaum ibu.

    Kegiatan yang kental dengan nuansa budaya Sunda ini dimulai dengan sesi Medar Kaulinan, yakni permainan tradisional Sunda yang dilakukan secara kolosal, diiringi beragam kawih (lagu) seperti ‘Oray-orayan’, ‘Surser’, dan ‘Paciwit-ciwit Lutung’. Dua kelompok seni tradisi, Swaranarasa dan Dangiang Gentra Wirahma Galuh, berkolaborasi menghadirkan musik sekaligus memandu gerak para peserta.

    Usai bermain secara kolosal, para peserta dibagi ke sejumlah pos permainan tradisional, seperti egrang, bakiak, dan sebagainya. Tak hanya bermain, mereka mendapat penjelasan mengenai makna filosofis yang ada di dalamnya, seperti sportivitas, gotong royong, kepemimpinan, dan lain-lainnya.

    Festival Kaulinan Lembur dapat dikatakan merupakan edutainment, perpaduan hiburan dan pendidikan, yang menghidupkan kembali kebudayaan melalui pengalaman yang menyenangkan. Tak heran, acara ini memperoleh atensi dari berbagai pihak, di antaranya kalangan akademisi dari Universitas Brawijaya, UPI (Bandung dan Tasikmalaya), Universitas Siliwangi, dan kampus-kampus lainnya. Kehadiran mereka tak hanya untuk larut sebagai peserta festival. Lebih dari itu, mempelajari secara langsung praktik pemajuan kebudayaan berbasis masyarakat.

    Mewakili unsur pemerintahan, tampak hadir Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpora Ciamis, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, serta Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Ciamis. Dalam sambutannya, Kepala Disbudpora Ciamis, Dr. Dian Budiyana, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Sarasa Duduluran Salawasna atas konsistensi merawat budaya melalui pendekatan inovatif.

    “Festival Kaulinan Lembur merupakan bagian dari ikhtiar panjang Yayasan Sarasa Duduluran Salawasna, yayasan yang lahir dari gerakan komunitas Sakola Motékar dalam mengembangkan Lembur Kaulinan Cibunar sebagai ruang belajar berbasis budaya,” tutur Ketua Pelaksana Festival Kaulinan Lembur, M. Rizky Ramdani.

    Ia menyebut permainan tradisional bukan hanya warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga merupakan pendekatan pendidikan yang relevan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat masa kini, terutama terkait peningkatan ketergantungan anak terhadap gawai, berkurangnya ruang interaksi sosial, dan minimnya aktivitas fisik. Hal-hal tersebut menyebabkan hubungan anak dengan lingkungan dan budaya tempat ia tumbuh semakin renggang.

    Festival Kaulinan Lembur bukan sekadar mengajak bernostalgia terhadap permainan masa kecil. Lebih dari itu, permainan tradisional dilahirkan kembali sebagai media pendidikan karakter, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat.


    Tak hanya itu, pendekatan parenting berbasis budaya selama ini telah dikembangkan di Lembur Kaulinan Cibunar. Ketika anak-anak menjadi peserta kegiatan, para orang tua diajak terlibat langsung bermain, bernyanyi, dan berinteraksi dengan anak-anak. Upaya ini menjadikan budaya sebagai ruang tumbuh bagi hubungan orang tua dan anak yang lebih hangat, sekaligus sebagai sarana untuk menanamkan nilai gotong royong, empati, disiplin, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.

    Upaya yang dirintis secara mandiri selama bertahun-tahun, kini memperoleh penguatan dari pemerintah melalui Dana Indonesiana atau Dana Abadi Kebudayaan, yang menjadi energi baru untuk memperkuat tata kelola organisasi sekaligus memperluas manfaat Lembur Kaulinan Cibunar sebagai ruang belajar budaya yang terus hidup, berkelanjutan, dan dapat direplikasi di berbagai daerah.

    "Kami berharap apa yang tumbuh dari sebuah kampung kecil di Cibunar ini dapat menginspirasi lebih banyak komunitas. Bahwa permainan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi dapat menjadi solusi masa kini; membangun karakter anak, memperkuat keluarga melalui parenting berbasis budaya, menggerakkan masyarakat, sekaligus menjaga kebudayaan tetap hidup di tengah arus modernisasi," pungkas Rizky.

    Source: @deninweje
    Editor: @ciamisnulis

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi