Di penghujung tahun 2026 ini, tercatat ada 40 desa di Kabupaten Ciamis yang akan melaksanakan Pemilu Kades Serentak (pilkades). Hal yang spesial adalah pada Pemilu Kades kali ini merupakan yang pertama kalinya akan menggunakan metode pemilihan berbasis digital. Bahkan menurut pemberitaan, Pemerintah Kabupaten Ciamis mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,4 milyar rupiah untuk Pemilu Kades Serentak ini.
Kepala Desa, atau di Ciamis lebih populer dengan sebutan "Kuwu", merupakan jabatan yang sangat unik, karena seorang kuwu dipilih langsung oleh rakyat tanpa ada campur tangan partai politik (secara administratif struktural). Siapapun yang memenuhi persyaratan administratif boleh mencalonkan diri sebagai calon kuwu tanpa harus disertai rekomendasi dukungan dari partai politik, komunitas sosial, forum, organisasi masyarakat, asosiasi, dan lain-lain.
Sisi buruknya adalah pencalonan seseorang sebagai calon kuwu hanya mengacu pada popularitas dan elektabilitas semata. Hal itu kerap dimanfaatkan oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan pribadi ataupun golongan, untuk mengusung calon tanpa memperhatikan instrumen-instrumen dasar kepemimpinan.
Dalam pemilihan presiden, gubernur, dan bupati atau walikota, kita sebagai rakyat tidak bisa berbuat banyak, karena kita hanya bisa memilih calon yang diusung oleh partai politik, yang bahkan kita pun tidak mengenalnya. Namun, pada pemilihan kuwu kita punya kebebasan sekaligus tanggung jawab penuh dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin di tingkat desa.
Sebagai masyarakat kita bisa menilai langsung calon kuwu, baik potensi, karakter, kecakapan dan bahkan kekurangannya, karena kita mengenalnya secara langsung dan personal. Oleh karenanya, kita tidak boleh asal-asalan memilih. Calon kuwu itu setidaknya harus diuji dalam tiga hal fundamental, yaitu: Moralitas, Intelektualitas, dan Spiritualitas.
Moralitas
Moralitas merupakan indikator untuk mengukur baik-buruknya seseorang dengan syariat agama, hukum negara, dan adat istiadat sebagai parameternya. Seorang calon pemimpin harus dipastikan lulus uji moralitas. Pertama, dia harus taat dalam beragama. Dengan kata lain, seorang calon pemimpin harus seorang yang benar-benar taqwa, yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita harus melihat apakah dia sholat lima waktu, apakah dia tidak minum khamr, dan lain-lain.
Kedua, dia harus taat terhadap hukum negara. Kita harus memastikan bahwa calon kuwu yang akan kita pilih tidak pernah melanggar hukum, tidak pernah bermasalah dengan hukum, atau tidak pernah tersangkut maupun terlibat kasus yang melanggar hukum.
Ketiga, berkaitan dengan adat istiadat. Kita harus pastikan bahwa calon kuwu pilihan kita berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan tidak pernah melakukan perbuatan asusila.
Intelektualitas
Intelektualitas seseorang itu tidak bisa kita nilai dari pemilihan diksi dan tata bahasa yang dia gunakan saat berdialog semata, melainkan dari kemampuan literasinya, kemampuan reasoning, cara berfikir, dan inovasinya.
Steve Jobs pernah berkata, "Yang membedakan antara seorang pemimpin dengan masyarakat umum yang awam adalah inovasinya." Ketika ada seseorang berkata, "Saya akan memajukan UMKM, memprioritaskan sektor pertanian, dan membangun infrastruktur penunjang perekonomian rakyat," maka itu merupakan contoh kalimat dari seorang calon pemimpin yang berintelektualitas standar saja (jika tidak bisa dibilang bodoh). Karena seseorang dengan intelektualitas tinggi akan mengajukan ide yang sifatnya baru atau bahkan terkesan "out of the blue".
Misalnya, "Saya ingin semua area pesawahan di desa ini dipasangi lampu merkuri setiap 100 meter, karena menurut penelitian serangga lebih tertarik terhadap cahaya dan ketinggian. Lampu-lampu itu akan mengurangi gangguan serangga terhadap tanaman pertanian." Itu adalah contoh kalimat dari seseorang dengan intelektualitas tinggi yang berpikir inovatif.
Spiritualitas
Spiritualitas ini berkaitan dengan bathiniyah seseorang yang bisa diukur melalui ketenangannya, pengendalian diri dan emosi, ketulusan dan keikhlasan dalam melakukan sesuatu, serta empati terhadap lingkungan sekitar. Seseorang dengan spiritualitas tinggi tidak akan terpengaruh oleh cacian dan pujian dari orang lain, serta tidak berambisi terhadap hal-hal yang bersifat duniawi seperti uang dan jabatan.
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, begitu pula dengan para kandidat calon kuwu, atau bahkan para pemimpin kita terdahulu. Namun, harapan dan keinginan untuk menjadi lebih baik harus selalu hidup dalam hati nurani kita. Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi referensi singkat dalam menentukan pilihan calon pemimpin kita, setidaknya untuk 8 tahun ke depan. (Penulis: @andy.slide/Editor: @ciamisnulis)


Medsos