Antusiasme warga Tatar Galuh untuk ikut menyaksikan laga kandang sepak bola antara kesebelasan kesayangan PSGC Ciamis dengan PSIS Semarang, Sabtu (17/10/2026), di Stadion Galuh, rupanya menjadi kesempatan emas untuk para pelaku scamming (penipuan) penjualan tiket.
Bunga—bukan nama sebenarnya—adalah remaja putri berusia 15 tahun, warga Kertasari, yang baru duduk di salah satu sekolah menengah pertama di Ciamis. Sebelumnya, ia sudah pernah menonton dan merasakan keseruan pertandingan PSGC Ciamis di Stadion Galuh. Match kali ini—dalam benaknya, akan menjadi pengalaman kedua baginya untuk menonton Laskar Singacala berlaga.
Saat menonton pertama kali laga kandang PSGC Ciamis di Stadion Galuh, ia menitip beli tiket pada temannya. Namun, karena temannya tak mau dititipi lagi, maka ia pun berinisiatif untuk mendapatkan tiket itu sendiri. Perhatiannya lalu tertuju pada unggahan-unggahan mengenai PSGC Ciamis yang muncul di media sosial.
“Ini beli tiket untuk nobar bareng temen-temen, tapi tiketnya sudah sold out. Lalu, aku tahu penjualnya dari TikTok. Waktu PSGC Ciamis posting video, dia komen ‘utara ready’. Pokoknya di postingan itu, dan banyak di video-video lainnya juga. Jadi, aku minat dan coba tanya lewat DM ke akun dia,” tutur Bunga pada CIAMIS.info.
Lewat percakapan via DM Tiktok tersebut, Bunga kemudian diberi nomor WA ‘penjual tiket’ pertandingan. Meski Bunga awalnya sempat ragu-ragu, ‘sang penjual’ berhasil meyakinkannya untuk melakukan transaksi pembelian pada Kamis (15/10/2026) dan mentransfer uang sebesar Rp525.000 untuk mendapatkan 13 tiket.
“Beli tiket semua Rp525 ribu, uang sudah ditransfer. Ketikan dia ngeyakinin aku banget, bawa-bawa sumpah demi Allah, pas diajak COD malah ngilang sampai sekarang. Akhirnya saya di-blok,” imbuh Bunga.
Tiket yang dijanjikan, ternyata pada akhirnya tak pernah datang. Percakapan yang terekam pada aplikasi perpesanan WhatsApp menunjukkan pelaku scam sempat mengaku sudah berada di lokasi Alun-alun Ciamis, tetapi ternyata penyerahan tiket tidak pernah terjadi. Bunga yang masih remaja mengaku masih gemetar akibat shock atas peristiwa yang dialaminya. Kepanikannya juga disebabkan oleh uang yang ditransfer bukan hanya miliknya, tetapi titipan teman-temannya.
“Jadi pada marah-marah ke aku, padahal di sini aku gé korban,” ucapnya.
Bunga juga kemudian menerima banyak chat dari sesama korban penipuan. Mereka menghubunginya karena bukti transfer darinya telah dibuat konten story oleh akun pelaku, dengan nomor yang terpajang secara terbuka. Story tersebut diduga untuk lebih meyakinkan calon korban bahwa penjual tiket memang ‘amanah’.
Saat mengungkapkan kejadian yang menimpanya, Bunga mengaku belum melaporkan kepada pihak kepolisian, karena ia takut untuk menceritakan kejadian ini kepada orang tuanya. Dengan polosnya, ia masih berharap uang yang terlanjur ditransfer dapat dikembalikan pelaku meskipun hanya separuhnya.
“Jahatnya tuh dia ga mau ngebalikin setengah aja, malah (WA) di-blok,” keluh Bunga.
Kejadian penipuan tiket pertandingan sepak bola ini tak hanya dilaporkan Bunga, melainkan juga oleh korban lainnya, dengan jumlah kerugian beragam. Bunga dan para pelapor lainnya berharap kejadian ini tidak terulang lagi pada korban lainnya, jika nanti pertandingan diadakan kembali. Sementara itu, pihak penyelenggara pertandingan sebenarnya sudah berulang kali mengimbau para penonton untuk menggunakan saluran resmi ketika membeli tiket, agar terhindar dari praktik percaloan dan penipuan.
Editor: @ciamisnulis



Medsos