Satu setengah tahun sudah, pasangan Imam Permana dan Elsa Natalia, warga Dusun Padomasan RT 023 RW 004, Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, mengalami kondisi yang amat memprihatinkan, karena buah hati mereka menderita sakit berat. Tak hanya menanggung penderitaan batin mendalam saat mendampingi sang anak setiap harinya, suami istri ini pun sudah habis-habisan mengerahkan segalanya, hingga mengorbankan semua harta benda yang mereka miliki.
Kondisi memilukan ini dialami oleh Ghevariel Fahrezan, putra tunggal berusia 2 tahun 10 bulan, yang kini hanya mampu berbaring di tempat tidurnya, dan bahkan untuk makan dan minum pun terpaksa menggunakan selang NGT (Nasogastric Tube). Batita itu dinyatakan mengidap intractable epilepsy yang berkomplikasi dengan serangan virus Cytomegalovirus (CMV).
Berawal dari Benjolan
Elsa menceritakan awal mula putranya menderita sakit. Ghevariel mulai menunjukkan gejala awal pada bulan September 2024, dengan munculnya benjolan di ketiak kirinya. Anak tersebut kemudian diperiksakan ke RSUD Banjar, hingga bolak-balik, dan akhirnya dirujuk ke Banyumas karena dinyatakan terdapat abses dan harus dioperasi.
Di Banyumas, Ghevariel mengulang proses pengobatan dari awal dan dicek ulang lagi. Ternyata sesuai dengan hasil pemeriksaan sebelumnya, terdapat abses atau tumor jinak di ketiak sebelah kirinya, dan dijadwalkan menjalani operasi pada tanggal 10 Desember 2024.
Namun, pada tanggal 9 Desember 2024, dokter bedah anak yang menangani Ghevariel menyatakan tidak sanggup menjalankan operasi karena posisi benjolan berada di pembuluh darah, sehingga anak tersebut kembali dirujuk ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, tepatnya ke Divisi Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular (BTKV).
Sesampainya di Jogja, Ghevariel menjalani cek ulang dan hasilnya ditemukan abses (tumor jinak), serta dijadwalkan untuk menjalani operasi pada tanggal 20 Desember 2024. Operasi tersebut berjalan dengan lancar, dan hingga tanggal 27 Desember 2024, saat dilakukan kontrol pertama pasca operasi, kondisi Ghevariel masih baik-baik saja. Kontrol kedua kemudian dijadwalkan pada tanggal 8 Januari 2025.
Selasa malam, 7 Januari 2025, sekitar pukul 22.00 WIB, ketika sedang berada dalam perjalanan menuju Yogyakarta, Ghevariel tiba-tiba mengalami kejang tanpa demam, gejala yang tidak biasa. Kejang tersebut seperti kaget dan terjadi hingga 8 kali selama dalam perjalanan tersebut. Ghevariel kemudian dibawa ke IGD RSUP Dr. Sardjito, dan langsung masuk fasilitas rawat inap, serta dilakukan tindakan EEG (Electroencephalography). Hasilnya, ditemukan gelombang epilepsi abnormal.
Seiring berjalannya waktu, sejak saat itu kondisi Ghevariel tidak kunjung membaik, bahkan perkembangannya mengalami kemunduran. Sang anak yang asalnya sudah bisa mengangkat kepala, menjadi lemas dan hanya mampu berbaring saja. Setiap hari Ghevariel bisa mengalami kejang hingga puluhan kali. Dokter kemudian melakukan MRI kepala, dan hasilnya ditemukan sudah banyak gelombang kejang, sehingga kemudian dilaksanakan tes urin.
Hasil tes urin tersebut menunjukkan bahwa Ghevariel mengidap virus CMV (Cytomegalovirus). Hasil pemeriksaan laboratorium untuk PCR CMV Ghevariel menunjukkan angka 10.000. Infeksi virus CMV tersebut menjadi pemicu kejang puluhan kali yang dialami Ghevariel dalam satu hari.
Mengharap Kehadiran Bapak Bupati
Mendampingi proses pengobatan Ghevariel bagi pasangan suami istri Imam-Elsa adalah perjuangan panjang yang amat melelahkan dan sekaligus menguras semua sumberdaya yang mereka miliki. Namun, mereka tidak pernah menyerah.
“Anak kami sudah melakukan pengobatan selama satu setengah tahun, karena Ghevariel bisa kejang sampai 50 kali dalam sehari. Kami kontrol rutin ke RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, kadang sebulan sekali, kadang dua minggu sekali, tergantung hasil pemeriksaan terakhir,” ucap Elsa, sang ibu.
Saat ini, imbuhnya, pemeriksaan dilakukan tiap 2 minggu sekali, karena Ghevariel sedang menjalani protokol penanganan infeksi virus CMV. Serangan virus ini menambah derita sang anak, sekaligus memperberat biaya pengobatan yang harus ditanggung oleh kedua orang tuanya, sebab penanganan CMV tidak ter-cover oleh BPJS mandiri yang mereka gunakan.
“Kami membutuhkan sekali bantuan untuk membeli obat virus, dan juga bantuan bertahap untuk anak kami, karena kami (memakai) BPJS juga mandiri, tidak yang ditanggung pemerintah,” tutur Elsa.
Diungkapkannya, harga obat virus CMV untuk Ghevariel Rp225.000 per butirnya, dan dibutuhkan sejumlah 42 butir obat tersebut sesuai protokol pengobatan selama 6 minggu yang tidak boleh terputus. Biaya pengobatan tersebut di luar biaya untuk penanganan intractable epilepsy.
“Kami berharap semoga Bapak Bupati Ciamis berkenan berkunjung dan melihat langsung kondisi anak kami,” ucap Elsa.
Jika dihitung sejak bulan Desember 2024, menurut perhitungan Elsa, pengobatan anaknya sudah menghabiskan dana sekitar Rp500 juta, baik untuk biaya pemeriksaan, perawatan, obat, transportasi, dan lain-lainnya. Elsa dan suaminya sudah habis-habisan menjual semua harta benda, dan sekarang mereka terpaksa hidup menumpang di rumah keluarga.
Kedua orang tua Ghevariel memohon doa dan dukungan atas ikhtiar untuk kesembuhan ananda Ghevariel. Pasangan Imam-Elsa juga terbuka menerima pihak-pihak yang akan menyampaikan perhatian maupun bantuan. Anda dapat menghubungi pihak keluarga dengan nomor kontak WA 0823-1258-6507 (Elsa). Semoga semua kebaikan mendapat balasan berlipat ganda dari Allah SWT.
Source: @ghevariel2024
Editor: @ciamisnulis

Medsos