• Cekidot

    23 September 2018

    Darussalam, Ponpes yang Didoakan 'Ahli Pertanian'


    Arah kisah sejarah konon sangat ditentukan oleh penulisnya. Baik dan buruk tokoh yang dikisahkan, akan tergantung pada penutur atau penulis yang mengungkapkan. Tak heran, sebagian cerita sejarah dianggap tak netral dan 'memihak'. Meski demikian, ada pula keyakinan bahwa dari kisah-kisah lawas sebenarnya masih dapat diambil berbagai hikmah dan pelajaran.

    Ciamis, 8 April 1970.

    Mang Ihin, panggilan akrab Gubernur Jabar kala itu —nama lengkapnya Letjen (Purn.) Solihin Gautama Poerwanegara (menjabat 1970 - 1975), mengajak Bupati Ciamis untuk menyambut kedatangan seorang tamu istimewa. Bupati Ciamis saat itu, menilik catatan Wikipedia, adalah Kolonel Abubakar, memerintah dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1973.

    “Ada ahli pertanian mau datang berkunjung. Ayo, kita sambut!” ujar Mang Ihin menggunakan kalimat tersamar.

    Tentu saja yang diajak bicara tak mungkin menampik. Hanya saja Sang Bupati heran.

    “Siapa dia? Sebegitu pentingnya, sampai-sampai kita yang harus menyambutnya?" tanya orang nomor satu di pemerintahan Kabupaten Ciamis tersebut.

    “Sudahlah, lihat saja nanti,” jawab Mang Ihin singkat.

    Betapa kaget Sang Bupati, ketika akhirnya melihat 'ahli pertanian' yang disambutnya ternyata Presiden RI, Jenderal Soeharto.

    “Mengapa tidak dibilang saja tamu itu Presiden kita? Saya kan bisa menyiapkan segala sesuatunya,” bisiknya pada Mang Ihin, mungkin merasa rikuh.

    Sembari terkekeh, Mang Ihin menjawab, “Ini perjalanan diam-diam dan rahasia. Jadi, nggak ada acara resmi. Kita sambut apa adanya.”


    Rupanya memang benar, Presiden RI sedang berkunjung ke beberapa wilayah, termasuk ke Ciamis, tetapi dilakukan secara diam-diam dan tanpa penyambutan resmi. Menariknya, selama perjalanan incognito, orang nomor satu di Indonesia yang berjuluk 'The Smiling General' tersebut selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan para ulama di daerah-daerah yang dikunjungi.

    Dokumentasi foto menjadi bukti kuat kedatangan Pak Harto kala itu ke Pondok Pesantren Darussalam, Cidewa, Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

    K.H. Icep Fadlil Yani, pengurus Pondok Pesantren Darussalam menuturkan, sebagaimana dikutip situs cendananews.com, Pak Harto singgah di pesantren tersebut pada tanggal 8 April 1970, sesuai tarikh yang tertera pada foto.

    Pak Harto disambut oleh K.H. Irfan Hielmi, pimpinan Pondok Pesantren Darussalam saat itu. Kyai tersebut adalah putra dan penerus K.H. Ahmad Fadil, tokoh yang mendirikan Ponpes Darussalam pada tahun 1929.

    Sebuah buku tamu yang terlihat cukup tua, namun cukup terpelihara, memuat pula tulisan tangan Pak Harto. Tokoh yang pernah dijuluki 'Bapak Pembangunan' tersebut menulis kalimat singkat “Meninjau Pondok Pesantren Darussalam Ciamis”, dibubuhi tandatangan dan bertanggal tepat sama seperti pada foto.

    Ada hal unik yang muncul dalam pertemuan Pak Harto sebagai umaro (kepala pemerintahan) dengan K.H. Irfan Hielmi sebagai ulama (pemimpin keagamaan), sebagaimana diungkapkan oleh Kiai Icep.

    Saat itu, Pak Harto mendoakan, ”Pak Kyai, Insya Allah pesantren ini suatu ketika akan menjadi pesantren yang modern.” Hal tersebut dianggap tidak lazim, karena biasanya ulama yang mendoakan umaro.


    Kenyataannya, tak lama setelah itu Ponpes Darussalam beehasil mendirikan Perguruan Tinggi Islam pertama di Ciamis, yakni Fakultas Syariah Darussalam Ciamis, yang kemudian menjelma menjadi Institut Agama Islam Darussalam (IAID).

    Hadirnya IAID melengkapi berbagai pendidikan formal yang sudah ada, mulai dari Pendidikan Pra-sekolah, Raudlatul Athfal/Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, hingga Madrasah Aliyah Keagamaan.

    Pak Harto membangunkan sebuah gedung asrama berlantai dua yang sampai sekarang masih digunakan untuk menampung sebagian dari total santri yang jumlahnya 2000 orang lebih.

    Kyai Icep mengungkapkan, hubungan silaturahim ayahnya dengan Pak Harto terus berlangsung hingga mereka tutup usia. Pada berbagai kesempatan, ayahnya kerap diundang Pak Harto bertandang ke kediamannya di Jakarta untuk diminta nasihat tentang berbagai hal.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi