• FYI

    20 Juli 2022

    Dirintis sejak Usaha Sepi karena Pandemi, Kini Kebun Anggur di Cigebot Siap Dikunjungi


    Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun terakhir, telah menimbulkan banyak kesulitan dan penderitaan pada masyarakat Indonesia, tak terkecuali warga Tatar Galuh Ciamis. Tak sedikit warga yang mengalami penurunan pendapatan, atau bahkan kegagalan dan kebangkrutan, akibat melemahnya daya beli pada saat diberlakukannya pembatasan aktivitas masyarakat.

    Rhopik Rhabani, warga Dusun Cigebot RT 02 RW 07 Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, adalah salah satu warga yang mengalami kegagalan usaha akibat adanya pandemi. Awalnya ia berjualan bakso dengan mengontrak satu unit ruko sebagai lokasi usahanya. Baru berjalan 2 tahun, pandemi Covid-19 menerjang, dan usahanya menjadi sepi, sampai akhirnya gulung tikar. Namun, musibah itu ternyata memberi berkah tersendiri dengan membuka usaha baru yang kini mulai menunukkan hasil.

    Berbekal pengetahuannya tentang budidaya pertanian, Rhopik mulai merintis grafting durian, alpukat, anggur, dan tanaman lainnya, pada saat pandemi mulai berlangsung. Aktivitas tersebut sejalan dengan latar belakangnya yang pernah bersekolah di bidang pertanian.

    Ia kemudian memutuskan untuk memilih anggur sebagai fokus perhatiannya, karena tanaman tersebut dapat dibibitkan pada polybag kecil, dibandingkan dengan bibit durian atau alpukat misalnya, yang membutuhkan polybag berukuran lebih besar. Pilihan Rhopik ini menyesuaikan dengan luas lahan yang tersedia di dekat lokasi tempat tinggalnya.


    Berbekal kesabaran dan ketelatenannya dalam menekuni budidaya anggur, kini usaha pribadi Rhopik ini kini mulai membuahkan hasil. Kebun anggurnya yang berada di atas lahan 6 x 12 meter sudah berbuah dan menjadi pemandangan menarik untuk dilihat oleh warga setempat maupun siapa saja yang mau berkunjung.

    “Untuk berkunjung tidak ada biaya masuk, alias gratis,” tuturnya pada CIAMIS.info.

    Pemeliharaan anggur, menurutnya, memerlukan penanganan tersendiri.

    “Kendala pemeliharaan anggur, tanaman ini tidak suka kebanyakan air, jadi disiramnya cukup seminggu 3 kali saja. Kalau musim hujan buahnya pada pecah karena kebanyakan air, jadi (lokasi kebun) harus diberi atap plastik, biar nanti bisa berbuah kapan saja. Kalau tidak memakai atap plastik mungkin musim kemarau saja bisa dibuahkannya,” imbuhnya.

    Rhopik kini membuka kebunnya untuk dikunjungi warga yang ingin melihat dari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Pengunjung dapat melihat kebun anggur tersebut dan memetik buahnya dengan harga Rp. 50.000 per kilogram pada saat musim panen. Selain itu, tersedia bibit anggur seharga sama, Rp. 50.000 per polybag, jika pengunjung berminat membawanya untuk dibawa pulang. Sebelum berkunjung, ada baiknya menghubungi terlebih dahulu via WA 082274914327.

    Penulis: @ciamisnulis
    Editor: @ciamis.info

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi