Tatar Galuh Ciamis dikenal memiliki banyak talenta dalam bidang seni, di antaranya pada seni musik, baik tradisional maupun modern. Musisi muda terus bermunculan dan berusaha menampilkan karya terbaiknya bagi publik.
Setelah melalui fase persiapan dan pematangan proses kreatif cukup panjang, salah seorang putra daerah asal Ciamis, Haydar Ahmad, bersama band One Month Notice, baru-baru ini akhirnya merilis EP (Extended Play) pertama mereka yang bertajuk "Noted".
One Month Notice dalam keterangannya mengenai EP tersebut menyebut kehadiran mereka mengusung warna musik alternatif, serta berusaha memberi sentuhan lirik yang jujur dan dekat dengan realita kehidupan sehari-hari. Karya mereka yang sudah tayang di berbagai platform berbagi musik ini merefleksikan tekanan, keresahan, hingga dinamika bekerja dan bertahan hidup.
Terdapat 3 lagu yang diusung One Month Notice dalam EP pertama ini, yaitu “Project Pembuat Nelangsa (PPN)”, “Aku Suka Bekerja”, dan “Mohon Izin Pimpinan”. Ketiga lagu tersebut sudah tersedia di Spotify, iTunes, dan platform lainnya.
“Band kami lahir 5 Mei 2025, tepatnya dini hari, di bilangan Poris Raya TVRI, Jatirahayu, Bekasi, di atas balkon basecamp kami yang keramiknya sudah pada copot,” ungkap Haydar diakhiri tawa pada CIAMIS.info, Senin (6/4/2026).
Diungkapkan pemuda asal Rancapetir Ciamis tersebut, One Month Notice terdiri atas 5 karyawan yang melalui musik dapat sejenak ‘melarikan diri’ dari kejenuhan dan hiruk-pikuk perkotaan. Kelima personel band tersebut, yakni Haydar (vocalist), Randi (vocal/rhytm guitar), Teguh (bassist), Dani (lead guitar), dan Bima (drum). Kelimanya ternyata berasal dari satu almamater, dan memiliki basic yang sama: penyuka berat dan sering bermain musik.
Haydar mengungkapkan, lagu-lagu yang mereka hadirkan terinspirasi oleh keresahan para karyawan di dunia kerja. Salah satunya, tercermin pada lirik lagu tentang perilaku para bos yang kebanyakan hanya mementingkan hasil dan jarang ada yang mau mendengar atau melihat proses. “Seperti pada lagu ‘Aku Suka Bekerja’, itu isinya keresahan atau lebih ke sarkasme terhadap semua atasan di muka bumi,” katanya.
Kegeraman terhadap isu lingkungan dan bahkan ranah politik, menjadi muatan lagu kedua yang bertitel “Project Pembuat Nelangsa (PPN)”.
“Untuk lagu kedua itu arahnya lebih general. Kami basic-nya semua satu almamater dari ilmu kesehatan lingkungan. Saat ada kejadian bencana akibat deforestasi di Sumatra, tentu ikut geram dan kemudian benar-benar kami tuangkan pada lirik lagu. Terlebih lagi, saat ada isu tentang DPR yang berkonflik dengan rekan seprofesi kami yang ahli gizi, itu juga kami tuangkan ke dalam lagu,” imbuh Haydar.
Sementara itu, lanjutnya, lagu “Mohon Izin Pimpinan” memuat keresahan yang sama seperti pada lagu “PPN”. Namun, fokusnya lebih tertuju pada orang-orang yang berada di gedung parlemen, para politikus yang sempat asal bunyi dan menyebut ‘tidak nasionalis’ terhadap mereka yang menggaungkan tagar #keluarajadulu.
“Padahal apa salahnya orang yang pindah untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kalau dirasa di negara ini sudah tidak suportif untuk mendukung kita sebagai orang yang pengen ngembangin sayap lebih jauh?” tegas Haydar.
“Kami berharap karya-karya ini bisa menjadi teman buat mereka yang mendengarkan, baik di saat lelah, sedang bekerja, atau ketika sekadar ingin merasa dipahami,” pungkasnya.
One Month Notice dapat ditemui di:
Editor: @ciamisnulis



Medsos