Kabar baik dan membanggakan datang dari penyelenggaraan lomba trail run Walini Pangalengan Cross-Country yang berlangsung pada hari Minggu (12/4/2026), berlokasi di area Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Pelari putra asal Ciamis, Khoerul Anwar (27), bernomor dada BIB 352, berhasil merebut posisi podium pertama pada kategori 8K putra. Ia meraih prestasi terbaik dalam lomba lari yang digelar di ketinggian lebih kurang 1.600 mdpl dan melintasi area kebun teh milik PTPN 1 Pangalengan tersebut.
Walini Pangalengan Cross-Country 2026 diikuti oleh ratusan pelari dari berbagai komunitas dan daerah asal. Lomba lari di alam bebas ini dimulai di titik start Lapangan Babakan Tanara. Rangkaian kegiatannya secara keseluruhan dimulai pada pukul 5.30 WIB, dan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Terdapat dua kategori yang diperlombakan, yakni 8K (putra/putri) dan 12K (putra/putri).
Khoerul sukses menjadi first finisher pada kategori 8K putra dengan catatan waktu 00:36:58, dan berhak menyandang predikat juara pertama. Namun, karyawan swasta yang berasal dari Dusun Kotaharja, Desa Sukamukti, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, ini memilih merendah saat ditanya CIAMIS.info tentang kesannya usai menjuarai lomba trail run tersebut.
“Sebenarnya keberuntungan saja ini mah, da pelari elite-nya ga ada, jadi saya bisa podium satu,” tuturnya dengan dialek Ciamis yang khas.
Namun begitu, ia mengakui berlari di ketinggian lebih kurang 1.600 mdpl memang tidaklah mudah, karena ketersediaan oksigen yang tipis dan suhu udara yang relatif dingin. Panitia sempat menyebut suhu 15,9 derajat celcius, kecepatan angin 3 km/jam, dan kelembaban udara 89%, sebagai kondisi di lapangan yang akan ditemui para peserta lomba.
Meski sempat menyebut tak punya persiapan khusus sebelum turun mengikuti lomba, ternyata Khoerul tidak main-main dalam proses latihan menjelang pelaksanaannya.
“Tidak ada latihan khusus sih, paling ya latihan (biasa) di Gunung Manglayang saja, di rute 600 meter dengan ketinggian 1.200 mdpl, atau kalau tidak, di rute everesting dengan jarak 2 kilometer, naik turun dengan elevasi gain 300 meter, dan ditambah latihan di road, itupun saya sempatkan di sela-sela bekerja Senin-Sabtu,” ujarnya.
Ia berharap ke depannya dapat konsisten berlari di dunia trail run. Sesudah menekuni dunia lari di alam bebas ini selama beberapa waktu terakhir, Khoerul mengakui bahwa konsistensi latihan dan dedikasi merupakan hal yang paling berat dirasakannya.
“Ke depannya ingin konsisten dulu. Di trail, saya bisa dikatakan baru seujung kuku, belum genap setahun juga. Untuk menuju suksesor para runner elite, tidaklah mudah. Itu berat sekali, konsistennya, dedikasi latihannya. Jujur, berat,” pungkasnya.
Editor: @ciamisnulis


Medsos