Wayang Ajen Sambut Kunjungan Menteri di Panjalu


Masyarakat Panjalu, Ciamis, mendapatkan suguhan istimewa pada Sabtu, 12 April 2014. Pertunjukan ‘Wayang Ajen’ disajikan mulai pukul 20.00 WIB, dalam rangka menyambut kunjungan kerja Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Ciamis. Pemilihan tempat pergelaran, yang dipersembahkan oleh Ki Dalang Wawan Ajen tersebut, seolah mengukuhkan posisi strategis Panjalu dalam dunia pariwisata Ciamis.

Kelahiran Wayang Ajen di Bandung, pada tahun 1998, memang tidak lepas dari peran Wawan Gunawan, S.Sn. –seorang dalang ‘intelek’ kelahiran Ciamis, dan Arthur S. Nalan, mantan Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Dalang Wawan Gunawan –lebih dikenal sebagai ‘Wawan Ajen’, merupakan kandidat doktor di Universitas Padjadjaran Bandung, yang telah berhasil membawa Wayang Ajen mendapatkan penghargaan di tingkat lokal maupun internasional. Pada pergelaran kemarin, ia dapat dikatakan mementaskan Wayang Ajen di kampung halaman sendiri.

Wayang Ajen sendiri adalah bentuk pengembangan wayang golek tradisi Sunda, yang sudah dikombinasikan dengan ide-ide kreatif kaum muda. Kata ‘ajen’ berasal dari bahasa Sunda yang bemakna penghargaan atau penghormatan. Salah satu ciri menarik dari Wayang Ajen adalah adanya kolaborasi wayang golek (sebagai komponen utama) dengan berbagai bentuk kesenian lain, termasuk pula diadopsinya sentuhan teatrikal dan kehadiran teknologi multimedia. Bahasa dan gaya penyampaian cerita pun dibuat sedemikian rupa agar lebih dipahami para penonton dan lebih interaktif.

Ki Dalang Wawan, sebagaimana ditulis pada laporan Kompas (9/1/09), menyebut Wayang Ajen sebagai bentuk ‘jembatan’ kreativitas masa kini dengan masa lalu. Kemajuan, baginya, tidaklah harus dengan melupakan yang sudah ada. Lebih dari itu, Wayang Ajen tetap menjadi alat menyampaikan pesan-pesan kebajikan melalui setiap pergelaran.
selengkapnya...

Jadwal Pertandingan PSGC Ciamis Tahun 2014


Berikut ini jadwal pertandingan PSGC Ciamis tahun 2014, sebagaimana dilansir di laman resmi PSGC (www.psgc.co.id).

Selasa 15 April 2014, PSGC vs Persibangga (Stadion Galuh Ciamis Kick Off 15.00)

Sabtu 19 April 2014, Persipon vs PSGC

Sabtu 26 April 2014, PSGC vs Persikab

Selasa 29 April 2014, PSGC vs Persires

Sabtu 3 Mei 2014, Persipasi vs PSGC

Selasa 6 Mei 2014, Persika vs PSGC

Sabtu 10 Mei 2014, PSGC vs PSCS

Rabu 4 Juni 2014, PSCS vs PSGC

Minggu 8 Juni 2014, PSGC vs Persika

Rabu 11 Juni 2014, PSGC vs Persipasi

Jumat 8 Agustus 2014, Persires vs PSGC

Senin 11 Agustus 2014, Persikab vs PSGC

Jumat 15 Agustus 2014, PSGC vs Persipon

Sabtu 23 Agustus 2014, Persibangga vs PSGC
selengkapnya...

Pasirtamiang, Kisah Lembah Para 'Embah'

Desa Pasirtamiang terletak lebih kurang 2 kilometer dari pusat Kecamatan Cihaurbeuti, dan 29 kilometer dari pusat Kabupaten Ciamis (lihat Daftar Alfabetikal Nama Desa di Ciamis, red.). Desa yang memiliki luas 350 hektar ini terletak di kaki Gunung Sawal, secara topografis kemiringannya 30 - 40 derajat, dan berbatasan dengan Sungai Citanduy. Jumlah penduduk di wilayah tersebut lebih dari lima ribu jiwa, tersebar di 6 dusun/RW dan 34 RT. Umumnya, warga desa bekerja di bidang pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan.

Nama ‘Pasirtamiang’ berarti kurang lebih berarti bukit tempat terdapatnya bambu tamiang, sejenis bambu yang lazim digunakan sebagai bahan pembuatan suling. Lahirnya Desa Pasirtamiang tidak terlepas dari kisah kehadiran para leluhur yang membuka wilayah tersebut, yang asalnya berupa lembah subur tepi hutan, menjadi pemukiman penduduk. Kini, mereka yang disebut sebagai para perintis kawasan, dapat dijumpai makam-makamnya (biasa disebut sebagai 'makam dalem’) dan dikenal dengan sebutan ‘embah’.

Beberapa nama yang disebut, sebagaimana tercantum dalam catatan Acep Ruhyana tentang ‘Sejarah Pasirtamiang’, adalah:
  1. Ngabui Nanggamerta, konon merupakan pendatang dari Sukapura (sekarang Tasikmalaya) yang pada sekitar abad 18 biasa mengambil hasil hutan di wilayah Pasirtamiang sekarang. Ia tertarik untuk menetap dan bercocok tanam di tempat tersebut dan menjual hasil buminya ke Sukapura. Makamnya kini dapat dijumpai di Pasirpining, selatan Pasirtamiang.
  2. Embah Dayung, adalah seorang kenalan yang berasal dari Sukapura dan mengikuti jejak Ngabui Nanggamerta dengan menetap dan merintis kampung di pinggir sungai Cijoho –dinamakan demikian karena di pinggir sungai tersebut terdapat banyak pohon Joho. Makamnya terletak di Pasir Kadongdong, timur Cijoho.
  3. Embah Loma Bangsa, seorang ahli perkakas pertanian (pandai besi), konon berasal dari Panawangan dan ikut menetap di Cigorowong, barat Pasirtamiang. Makamnya terletak di Makam Dalem, dekat balai desa Pasirtamiang.
  4. Embah Singa Ronce, seorang bekas prajurit Mataram, berasal dari Cirebon, dan memilih tidak kembali kepada Susuhunan Mataram. Ia dimakamkan berdekatan dengan Embah Loma Bangsa, di Makam Dalem. Nama Singa Ronce cukup populer karena digunakan sebagai nama klub-klub olahraga di Pasirtamiang.
  5. Adi Kasan, merupakan saudara dari Embah Loma Bangsa, memilih bermukim di Pasirlandak (bukit yang dulunya banyak dihuni landak), dan makamnya berada di pemakaman umum Bungur, tepi Citanduy.
  6. Embah Dalem Mangkubumi, dikenal sebagai salah satu tokoh pelopor pembangunan di Pasirtamiang, dimakamkan di Makam Dalem.
Terdapatnya situs makam para ‘embah’ di Pasirtamiang, dan berbagai tempat lain di Ciamis, mengingatkan pada penggunaan kata tersebut, yang menunjuk pada budaya dan bahasa Jawa. Meski kamus Basa Sunda menerima penggunaan kata ‘embah’ tetapi masyarakat Sunda lebih terbiasa memakai kata ‘aki’ atau 'engki', sedangkan suku Jawa masih tetap memakai kata ‘Mbah’ tersebut hingga kini. Hal lain, penyebutan Adi Kasan, juga lebih cenderung mengikuti gaya bahasa Jawa, ketika ‘Hasan’ disebut ‘Kasan’. Nama Ngabui Nanggamerta mengingatkan pada sebutan ‘Raden Ngabehi’, yaitu gelar kebangsawanan keraton Jawa dalam tingkatan terendah (Wikipedia). Apakah 'Ngabui' berasal dari kata 'Ngabehi'?

Kesahihan kisah sejarah Pasirtamiang masih memerlukan penelitian lebih lanjut, dan menyisakan banyak pertanyaan, tetapi mudah diduga bahwa percampuran budaya Sunda-Jawa di wilayah Ciamis sudah terjadi sejak dulu kala. Kabupaten Ciamis sendiri, dulu bernama Kadipaten Galuh, tercatat sebagai bagian dari Kesultanan Mataram Islam sejak tahun 1618.
selengkapnya...

 

Telepon Penting:

RSUD Ciamis : (0265) 777000
Polres Ciamis : (0265) 774444
Polsek Ciamis : (0265) 772071
Kodim Ciamis : (0265) 771180
PLN Ciamis : (0265) 771119
PDAM Ciamis : (0265) 774477
Pemadam Kebakaran : 113 /(0265) 772993
Stasion KA Ciamis : (0265) 771037
BNN Ciamis : (0265) 771899 / 085324537700
© 2013 - 2014 www.ciamis.info | kontak | pasang iklan | disclaimer | #600