• Cekidot

    01 Desember 2018

    Festival Budaya Panjalu 'Nyangku', Potret Warisan Tradisi yang Tetap Lestari


    Upacara adat Nyangku merupakan kegiatan ritual budaya yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun di daerah Panjalu, Ciamis. Tepatnya, berlangsung pada hari Senin atau Kamis terakhir di bulan Mulud (Rabiul Awal, kalender hijriah).

    Tahun ini, Nyangku akan kembali digelar pada hari Senin, 3 Desember 2018. Tetapi, menjelang puncak acara tersebut, terdapat rangkaian berbagai kegiatan lain yang dimulai beberapa hari sebelumnya. Kegiatan-kegiatan tersebut di antaranya dimaksudkan sebagai ajang untuk menampilkan kekayaan budaya masyarakat Panjalu dan sekitarnya.

    Tak pelak lagi, saat ini Nyangku sudah menjelma menjadi festival budaya berbasis tradisi lokal Panjalu, lebih menarik dan kekinian, tanpa kehilangan substansi dan nilai-nilai luhur kearifan lokal yang disandangnya. Pelaksanaannya pun mampu menyedot perhatian publik yang luas dan mengundang kehadiran para peminat event budaya nusantara, di samping menghadirkan ribuan masyarakat lokal yang selalu antusias. Terlebih, Upacara Adat Nyangku di Panjalu sejak tahun 2017 telah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.

    Penampilan peserta karnaval seni budaya pada acara Nyangku tahun 2016

    “Acara akan dimulai pada hari Kamis, 29 Nopember 2018. Beraneka ragam kekayaan seni budaya masyarakat Panjalu akan ditampilkan dalam Nyangku tahun ini, di antaranya Gembyung, Wayang Landung dan Buta Kararas. Ada juga penampilan Debus dan Festival Liwet,” ungkap Indra Indriadi, Ketua Divisi Seni Budaya Nyangku.

    Tradisi Turun-temurun yang Tetap Terpelihara

    Tradisi Nyangku sudah berlangsung lebih dari satu abad lamanya. Konon, pada saat Prabu Borosngora berkuasa di Kerajaan Panjalu, upacara ini dilakukan sebagai syiar dalam menyebarkan agama Islam kepada rakyatnya yang masih beragama Hindu. Tak heran, kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud (Mulud, Sunda), bulan dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.

    ngumbah pusaka
    mihurmat ka bihari
    Nyangku Panjalu

    Selepas jaman Prabu Borosngora, tradisi ini berlanjut tak hanya sebagai media syiar, tetapi juga dalam rangka memelihara dan menghormati peninggalan leluhur yang telah berjasa besar dalam mengislamkan wilayah Panjalu. Para penerus tradisi menegaskan tidak adanya maksud untuk menuhankan pusaka.

    Para penabuh genjringan solawatan mengiringi arak-arakan pembawa pusaka raja-raja.

    Pusaka yang dimaksud, warisan raja-raja Panjalu yang disimpan di Museum Bumi Alit, pada saat puncak acara Nyangku akan dikeluarkan untuk dibersihkan. Peninggalan leluhur tersebut, di antaranya adalah pedang yang dipercaya merupakan pemberian dari Sayyidina Ali R.A. kepada Prabu Borosngora sewaktu muda. Borosngora berkelana sampai ke Tanah Arab karena disuruh oleh ayahnya, Prabu Cakradewa, untuk mempelajari ilmu kesempurnaan hidup.

    Pusaka raja-raja dibawa ke Situ Lengkong oleh beberapa orang terpilih, diiringi oleh khalayak warga Panjalu yang larut dalam gema shalawat dan tabuhan genjringan. Rombongan pembawa pusaka kemudian melintasi danau untuk menuju Nusa Gede, pulau yang terletak di tengah Situ Panjalu.

    Pedang pusaka peninggalan leluhur dicuci dan dibersihkan pada tradisi Nyangku.

    Selepas dibawa ziarah ke makam para leluhur di pulau Nusa Gede, pusaka diarak kembali ke Alun-alun Taman Borosngora. Sebuah tempat khusus didirikan di tengah-tengah lapangan tersebut untuk mencuci atau memandikan pusaka-pusaka. Air yang digunakan untuk mencuci berasal dari beberapa mata air yang ada di wilayah Panjalu dan sekitarnya. Tempat pencucian pusaka dijaga ketat oleh petugas, untuk mencegah timbulnya hal-hal yang tidak diharapkan.

    “Bagi saya, Nyangku ini ibarat urang lembur (warga kampung) berjualan kacang rebus, dibeli oleh mereka yang berdatangan dari mana-mana dan berkumpul di Panjalu. Ini proses pelestarian tradisi, penyambung eratnya silaturahmi, sekaligus upaya menghidupkan ekonomi lokal,” pungkas Indra Indriadi.

    Kontributor: Ida Nurulhuda
    Editor: Yuska Sadewata

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi