• FYI

    23 Maret 2019

    Kisah Dua Pemancing dari Sukamaju


    Luasnya wilayah Kabupaten Ciamis dan banyaknya infrastruktur yang masih perlu mendapat peningkatan -sebagian kondisinya bahkan cukup memprihatinkan- semakin sering terungkap di media sosial. Pada satu sisi, keberadaan medsos seolah menjadi saluran penyambung suara hati nurani rakyat yang tak berdaya mengalami atau melihat keadaan di sekelilingnya. Di sisi lain, keberagaman cara menyampaikan aspirasi kadang membuat tidak nyaman dan menghambat komunikasi yang sehat.

    Sekarang memang jaman medsos, demikian opini kebanyakan. Masih lekat dalam ingatan, beberapa netizen berinisiatif mengadakan photoshot di area jalan yang rusak di Batumarta, OKU, Sumatera Selatan. Segera setelah viral dan menjadi pemberitaan media nasional, pemerintah setempat berjanji akan segera melakukan perbaikan.

    Langkah tersebut tampaknya menginspirasi nonoman Lakbok, Ciamis yang kemudian melakukan kegiatan serupa dan berhasil menarik perhatian wargnet serta media mainstream. Kondisi jalanan Lakbok memang sudah cukup lama dikeluhkan warga. Setelah foto ‘para model Lakbok’ viral dan mengemuka, tak kurang dari anggota tim khusus Gubernur Jabar dan dinas terkait ikut menanggapinya. Kini, kabar baiknya, konon perbaikan akan segera dilaksanakan tahun 2019 ini juga.

    Kabar lain datang dari daerah Pamarican. Terdapat foto jalanan yang rusak dan bertambah parah jika hujan datang. Kondisi tersebut kerap menjadi penyebab sering terjadinya pemakai kendaraan terjatuh. Sang pengunggah foto sendiri, adalah seorang pelajar yang mengeluhkan kondisi tersebut selalu membuatnya khawatir seragam putihnya kotor setiba di sekolah. Foto tersebut menyusul foto-foto dari daerah lain yang sudah muncul sebelumnya.


    Yang terbaru, akun warganet Asep Banjar mengunggah kondisi jalan di Dusun Sukamaju, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Jalan di lokasinya selalu tergenang air setiap kali hujan deras datang, diduga karena saluran drainase tidak berfungsi dengan baik, sebab genangan bukan berasal dari luapan sungai. Menurut Asep, ketika ditanyakan kepada pihak pemdes setempat, jalan tersebut dikatakan sudah beralih status dan kini berada di bawah tanggung jawab kabupaten.

    Keadaan ini sebenarnya cukup riskan, karena selain berpotensi menimbulkan kerusakan kendaraan, juga dapat menyebabkan kecelakaan bagi warga masyarakat yang melewatinya. Sebagai bentuk ungkapan kekecewaan, warga memilih berpose memancing dan mengunggah foto di laman facebook.


    “Maafkan kami ‘ngabala’ (menyampah, red.) di sosmed, kami butuh keadilan. Giliran pajak, kami dituntut tak boleh absen, tapi saat jalan rusak yang menengok pun tak ada. Kami tak berdaya, hanya bisa bicara,” tutur Asep pada CIAMIS.info.

    Ia juga mempertanyakan dana desa yang berjumlah milyaran, sementara anak-anak pelajar yang mau berangkat menuju sekolahnya harus selalu kebanjiran.

    Semoga keberadaan saluran komunikasi, terutama media sosial, di kalangan masyarakat Ciamis segera disambut dengan lebih optimal oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Pengelolaan komunikasi yang efektif pada gilirannya akan mendorong laju pembangunan Tatar Galuh lebih baik lagi. Meski kadang terdengar keras, keberadaan kritik adalah keniscayaan bagi kemajuan.

    Pendapat Anda?

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi