• FYI

    19 Juni 2021

    Pajero Plat Z Lemparkan Sampah, Nama Ciamis pun Jadi Kena Getah


    Biasanya, Sarmid selalu datang membawa kabar terbaru dari dunia maya, lalu menyampaikannya, dan membuat seluruh pengunjung di warung Bi Encar menjadi pendengar setia. Biasanya juga, suasana pagi lantas menjadi lebih bergairah. Sebenarnya, Bi Encar juga kerap menyetel radio untuk menemani para pembeli warungnya menyantap sorabi hangat dan menyeruput kopi, tetapi kehadiran sosok Sarmid yang selalu bersemangat akan lebih menyemarakkan suasana.

    Namun, pagi ini muka Sarmid terlihat agak muram dan memilih banyak diam. Satu seruput kopi hitam sepertinya belum mampu mengurangi kegundahannya. Sorabi hangat yang baru saja dipindahkan dari belakang oleh Bi Encar, juga belum disentuhnya.

    Terlebih, Bah Jahrowi belum juga tiba. Sahabat kental Sarmid itu, meski lintas generasi, biasanya menjadi penyeimbang diskusi pagi yang mengasyikkan. Sarmid dan Bah Jahrowi adalah duet maut yang menjadi ruh semangat obrolan pagi di warung Bi Encar ini.

    “Ada berita apa pagi ini, Mid?” Mang Encuy yang sedari tadi hanya melirik-lirik saja, akhirnya buka suara. Sarmid kembali menyeruput kopi hitamnya, lalu menghela napas panjang.

    “Kurang baik, Mang. Kemarin Jumat, 18 Juni 2021, dunia maya riuh lagi memanggil kata ‘Ciamis’, viral pokona mah ….”

    Euleuh, hébring, Jang Sarmid! Bagus atuh Ciamis jadi terkenal,” Bi Encar tiba-tiba nimbrung sambil memasukkan sekumpulan combro panas dari serok ke dalam wadah di atas meja. Wajah Mang Encuy terlihat girang melihat makanan kesukaannya. Sementara itu, di sebelahnya, Mang Adun tampak duduk santai sambil mengisap rokok.

    “Bagus apanya, Embi? Ini mah ada mobil mewah Pajero Sport, plat nomornya Z, diduga dari Ciamis, buang sampah sembarangan di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Nah, ada yang merekam kelakuan buruknya itu, Bi. Ngisinkeun, yang ada juga,” Sarmid akhirnya mencurahkan unek-uneknya.

    “Harrr, betul itu téh, Jang Sarmid?” Bi Encar melongo.

    “Salah, Embi, sidik Pajero seprot téh buang sampah sembarangan, kata Jang Sarmid juga,” Mang Encuy sigap menjawab, sambil cacamuilan karena mulutnya penuh dengan combro panas.

    “Ih, bukan begitu, Encuyy satéh,” Bi Encar menahan tawa, “jangan-jangan cuma pitenah, Jang Sarmid? Atau mungkin juga kan mobilnya sudah dijual?”

    “Ah, yang jelas ... masalahnya, ada videonya, Bi, ini sok geura pada lihat saja sendiri.”

    Sejenak, beberapa pasang mata tertuju pada video yang diputarkan Sarmid. Nonton bareng itu lantas diakhiri dengan gumaman-gumaman, kecuali Mang Adun yang tetap santai dan kembali menikmati rokoknya.

    “Sebetulnya Mamang ikut bangga, orang Ciamis juga kaya-kaya ternyata 'kan, bisa punya mobil mewah … ngan hanjakalna, buang sampah sembarangan ya, mana di tempat orang lagi, aduh ….”

    “Tapi da sebetulnya saya kalau ke kota juga sering lihat kelakuan seperti itu téh,” Mang Adun tiba-tiba ikut bicara, “jadi ini mah kebetulan sial kepergok kamera.”

    “Ah, kapan kamu téh ke kota, Sardun?” Mang Encuy mencoba mencairkan suasana dengan menggoda sobatnya.

    “Ishhh, gagabah, kami mah sering atuh, kan ngirim gula kawung téa, lumayan lah buat tambahan jajan barudak. Nah, waktu itu lagi nanggung gula kawung di jalan, tiba-tiba … belewer téh ada yang ngelempar sampah seperti di video tadi, buang sampah ke sungai. Ah, keterlaluan, hampir kena saya, untung meleset ….”

    “Nah, iya seperti itu, Mang Adun, sayang sekali masih ada yang bisa punya mobil tapi kelakuan tidak terpuji. Padahal buang sampah seperti itu tuh bisa mencemari lingkungan, sungai mampet, banjir ….”

    “Terus gimana, Sadun?” Mang Encuy penasaran.

    “Alhamdulillah lancar, Sarcuy, gula kawung semua kejual di toko sembako tujuan, da enggak pernah protes yang punya tokonya juga, bagus cenah kualitas gula kawung dari kampung kita mah, jaba harum ….”

    Bi Encar tak kuasa menahan tawa, lalu memilih ke belakang melanjutkan mengurus masakan. Semantara itu, Mang Encuy melongo sejenak sebelum melanjutkan dengan pertanyaan.

    “Maksud si gua mah, Sarduun, diomongan henteu sama kamu sopir mobilnya?” tanya Mang Encuy sambil menahan gemas.

    “Oooh, ya tidak atuh, Cuy, malu lah sayanya, itu mah pan ménak.”

    “Justru itu, Mang,” Sarmid menyela perbincangan dua sahabat itu, “seharusnya mereka yang kaya dan terpandang itu menjaga betul harkat martabatnya, jadi panutan buat semua. Apalagi di kejadian yang kemarin ini akhirnya bikin nama Ciamis kebawa-bawa. Iya, nama Ciamis kena getahnya. Warganet sekarang keponya luar biasa, diulik ini plat nomor dari mana, sampai diketahui nunggak pajaknya, dan lain sebagainya.”

    “Waduh, betul itu téh, Jang Sarmid?” Mang Encuy terperangah.

    “Ya jelas salah, Sarcuuuy. Pajak mah seharusnya dibayar tepat waktu, atuh!” Mang Adun seolah mendapat amunisi, dan Mang Encuy cuma bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala.

    “Bukan cuma kelakuan penumpang di mobil ini sebetulnya yang bikin sedih, Mang, tapi ada juga komentar yang bilang ini téh kelakuan orang kampung yang lagi main ke kota,” Sarmid buka suara lagi, “seolah-olah perilaku buang sampah sembarangan itu bagian dari kebiasaan kita yang hidup di kampung.“

    “Waah, ya tidak bisa dong kalau itu mah!” teriakan Mang Adun cukup keras. Produsen gula kawung level super mikro itu, entah kerasukan apa, tiba-tiba saja berdiri sambil menjentikkan jarinya, membuang rokoknya jauh-jauh ke udara. Mang Encuy yang sedang berusaha menyeruput kopi, begitu kaget hingga menyemburkan minuman itu dari mulutnya. Sarmid sama kagetnya, sampai ikut berdiri dari bangkunya. Sesaat kemudian, Bi Encar juga datang sambil tampak kebingungan.

    “Pagi-pagi aya ku ramé pisan, ada apa ini téh, luuur?” tiba-tiba saja terdengar suara dari arah samping warung.

    Sarmid, Bi Encar, Mang Encuy dan Mang Adun kehilangan kata-kata. Sosok Bah Jahrowi yang kharismatik dan ditunggu-tunggu sejak tadi, akhirnya muncul juga dengan wajah tenangnya. Hanya saja, di kepalanya, puntung rokok mulai menimbulkan asap mengelun pada kopiah yang dipakainya.

    Editor: @ciamis.info

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi