• FYI

    27 Juli 2022

    Seuntai Kenangan Manis di Stasiun Ciamis


    Awal dari tulisan ini, tampaknya aku harus berterima kasih dulu pada kebijakan Work From Home yang hadir selama berlangsungnya pandemi Covid-19. Alasanku sederhana, WFH membuatku bisa pulang dan menikmati kehidupan di kampung halaman, yang tak lain adalah Ciamis. Aku menikmati udara paginya, panas siangnya, dan sepi malamnya. Suasana itu jarang kurasakan semenjak 17 tahun lalu, saat aku lulus dari sekolah menengah pertama. Ya, hidupku sejak itu memang banyak dihabiskan di luar Ciamis, tapi sampai saat aku berubah KTP menjadi warga kota lain pun, kalau ditanya “orang mana?”, tetap saja aku jawab: “Ciamis”.

    Ketika orang bertanya, “Di Ciamis ada apa? Rame gak?”, ya betul, jawabannya Ciamis memang tidak seperti kota-kota lain yang gemerlap. Ciamis terbilang cukup sepi, namun candunya untuk selalu memaksaku kembali ke kota ini sangat kuat. Entah magnet apa yang diciptakan Kerajaan Galuh tempo doeloe, karena sampai sekarang daya tariknya untuk membawaku segera pulang ke rumah di Ciamis selalu menjadi lambaian yang sangat menggoda, ketika sedang terjebak oleh penat dan hiruk pikuk di kota lain.

    Dari sekian banyak cerita tentang Ciamis, ada salah satu yang begitu membekas bagiku belakangan ini, yaitu terjebak nostalgia di Stasiun Kereta Api-nya. Agak menggelikan memang, sebab Stasiun Ciamis bukanlah icon kota seperti Taman Raflesia, Masjid Agung, Jambansari, atau tempat lainnya yang menarik untuk diceritakan. Namun, aku ingin membagikan kenangan yang terpatri kuat dan tak pernah pudar sedikitpun dalam benakku, tentang Stasiun Ciamis ini.

    Sejak tahun 2019, Stasiun Ciamis menjadi pemberhentian beragam kereta. Jika dulu kita harus ke kota Banjar atau Tasikmalaya untuk naik dan turun Kereta Api, sekarang orang Ciamis bisa naik dan turun di Stasiun Ciamis dan memilih lebih banyak ragam kereta sesuai kebutuhannya.

    Namun, bukan pengalaman naik turun kereta di Ciamis yang menjadi kenangan yang sangat melekat bagiku, melainkan kebersamaanku dengan Ibu pada sekitar tahun 1995-2002. Itu rentang waktu yang aku ingat, dan keadaan Stasiun Ciamis dulu dan sekarang banyak berbeda, mulai dari keamanan hingga kenyamanannya.

    Masih kuingat, dulu warga sipil tanpa memiliki tiket kereta pun bisa masuk atau sekadar menyeberangi rel untuk menuju ke kampung di seberang Stasiun. Itulah kenangan yang tersimpan kuat dan tak pernah kabur dari ingatan. Sekarang, aktivitas seperti itu sudah tidak bisa dilakukan karena area stasiun sudah dibeton untuk alasan keamanan, dan akses bebas untuk umum tidak diperbolehkan. Mereka yang tak memiliki tiket, tak bisa lagi berlalu-lalang seperti dulu di dalam Stasiun Ciamis.


    Setiap turun dari kereta, sejenak aku pasti duduk di kursi tunggu penumpang, melihat pagar beton yang kini menutupi pemandangan perkampungan di seberangnya. Alih-alih memandangi pagar beton, aku malah melihat bagaimana diriku yang dulu masih siswa taman kanak-kanak duduk di seberang sana, sedikit menjauh dari rel kereta. Hal itu berlangsung setiap akhir pekan dan ibuku akan bilang, “Kita tunggu kereta lewat.”

    Ketika kereta datang, aku berdiri dan melambaikan tangan, seolah ingin memamerkan hasratku yang ingin diajak naik kereta. Setelah kereta lewat, Ibu mengajakku berjalan kaki melewati perkampungan, sampai akhirnya kami berdua tiba di Pasar Ciamis.

    Kami berdua melakukan hal sederhana itu nyaris setiap akhir pekan, karena Ibu hanya punya waktu di saat itu, setelah dari hari Senin hingga Jumat beliau bekerja. Kenangan manis itu tidak sedikit pun memudar, dan karenanya aku yang kini sudah tumbuh dewasa menjadi sangat suka naik kereta. Kalau di perjalanan kulihat anak-anak kecil melambaikan tangan mereka dari pinggir rel, aku seolah diingatkan kembali bagaimana diriku dulu juga melakukan hal yang sama, seolah meneriakkan harapan ingin ikut.

    Aku tumbuh dewasa dengan kenangan itu, tetapi lantas terpenjara oleh rasa sesak di dada, ketika akhirnya tak bisa lagi menikmati perjalanan naik kereta berdua bersama Ibu tercinta. Beliau kini berjalan pun menggunakan kursi roda, dan ada keterbatasan fisik untuk aktivitasnya.

    Namun, singgah di Stasiun Ciamis setidaknya selalu memberiku rasa lega. Itu salah satu alasan kenapa aku selalu ingin pulang ke kampung halaman dengan naik kereta. Di stasiun ini, aku bisa berdiam sedikit lebih lama dan melihat ke tempatku dulu berdiri dan melambaikan tangan, lalu meneriakkan “Dadaaah!” pada kereta yang lewat. Saat itu, aku melihat Ibu tersenyum lega karena melihatku bahagia.

    Ah, bagaimana caranya aku bisa memikul tanggung jawab atas kenangan ini? Stasiun Ciamis selalu menjawabnya dengan lembut. “Pulang!” katanya.

    Penulis: Lala Hikmah Maulani (@adfala)
    Foto: @iwan.suparman1
    Editor: @ciamisnulis

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi