• FYI

    07 Juni 2023

    Menengok Keberadaan Ruang Publik di Obyek Wisata Situ Lengkong Panjalu


    Setiap daerah pasti mempunyai situs budaya atau warisan leluhur yang menjadi ciri khasnya, tidak terkecuali Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, lebih tepatnya di daerah Panjalu. Panjalu mempunyai salah satu lokasi yang sering dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai daerah. Lokasi ini bernama Situ Lengkong Panjalu, yang bertempat di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

    Situ sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya sebuah danau. Seperti kebanyakan destinasi wisata lainnya, di kawasan Situ Lengkong Panjalu terdapat banyak pedagang yang menjual berbagai macam suvenir dan jajanan khas Panjalu yang dapat dijadikan buah tangan ketika meninggalkan lokasi Situ Lengkong ini.

    Menurut keterangan informan yang telah diwawancari oleh penulis, yaitu Pak H. Ono sebagai sesepuh Panjalu, Situ Lengkong bukan sebuah danau alami, melainkan danau buatan yang dibendung oleh Eyang Borosngora sesuai dengan kisah yang melekat di masyarakat setempat.

    Makam yang terdapat di Pulau Nusa gede (Dok. Pribadi)

    Salah satu hal yang menjadi daya tarik dari Situ Lengkong Panjalu ini adalah keberadaan pulau yang disebut Nusa Gede di tengah-tengah danau. Di pulau tersebut terdapat makam dari leluhur Panjalu yang bernama Prabu Hariang Kencana yang dahulu merupakan penerus dari Kerajaan Panjalu yang menyebarkan agama Islam di daerah Panjalu. Karena hal tersebut, banyak penduduk lokal maupun wisatawan dari luar wilayah Ciamis yang mendatangi pulau tersebut untuk berziarah dan memanjatkan doa di sekeliling makam leluhur tersebut.

    Selain itu, terdapat juga beberapa benda-benda pusaka yang memang digunakan oleh leluhur pada zaman dahulu. Benda-benda pusaka tersebut setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dalam acara bernama Nyangku pada bulan Maulid atau Rabiul Awal. Waktu untuk proses pencucian tersebut terbatas, artinya sebelum waktu dzuhur harus sudah selesai. Meskipun begitu, tidak sedikit juga wisatawan yang berkunjung untuk sekadar berbelanja ataupun berekreasi dengan menaiki perahu dan mengelilingi danau bersama keluarga.

    Pintu Masuk Makam di Pulau Nusa Gede (Dok. Pribadi)

    Keberadaan Situ Lengkong Panjalu tentu tidak lepas dari istilah ruang publik. Ruang publik merupakan istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Jurgen Habermas. Setiap individu bisa melakukan opini publik dengan bebas sesuai yang mereka ingin ucapkan. Perilaku mereka saat memberikan opini publik di ruang publik tidak terlalu mengikuti aturan yang kaku, seperti tunduk pada hukum birokrasi negara. Tentunya hal ini sesuai dengan fungsi dari Situ Lengkong Panjalu. Wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut dapat bebas berekspresi sesuai dengan perspektifnya masing-masing tanpa harus mengikuti kebudayaan yang melekat di masyarakat Panjalu. Salah satu pengunjung Situ Lengkong Panjalu merasa bersyukur bisa berkunjung ke tempat bersejarah dan ikonik dari Kecamatan Panjalu ini.

    Daratan di Pinggir Situ Lengkong Panjalu (Dok. Pribadi)

    "Intinya ketika kita mengunjungi makam, niatkan hanya untuk berziarah dan berterima kasih karena sudah menyebarkan agama Islam. Meskipun terdapat benda-benda pusaka yang dipajang, kita sebagai umat beragama dilarang menyembah benda-benda tersebut karena itu musyrik. Jadi kita cukup berperilaku seperti biasa saja", ujar salah satu pengunjung Situ Lengkong Panjalu.

    Penulis: Saniyah Nabila Fikriyah, Mahasiswi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Telkom

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi