Kegiatan puncak Peringatan Hari Desa Nasional Tahun 2026 yang digelar Kamis (15/1/2026) di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjadi momen istimewa tersendiri yang turut membawa kebanggaan bagi warga Tatar Galuh.
Salah satu putra terbaik Kabupaten Ciamis, Isal Nur Hidayatulloh (27), yang merupakan pemuda pegiat upaya pelestarian lingkungan hidup turut mendapat kesempatan berharga mengikuti kegiatan tingkat nasional ini.
Warga Dusun Sukasirna, Desa Maparah, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, tersebut mendapat undangan resmi dari pemerintah pusat untuk menerima penghargaan sebagai peraih Juara 2 Lomba Pemuda Pelopor Desa Tingkat Nasional Bidang Lingkungan.
Para pemuda pelopor dalam berbagai bidang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, menerima langsung penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto, bersama Wakil Menteri Ahmad Riza Patria.
Kegiatan peringatan Hari Desa Nasional 2026 yang mengusung tema "Bangun Desa Bangun Indonesia: Desa Terdepan untuk Indonesia" ini turut dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, jajaran kementerian, lembaga, dan pemerintahan daerah terkait, perwakilan asosiasi desa se-Indonesia, para kepala desa, dan para stakeholder pembangunan desa lainnya.
Isal mengungkapkan rasa syukurnya dapat memenuhi undangan dan hadir pada kegiatan tersebut. “Saya bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan di awal tahun ini. Alhamdulillah, diberikan kesempatan mengikuti kegiatan ini dengan bangga, karena menerima penghargaan bersama teman-teman terbaik lainnya dari berbagai pelosok desa di Nusantara,” tuturnya.
Ia memandang semua penerima apresiasi adalah para pemuda yang punya versi terbaik masing-masing, dengan latar belakang yang berbeda-beda.
“Penghargaan hanyalah bonus saja, sebab yang terpenting adalah setiap individu akan tetap menjadi dirinya masing-masing yang lebih baik dari sebelumnya, dan terus konsisten membangun desa, serta selalu menjadi insan yang bermanfaat dan berdampak ke depannya,” imbuhnya.
Bangga Tunjukkan Identitas Sunda, Ajak Perkuat Literasi Pelestarian Lingkungan
Isal mengaku bangga karena bisa membawa nama Kabupaten Ciamis dan Provinsi Jawa Barat di tingkat nasional. Karenanya, ia sengaja membawakan tema dresscode Sunda dan memakai warna ungu sebagai penegasan jatidiri “Ciamis pisan”.
Ia berharap anak-anak muda Ciamis dapat ikut termotivasi untuk menjadi versi terbaik masing-masing, bahkan lebih baik dari apa yang dicapainya, tidak hanya pada bidang lingkungan, tetapi pada berbagai pengabdian lainnya.
“Ayo bareng-bareng berdampak, dari anak muda saatnya kita bangun desa, bangun Ciamis, dan bangun Indonesia,” ajaknya penuh semangat.
Ditanya mengenai kepedulian kaum muda terhadap isu pelestarian lingkungan saat ini, pendiri Paguyuban Sadar Lingkungan tersebut menganggap hingga kini masih terdapat keterbatasan dalam berbagai hal yang harus menjadi perhatian bersama.
“Kepedulian kaum muda terhadap isu-isu lingkungan, yang saya ketahui, masih sangat terpengaruh oleh keterbatasan, khususnya dalam hal waktu, tenaga, dan materi. Kadang anak-anak muda dihadapkan dengan pilihan yang sulit untuk tetap bertahan dan concern dalam isu-isu lingkungan karena sudah ada di fase prioritas lain, khususnya bagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikannya. Ada dilema dengan situasi ini, karena di sisi lain prioritas individu dan tuntutan keluarga pasti lebih tinggi,” bebernya.
Tak hanya itu, Isal juga mengakui bahwa perubahan zaman telah membawa pengaruh pada karakter anak muda. Hal itu ditambah lagi dengan minimnya literasi tentang isu lingkungan, yang kalah atau terlambat jika dibandingkan dengan merebaknya perkembangan gaya hidup anak muda.
Isal mencontohkan popularitas dunia gamers dan lainnya, yang lebih cepat diadopsi dan mendominasi anak-anak muda. Hal itu menurutnya sedikit banyak dapat menutup pandangan mereka untuk aktif dan concern terhadap isu-isu lingkungan. Diakuinya, kondisi ini menjadi PR tersendiri bagi pihaknya untuk terus memasyarakatkan isu dan gaya hidup pro lingkungan atau ramah lingkungan.
“Melihat fenomena ini, saya pikir kita perlu pendidikan khusus mengenai lingkungan agar bisa membuka kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Jangan sampai saat lingkungan sudah rusak, sampah di mana-mana, gunung-gunung sudah beralih fungsi, barulah kita disadarkan oleh bencana yang terjadi. Jangan sampai seperti yang kita lihat di Pulau Sumatera, di Aceh dan Padang sekarang ini,” pungkasnya.
Editor: @ciamisnulis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar