• Ads

    31 Juli 2026

    Menolak Jadi Kota Pensiunan: Ciamis Kini dan Nanti di Mata Gen Z


    “Masih melek rupanya.”

    Seperti angin lalu, sebuah basa-basi yang tak perlu dijawab panjang-panjang. Namun bagi kami, generasi muda di Tatar Galuh, setiap malam justru menjelma menjadi waktu yang menggelisahkan. Mata ini enggan terpejam bukan karena insomnia, melainkan karena rasa cemas akan masa depan. Kami khawatir esok hari akan berjalan lebih baik atau justru semakin tertinggal. Kecemasan akan masa depan telah menjadi "sarapan" sebelum mimpi dimulai. Kadang kami bertanya pada diri sendiri, “Apakah setelah fajar terbit, nasib daerah ini benar-benar akan berubah menjadi lebih baik?”

    Keresahan ini nyata, terutama bagi saya, anak kelahiran 2002 yang beruntung "nyasar" ke bangku kuliah melalui jalur beasiswa. Di lingkungan pelosok desa Ciamis, sebuah keberuntungan akademis sering kali harus bertabrakan dengan tembok narasi lama. Celetukan seperti, "Sudahlah, kamu itu perempuan. Sekolah sampai SMA, apalagi sambil mondok enam tahun, itu sudah cukup matang untuk kembali ke kampung halaman. Kalau tidak menikah, ya minimal jadi guru diniyah atau bantu orang tua di rumah," masih subur terdengar. Kalimat pamungkasnya pun hampir selalu sama: "Tos wayahna ngahihirup lembur sorangan" (sudah masanya menghidupkan kampung halaman sendiri).

    Padahal, bagi kami generasi muda di era digital, narasi lama itu tidak lagi cukup untuk mengimbangi derasnya arus perubahan zaman. Prinsip Gen Z bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan bagaimana dapat hidup dengan sejahtera dan bahagia. Desa boleh saja jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, tetapi bukan berarti harus luput dari kemajuan. Rasanya melelahkan jika setiap hari menjalani rutinitas yang stagnan, melihat anak muda di kota besar bebas mengeksplorasi berbagai peluang baru, sementara kami di desa sering kali hanya kebagian sisa-sisanya.

    Ciamis memang berhasil membuat siapa pun yang merantau ingin pulang karena ketenangannya. Ada dua sisi mata uang yang saling berdampingan dalam benak anak muda Ciamis saat ini: kenyamanan batin yang tiada tanding, dan keresahan akan peluang masa depan. Dari sisi kenyamanan, biaya hidup yang terjangkau serta lingkungan yang asri, bahkan diakui melalui penghargaan kota terbersih di ASEAN dan Piala Adipura, menjadi alasan utama daerah ini selalu dirindukan. Kehadiran ruang publik seperti Alun-alun Ciamis yang semakin rapi, daya tarik wisata seperti Jatisewu dan Galuh Park, menjamurnya kafe estetik, hingga aktifnya komunitas seni dan e-sports lokal menunjukkan bahwa Ciamis mulai beradaptasi dengan gaya hidup modern.

    Namun, di balik ketenangan estetis tersebut, realitas yang ironis mulai menampakkan diri. Isu yang paling sering muncul di setiap tongkrongan adalah terbatasnya lapangan pekerjaan. Arus globalisasi menghadirkan cara kerja baru yang semakin dekat dengan teknologi digital. Kami mendambakan pekerjaan yang fleksibel, memiliki jenjang karier yang jelas, atau setidaknya mampu memberikan kesejahteraan yang layak. Kami bukan enggan menyentuh lumpur sawah, tetapi sektor agraris hari ini masih dipandang belum mampu menjamin kesejahteraan masa depan bagi sebagian besar generasi muda.

    Ironisnya, jangankan korporasi besar dengan lingkungan kerja yang profesional, lowongan pekerjaan lokal pun masih sangat terbatas. Akibatnya, ijazah yang diperjuangkan bertahun-tahun sering kali hanya menjadi tiket untuk merantau ke kota lain. Sistem pendidikan masih belum sepenuhnya mampu melahirkan lulusan yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, sementara daerah sendiri belum siap menyerap potensi besar yang dimiliki generasi mudanya.

    Ketika potensi dan ekspektasi anak muda sudah melambung tinggi, daerah ini justru belum siap menampungnya. Bagaimana Ciamis dapat mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas apabila peluang terus tertutup oleh keterbatasan akses dan pembangunan yang belum merata? Pembangunan fisik memang penting, tetapi tidak boleh hanya berpusat di wajah kota. Pusat kota terus dipercantik, sementara sebagian wilayah pelosok masih menunggu perhatian yang sama.

    Dampak dari belum optimalnya penyerapan energi muda itu terlihat jelas di ruang digital. Kolom komentar media sosial dipenuhi berbagai keluhan masyarakat, salah satunya mengenai maraknya praktik pungutan liar (pungli). Banyak orang mencaci pelakunya. Padahal, meskipun praktik tersebut tidak dapat dibenarkan, fenomena itu juga mencerminkan persoalan ekonomi dan terbatasnya kesempatan kerja yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Begitu pula dengan anak-anak muda yang kerap dicap negatif karena terlibat geng motor atau menghabiskan waktu tanpa arah. Mereka tidak akan mudah terjebak dalam lingkaran tersebut apabila tersedia lebih banyak ruang pengembangan diri, pelatihan keterampilan, dan wadah yang mampu menyalurkan minat serta bakat mereka secara positif.

    Jika kondisi ini terus dibiarkan, fenomena brain drain atau migrasi besar-besaran generasi muda ke luar daerah berpotensi menjadi bom waktu bagi perkembangan Ciamis. Infrastruktur pendukung kreativitas digital dan inovasi harus segera ditingkatkan. Akses internet yang belum merata hingga pelosok desa serta minimnya pusat pelatihan berbasis teknologi membuat sebagian anak muda merasa tertinggal dari perkembangan global.

    Kami mendambakan Ciamis tidak hanya menjadi "kota pensiun" yang nyaman untuk hari tua, tetapi juga menjelma sebagai ekosistem yang hidup dan suportif bagi para kreator konten, pengusaha muda, serta pekerja lepas (freelancer). Hal tersebut dapat diwujudkan melalui pemerataan akses internet hingga pelosok desa, pelatihan keterampilan digital yang berkelanjutan, serta kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku usaha dalam membuka lebih banyak peluang kerja. Dengan demikian, anak muda tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dari daerahnya sendiri.

    Bukan berarti kami ingin menghilangkan budaya luhur atau nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan sejak dahulu. Sama sekali bukan. Yang kami perjuangkan adalah bagaimana pendidikan yang telah ditempuh bertahun-tahun benar-benar memiliki nilai bagi masa depan, sekaligus bagaimana minat, bakat, dan potensi generasi muda dapat diberdayakan agar tidak terbuang sia-sia.

    Kami tidak pernah berharap Ciamis kehilangan jati dirinya demi mengejar citra kota metropolitan. Kemajuan yang kami impikan bukanlah deretan gedung pencakar langit atau hiruk-pikuk kota besar. Kami ingin Ciamis tetap menjadi daerah yang hijau, religius, nyaman, dan berakar pada budaya Tatar Galuh, tetapi juga mampu menyediakan kesempatan yang membuat generasi mudanya memilih bertahan, berkarya, dan hidup sejahtera tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya.

    Pada akhirnya, kritik ini lahir bukan karena kebencian, melainkan karena rasa cinta yang teramat besar kepada tanah kelahiran. Kami ingin bertahan dan membangun tanah Galuh, bukan sekadar menjadikannya tempat singgah saat musim liburan tiba. Jika pemerintah, masyarakat, dan anak mudanya mampu menurunkan ego sektoral untuk bergerak bersama, kesejahteraan yang merata bukanlah sesuatu yang mustahil. Masa depan Ciamis tidak boleh hanya indah di Alun-Alunnya, tetapi juga harus tumbuh makmur, berdaya, mandiri, dan maju hingga ke sudut-sudut pelosok desanya. (Penulis: @al_lys30/Editor: @ciamisnulis)

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi