• Ads

    31 Juli 2026

    Menjaga Napas Tatar Galuh: Konservasi Alam dan Modernisasi Informasi di Situs Karangkamulyan


    Ciamis tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah panjang Tatar Galuh. Salah satu bukti kebesarannya yang masih bisa kita kunjungi sampai sekarang adalah Situs Karangkamulyan. Ketika kemarin saya menginjakkan kaki ke dalam area situs, suasana rindang dari pepohonan tua langsung menyelimuti saya, dengan kesejukan alam yang magis. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan rahim dari identitas kebudayaan Ciamis masa kini yang merawat memori kolektif tentang kisah Ciung Wanara. Di sinilah letak keistimewaan Karangkamulyan, sebuah ruang hijau di mana sejarah dan alam berpadu dengan selaras.

    Namun, jika kita mengamati kondisi di lapangan dengan lebih jeli belakangan ini, ada banyak hal riil yang perlu dievaluasi demi kenyamanan pengunjung. Fakta saat ini menunjukkan bahwa digitalisasi berupa sistem QR Code baru tersedia di bagian loket depan saja. Begitu saya melangkah lebih jauh lagi ke dalam, papan informasi fisik atau plang penanda situs justru banyak yang kondisinya memudar, berkarat, dan rusak dimakan usia.

    Ketiadaan papan informasi yang memadai ini membuat nilai edukasi sejarah menjadi terhambat, karena tidak semua orang tua melek teknologi digital untuk memindai kode di depan. Oleh karena itu, pengelola perlu melakukan modernisasi informasi dengan memperbarui plang fisik di setiap titik situs agar pengunjung tahu jelas sejarah tempat yang mereka pijak, sekaligus memperluas sistem QR Code demi memfasilitasi generasi muda yang membutuhkan penyampaian visual sejarah dengan lebih interaktif di setiap titik situs agar tidak merasa jenuh.

    Keterbatasan informasi ini melahirkan kerancuan di beberapa titik krusial. Sebagai contoh, di area Situs Panyandaan, di situ terdapat dua situs berdekatan yang salah satunya diyakini sebagai makam Sri Bhagawati Pohaci, tetapi di lokasi ini tidak ada plang keterangan sama sekali sehingga pengunjung awam melewatkannya begitu saja.

    Bukan hanya di Panyandaan, ketika saya menyusuri jalan ke arah Situs Sipatahunan juga sangat minim informasi. Kita tidak tahu batas dari situs tersebut sebelah mana dan makna dari sejarahnya terasa kurang jelas bagi pengunjung. Ditambah lagi, jalur penunjuk arah di Sipatahunan sangat membingungkan karena tidak memberi tahu apakah jalan tersebut akan tembus ke rute depan atau merupakan jalan buntu, sehingga pengunjung terpaksa berspekulasi saat melangkah di rute bawah yang masih sangat rimbun oleh semak belukar dan berisiko keamanan tinggi karena rawan satwa liar seperti ular.

    Kondisi rimbun oleh semak belukar yang kurang terawat tersebut kian memprihatinkan saat saya tiba di pinggiran aliran Sungai Citanduy di bawah Situs Sipatahunan. Keasrian alam di titik ini justru dinodai oleh tumpukan sampah dan limbah yang terbawa arus sungai. Di area ini pula, saya menyaksikan langsung bukti nyata kurangnya pemeliharaan aset sejarah.

    Sebuah bangunan pondok panggung bernama “Pasanggrahan Rasa” yang memiliki prasasti peresmian bertanggal 1 September 2020, kini kondisinya sudah rusak, lapuk, dan terbengkalai di tengah kepungan tanaman liar. Padahal, jika dikelola dengan lebih bijak, area ini menyimpan potensi ekowisata air yang sangat menjanjikan. Saya melihat adanya aktivitas warga lokal yang menjaring ikan menggunakan perahu tradisional. Potensi ini sebenarnya bisa dirangkul oleh pihak pengelola untuk dikembangkan menjadi paket wisata menyusuri sungai menggunakan perahu, dengan catatan kebersihan sungai dan keamanan jalur setapaknya dibenahi terlebih dahulu.

    Bergeser ke titik paling ujung setelah melewati makam Adipati Panaekan, kita akan menemukan Situs Patimuan yang merupakan tempat pertemuan ikonik antara Sungai Citanduy dan Cimuntur. Area Patimuan ini sebenarnya sangat luas dan memiliki atmosfer yang sangat nyaman untuk bersantai menikmati pemandangan alam. Namun, potensi ruang komunal seindah ini lagi-lagi terhalang oleh minimnya fasilitas penunjang yang layak. Fasilitas gazebo beratap yang ada di sekitarnya berada dalam kondisi reot, lapuk, dan membahayakan keselamatan pengunjung karena rawan roboh.

    Lokasi yang luas ini sering kali berakhir sepi karena ketiadaan fasilitas istirahat yang aman atau stan kuliner kecil yang tertata. Ironisnya, ketika tempat ini ramai oleh kunjungan wisatawan, baik dari kalangan umum maupun rombongan instansi pendidikan, kesadaran lingkungan yang rendah sering kali menyisakan tumpukan sampah, akibat belum adanya tempat sampah di berbagai area.

    Oleh karena itu, rencana pembenahan fisik di masa depan harus dilakukan secara menyeluruh, bijak, dan tetap menjaga keaslian lingkungan. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah pengadaan fasilitas sampah yang memadai di seluruh area situs, bukan hanya di titik-titik tertentu. Pengelola wajib menyediakan tempat sampah penunjang yang tersebar secara berkala di sepanjang jalur trekking, agar pengunjung tidak lagi memiliki alasan untuk membuang sampah sembarangan.

    Kemudian renovasi fisik ini jangan sampai terjebak pada tren yang pasaran. Pihak pengelola tidak perlu menambahkan spot foto pasaran seperti spot foto berbentuk hati atau cat warna-warni yang mencolok. Sentuhan dekorasi yang tidak relevan tersebut justru akan merusak estetika alami hutan purba dan mengikis nilai kesakralan sejarah Tatar Galuh. Pembangunan bangku tempat duduk, toilet, maupun bak sampah baru wajib menggunakan material alami seperti batu atau pun kayu agar tetap menyatu dengan ekosistem hutan.

    Sebagai langkah penutup, pembenahan fisik ini juga harus dibarengi dengan strategi aktivasi tempat agar Karangkamulyan tidak kembali sepi setelah direnovasi. Untuk menarik minat generasi muda secara sukarela tanpa paksaan tugas sekolah, pengelola dapat mengadakan event atau festival kebudayaan berkala yang dikemas secara kreatif di kawasan bagian luar situs yang saat ini fasilitasnya sudah tertata dengan sangat baik. Di area luar inilah seluruh pusat keramaian, aktivitas seni, hingga stan kuliner masyarakat dipusatkan. Sementara itu, area dalam hutan situs harus tetap dijaga ketat sebagai zona konservasi yang tenang, bersih, dan sakral.

    Aturan tegas mengenai larangan berburu juga harus dipasang jelas demi melindungi habitat satwa asli seperti kawanan monyet yang kian terancam. Melalui pembagian fungsi yang tegas serta perpaduan antara modernisasi informasi dan perlindungan alam, Situs Karangkamulyan di masa depan akan tumbuh menjadi ruang sejarah yang hidup, lestari, dan tetap dihormati oleh generasi mendatang. (Penulis: @viindaze/Editor: @ciamisnulis)

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi