• Cekidot

    Asal-usul Situ Lengkong Panjalu

    Situ Lengkong atau Situ Panjalu berada di wilayah Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Kata ‘situ’ berarti danau, sedangkan ‘lengkong’ sendiri bermakna senada, yakni teluk bagian pinggir sungai besar, atau pelebaran di bagian belokan saluran air (Kamus R.A. Danadibrata). Danau ini berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas lebih kurang 67,2 hektar. Sebuah pulau bernama Nusa Larang atau Nusa Gede terletak di tengah-tengah danau tersebut.

    Asal-usul Situ Lengkong menurut cerita rakyat yang diwariskan seraca turun temurun dan berdasar Babad Panjalu, sebagaimana tercantum pada laman wikipedia, menyatakan bahwa sebenarnya danau tersebut adalah 'danau buatan' atau hasil usaha manusia. Sejatinya, menurut cerita itu, asalnya tempat tersebut adalah sebuah lembah yang mengelilingi bukit kecil bernama Pasir Jambu (pasir berarti bukit, bs Sunda, red.)

    Bagaimana kisahnya sehingga lembah tersebut menjadi danau?

    Gerbang masuk Nusa Larang (foto: Wikipedia)
    Alkisah, ketika Sanghyang Borosngora selesai dari berguru agama di Tanah Suci Mekah, ia pulang ke kampung halamannya dengan membawa oleh-oleh beberapa benda. Salah satu cenderamata ajaib adalah sebuah gayung batok kelapa yang bagian bawahnya bolong dan bernama ‘gayung bungbas’.

    Gayung Bungbas atau Gayung Kerancang merupakan pemberian dari ayah Sanghyang Borosngora yang bernama Prabu Cakradewa, Raja Panjalu, yang diserahkan bersama perintah untuk menuntut ilmu kesempurnaan sebagai bekal sebelum melanjutkan tahta. Sebelumnya Sahyang Borosngora pernah berkelana menuntut berbagai ilmu ke berbagai tempat tetapi ternyata kemudian diketahui memiliki rajah/tato ilmu kekebalan yang berasal dari Ujung Kulon.

    Kepemilikan ilmu tersebut dianggap tabu bagi keluarga kerajaan Panjalu karena bertentangan dengan ajaran kerahayuan. Maka Prabu Cakradewa ‘menghukum’ anaknya dengan perintah menuntut ilmu sejati dengan tanda kelulusan mampu membawa air dengan Gayung Bungbas. Gayung itulah yang kemudian berisi air zamzam dan dibawa Sanghyang Borongora ketika pulang.

    Air dari Gayung Bungbas kemudian dikucurkan di lembah yang mengelilingi Pasir Jambu. Lembah tersebut berubah menjadi danau, sementara Pasir Jambu kemudian diberi nama Nusa Larang yang berarti Pulau Larangan atau pulau yang disucikan.

    Keberadaan Nusa Larang seirama dengan penyebutan terhadap kota Mekah, yakni ‘Tanah Haram’, tempat yang disucikan. Sebutan tersebut membawa konsekuensi pembatasan atas akses masuk ke kawasan tersebut, ada ketentuan tentang siapa, kapan dan ketentuan ketat yang mengaturnya. Tidak sembarang orang boleh masuk ke Nusa Larang dan tabu sekali melakukan pantangan atau hokum di tempat tersebut.

    Nusa Larang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu pada masa pemerintahan Sanghyang Borosngora. Pulau tesebut kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir jasad para pemimpin Kerajaan Panjalu, yakni Prabu Rahyang Kancana, Raden Tumenggung Cakranagara III, Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang Aldakusumah, Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) dan Raden Prajasasana Kyai Sakti.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi