• Cekidot

    Kisah Sukarnah, Gadis Ciamis Peraih Medali Asian Games 1958 Yang Berubah Menjadi Laki-laki

    Sukarnah. Nama ini pernah sangat terkenal pada jamannya, menjadi buah bibir di mana-mana. Pasalnya, gadis asal Ciamis ini meraih medali perunggu pada nomor lempar lembing Asian Games III tahun 1958 di Tokyo, Jepang. Ia mencatatkan lemparan sejauh 45,3 meter. Bendera merah putih pun berkibar dan mengangkat nama Indonesia di pentas Asia.

    Pantas jika negara sangat berterima kasih. Sukarnah memang luar biasa, ia adalah satu-satunya peraih medali dari sekitar 100 orang atlet yang diberangkatkan ke Jepang. Ia dielu-elukan dan dibanjiri pujian. Bahkan Bung Karno dan para menterinya mengadakan penyambutan di Istana Negara.

    Sukarnah sangat terharu, terlebih karena sangat mengidolakan Bung Karno. “Saat itu ada Pak Leimena dan Pak Subandrio, juga para menteri lainnya. Beliau katakan: Saudara-saudaraku para menteri, anak ini (Sukarnah) adalah pahlawan nasional. Meski negara masih miskin, dia mampu membuat bendera merah putih berkibar di Tokyo,” kenang Sukarnah.

    Bagi Sukarnah, apresiasi Presiden Soekarno adalah segalanya. “Pada saat menerima tim atlet Indonesia, Bung Karno menepuk pundak saya dan mengatakan saya sudah berjasa bagi bangsa dan negara," tuturnya, seperti ditulis di laman Kick Andy. Pujian dari Kepala Negara dirasakannya sangat berarti. "Saya bangga sekali waktu itu. Saya tidak mikir untuk mendapatkan penghargaan macam-macam. Saya membela Indonesia dengan semangat nasionalisme," tandasnya.

    ***

    Perjalanan karir Sukarnah sebagai atlet dimulai sejak masa kecil. Nama aslinya Karnah. Ia dilahirkan pada 1 February 1940 di daerah Rancah, Ciamis, berasal dari keluarga petani yang cukup berada. Menginjak usia sembilan tahun, Karnah bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Pagambiran, Cisaga dan kemudian melanjutkan ke SGB (Sekolah Guru B) II di Ciamis. Tidak banyak yang mampu melanjutkan sekolah ke tingkat tersebut pada saat itu, Karnah termasuk ‘orang langka’.

    Di sekolah, kemampuan olahraga Karnah sangat menonjol. Ia sangat enerjik dan mampu menguasai hampir semua cabang, dari mulai bola keranjang, kasti, sampai panca lomba. Karnah bahkan sangat berprestasi. Ia meraih gelar juara pada kejuaraan tingkat propinsi Jawa Barat pada tahun 1956 di Garut. Maka, tahun berikutnya ia bergabung ke dalam tim Jabar untuk PON IV di Makassar. Kala itu ia ditarik masuk pelatda oleh seorang pengurus PASI Jabar bernama Letnan Evo. Secara gemilang, di ajang PON Karnah sukses menyabet semua gelar juara pancalomba, meliputi lari 100 meter, lompat jauh, lompat tinggi, lempar lembing, dan lempar cakram.

    Keberhasilan Karnah membuatnya terkenal. Tahun 1958, selepas lulus sekolah, ia diangkat sebagai anak asuh oleh seorang pengusaha batik bernama Sukarna Saputra. Ia diboyong ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani). Ketika itulah nama Karnah diganti menjadi Sukarnah, mirip nama bapak asuhnya.

    Keberhasilan Karnah membuatnya terkenal. Tahun 1958, selepas lulus sekolah, ia diangkat sebagai anak asuh oleh seorang pengusaha batik di Bandung bernama Sukarna Saputra. Ia diboyong ke Kota Kembang untuk melanjutkan sekolah di SGPD (Sekolah Guru Pendidikan Jasmani). Ketika itulah nama Karnah diganti menjadi Sukarnah, mirip nama bapak asuhnya.

    Pergantian nama itu menandai pula babak baru kehidupannya. Setelah sukses menjadi juara PON, Sukarnah mulai diorbitkan ke ajang internasional. Dia mulai bergabung ke dalam program pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Jakarta. Johans Edward Willem (JEW) Gosal, pelari pria 100 meter, adalah salah satu rekan pelatnas Sukarnah. Gosal kelak kemudian aktif sebagai pengurus KONI Pusat. "Saya dulu berlatih di Lapangan Banteng, menginap di rumah Letkol Irwadi yang berada di depannya. Kini rumah tersebut menjadi Hotel Borobudur," tutur Sukarnah.

    Bergabung dengan pelatnas, kemampuan Sukarnah makin terasah. Dia berhasil membukukan rekor nasional lempar lembing baru sejauh 37,6 meter. Atau, lebih baik dari rekor sebelumnya atas nama Ny. Saleh Harusman yang membukukan lemparan sejauh 31 meter.

    Sukarnah akhirnya lolos seleksi dan dikirim ke Asian Games 1958. Dari keseluruhan atlet yang dikirim, hanya dua orang saja yang berada di cabang atletik, yaitu Sukarnah dan Kopral Marijo. Marijo yang tampil di nomor lari 100 meter pria hanya mampu menduduki peringkat kelima, sementara Sukarnah berhasil merebut medali perunggu.

    ***

    Nama Sukarnah kembali menjadi pembicaraan saat Menpora Adhyaksa Dault pada tahun 2007 membagikan 44 buah rumah seharga masing-masing Rp. 100 juta kepada atlet dan mantan atlet berprestasi. Saat itulah kisah Sukarnah terungkap lagi dan mencuri perhatian. Bagaimana tidak, sebab Sukarnah kini bukanlah seorang perempuan, melainkan seorang laki-laki bernama Iwan Setiawan dan berkeluarga secara normal.

    Perjalanan Iwan Setiawan alias Sukarnah memang sulit diterima logika. Namun, bagaiamanapun ia adalah salah satu atlet nasional yang terlupakan. Sudah sepantasnya ia mendapatkan penghormatan seperti rekan-rekannya yang sebagian besar kini mantap sebagai pejabat organisasi olahraga maupun pemerintahan.

    Baca juga:
    Setelah Mimpi Jumpa Bung Karno, Sukarnah Menjadi Iwan Setiawan

    "Beliau adalah korban politik. Kita tetap harus menghormatinya sebagai salah satu peletak dasar olahraga tanah air," kata Menpora Adhyaksa Dault ketika memberikan rumah pada Iwan dalam bentuk uang tunai.

    Bagi Iwan sendiri, ia teringat dulu Bung Karno pernah menyuruh Gubernur Jawa Barat memberi rumah untuknya, sebagai hadiah atas prestasinya di Jepang. Namun, banyak hal terjadi, janji tinggallah janji. Hampir lima puluh tahun kemudian, janji itu terwujud sudah.

    Kini Iwan Setiawan setidaknya bisa bernafas lega. Pemerintah mulai memperhatikan nasibnya sebagai Pahlawan Bangsa. Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan hadiah berupa rumah seharga Rp 100 juta. ''Penghargaan ini sebenarnya amanat Bung Karno. Selama ini saya tidak sakit hati. Mungkin Bapak-bapak petinggi lupa saja terhadap nasib para mantan atlet nasional,'' ujarnya, ketika diwawancarai Budi Yuwono dari media Suara Merdeka.

    (Ditulis ulang dan 'dipindahkan' dari tulisan pada Saung Urang Ciamis (8/1/2008)

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi