• Cekidot

    Meneladani Sosok Luar Biasa Kasna, Pejuang Kemerdekaan Dari Ciamis

    Suatu hari di tahun delapan puluhan. Seorang lelaki tua bertubuh kecil dan kurus kerempeng melangkahkan kaki dengan penuh tanda tanya. Wajahnya sudah berkerut-kerut dimakan usia. Wajah yang berhias kepolosan. Sepintas saja, tampaklah sosok dengan harmoni kebersahajaan yang telah mendarah-daging dalam kehidupannya. Ia mengenakan baju tentara yang sudah lusuh, bahkan sabuk celananya pun hanya berupa tali rafia saja. Sebagian orang akan tak tega memandangnya. Tapi, baju seperti itulah yang kerap menjadi seragam kesehariannya, biasa dipakainya ketika menjalankan tugas sebagai seorang pesuruh di kantor CPM (Corps Polisi Militer) Ciamis.

    Foto ilustrasi Veteran RI, © antaranews.com

    Ia memasuki ruangan besar dan megah itu dengan perlahan, di bawah tatapan mata hadirin yang menunggunya. Ruang Pendopo Kabupaten Ciamis ketika itu sedang dihadiri banyak undangan istimewa, para pejabat penting, tokoh-tokoh masyarakat dan tamu-tamu pilihan. Suasana khidmat di Gedung Negara itu berubah menjadi penuh hormat ketika ia makin mendekat ke barisan terdepan. Ya, semua orang menghormat kepadanya. Dan ia menjadi bertambah bingung.

    Puncaknya, adalah ketika seseorang menyongsong kehadirannya dengan berlinang air mata. Orang itu segera memeluknya sembari berulang mengucapkan terima kasih. Tentu ia segera mengenalnya, foto orang itu terpampang di semua kantor dan instansi. Petinggi yang memeluknya erat adalah orang kedua di negeri ini. Sungguh kejadian yang luar biasa. Berjumpa Wakil Presiden Sudharmono saja bukan hal yang diimpi-impikannya, apalagi membayangkan orang tersebut menyambut dan memeluknya.

    “Kenapa Bapak memeluk saya? Kenapa mengucapkan terima kasih pada saya, Pak?” Raut polos itu malah tambah kebingungan.

    Lelaki tua yang dipeluk oleh Wapres Sudharmono itu bernama Kasna. Ia hanyalah orang biasa, bukan pejabat, bukan perwira atau tokoh masyarakat terkemuka. Bahkan, ia mengabdi sebagai seorang pesuruh saja. Tapi, di balik kehidupannya yang sederhana, ternyata ia adalah seorang pejuang yang gigih luar biasa. Kakek tua itu sudah mengorbankan segalanya untuk negara.

    Suatu ketika, terjadi pertempuran di tengah-tengah masa aksi gerilya di wilayah Jawa Tengah. Kasna, saat itu berjuang bersama orang yang kini menjadi salah satu pemimpin negara tersebut, Sudharmono. Kala itu, pasukan pejuang sudah terdesak oleh pihak musuh. Sudharmono muda, Sang Komandan, juga sudah kehilangan akal ketika tersudut di tepi Kali Serayu. Jumlah pasukan yang tersisa hanya tinggal beberapa orang saja, banyak pejuang yang gugur ditembak pasukan Belanda.

    “Biar saya berenang duluan ke seberang sungai!” Ide di tengah-tengah suasana amat genting itu terbetik dari seorang Kasna, pejuang kemerdekaan asal Ciamis. Meski badannya kecil, keberaniannya luar biasa. Ia segera menyeberangi Sungai Serayu yang airnya deras, sembari membawa tambang untuk dibentangkan. Upaya itu berlangsung dengan susah payah, tapi akhirnya berhasil juga. Tali itulah yang kemudian menyelamatkan Sudharmono dan pasukan yang tersisa. Rupanya Sang Jenderal masih mengingat persis kejadiannya.

    Rasa terima kasih dan penghargaan Wapres Sudharmono tak berhenti di acara seremonial di Pendopo Kabupaten Ciamis saja. Kakek Kasna dibawa ke Jakarta dan diberi berbagai pelayanan yang baginya merupakan kemewahan yang tak pernah dibayangkannya. Meski demikian, rupanya kebersahajaan memang sudah menjadi jalan hidupnya. Ia tak lama kemudian malah memilih pamit untuk pulang kembali ke Ciamis, tempat tinggalnya. Wapres Sudharmono kemudian membangunkan sebuah rumah yang cukup besar untuk Kakek Kasna, di tepi Sungai Cileueur.

    Kisah di atas ditulis ulang dari catatan Dadang Muhammad Rochlik atas penuturan seorang purnawirawan yang menyaksikan langsung kejadian di Pendopo Kabupaten Ciamis, ketika Kakek Kasna dipeluk oleh Wapres Sudharmono.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi