• Cekidot

    Asal-usul Cinyasag: Kisah Raja Galuh yang Menghilang

    Syahdan, Prabu Ragawahana yang memerintah di Kerajaan Galuh telah bersiap untuk meninggalkan Kawali, pusat pemerintahan, dan berniat menjadi seorang pertapa sebagaimana kebiasaan para raja yang sudah lanjut usia di saat itu. Raja yang sakti mandraguna dan ‘saciduh metuh saucap nyata’ (setiap kata-katanya bertuah) itu ingin menghabiskan sisa usianya dengan menjalankan laku spiritual dan meninggalkan keduniawian. Sementara itu, urusan pemerintahan sudah diserahkan kepada Raja Muda penggantinya.

    Prabu Ragawahana meminta Permaisuri untuk membuatkan pakaian untuk keperluannya bertapa. Permintaan tersebut disampaikan dengan memberi batas waktu seminggu dan larangan terhadap siapa pun untuk mencoba baju tersebut. Sang Permaisuri menyanggupi dan segera menenun bahan pakaian yang diminta dengan penuh rasa tanggung jawab. Selang beberapa waktu, bahan tenun yang dikerjakannya pun selesai sudah. Bahan tersebut lantas dibuat menjadi pakaian sesuai permintaan dan selesai tanpa menunggu waktu terlalu lama pula.

    Pesawahan di Cinyasag. Foto: IG an.diee_

    Nahas, ketika sedang meneliti hasil pekerjaannya, Sang Permaisuri lupa pada larangan suaminya. Ia penasaran apakah bahan yang dikerjakannya enak untuk digunakan atau tidak, sehingga tak sadar mencoba memakai pakaian tersebut. Ajaib, baju tersebut malah melekat di tubuh Sang Permaisuri dan tak dapat dilepaskan lagi. Segera, ia teringat pada titah Sang Prabu dan merasa takut akan akibat dari perbuatannya. Maka, menangislah Sang Permaisuri tersedu-sedu dan mengunci diri di dalam Ruang Tenun.

    Sang Permaisuri tak jua menyerahkan baju yang dipesan hingga melewati batas waktu seminggu. Prabu Ragawahana yang merasa heran dan kuatir kemudian mendatangi kaputren dan mendapati Ruang Tenun dalam keadaan tertutup. Hal tersebut membuat Raja Sepuh tersebut bertambah heran dan khawatir. Setelah bersusah payah, akhirnya ia bisa membuka pintu ruangan tersebut.

    Ketika pintu berhasil dibuka, tiba-tiba melompatlah seekor ‘kidang’ (menjangan) betina dari dalam ruangan. Binatang tersebut segera melesat meninggalkan keraton. Prabu Ragawahana yang sempat tertegun dan kaget pun segera berlari mengejarnya. Sembari memikirkan kejadian yang sedang dialaminya, ia terus mengikuti jejak menjangan tersebut. Para pengawal dan pengiring Prabu Ragawahana tetap setia mendampingi junjungannya, karena khawatir terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada rajanya.

    Setelah berhari-hari mengikuti menjangan itu, yang berlari naik-turun gunung ke arah utara wilayah Galuh, sampailah Prabu Ragawahana di suatu tempat. Setelah melewati sebuah sungai kecil dan lembah, menjangan yang dikejar tersebut berhenti dan tiba-tiba saja melayang, lalu menghilang.

    Sang Prabu meyakini bahwa menjangan tersebut penjelmaan istrinya yang ‘termakan’ oleh titahnya sendiri. Dalam kesedihannya, Prabu Ragawahana kemudian memutuskan untuk bersemedi di bukit tersebut dan ia pun turut melayang, menghilang tanpa jejak seperti menjangan yang dikejarnya.

    Para pengikutnya sangat kehilangan atas kepergian Raja dan Permaisuri. Sebagian dari mereka tinggal di bukit tersebut, sementara yang lainnya pulang ke Kawali untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada Raja Muda, putra Prabu Ragawahana.

    Kelak bukit tersebut dinamakan Gunung Layang (sumber lain menyebut sebagai Gunung Manglayang), sementara sungai kecil dan lembah yang dilewati dinamai Lebak Cirikip, dan daerahnya disebut Cirikip.

    Di sekitar bekas pertapaan Prabu Ragawahana di Gunung Layang terdapat kuburan para pengikutnya, dan batu-batu yang bertanda seperti telapak anjing dan menjangan sehingga tempat tersebut disebut Ceker Kidang atau Talapakan. Sumber lain menyebutkan bahwa terdapat menhir pemujaan di sekitar tempat ini.

    ---

    Pesawahan di Cinyasag. Foto: IG an.diee_

    Kerajaan Galuh dilanjutkan oleh keturunan-keturunan Prabu Ragawahana, dan sempat dialihkan ibukotanya ke sekitar daerah Bogor pada tahun 1030, yakni pada masa kejayaan Kemaharajaan Pakuan Pajajaran . Tetapi, lama kelamaan pamor kerajaan besar ini makin menyusut seiring masuknya pengaruh penyebaran agama Islam.

    Wilayah Galuh utara hingga pinggir Sungai Cimuntur akhirnya termasuk ke dalam daerah penyebaran agama Islam, terutama karena kuatnya pengaruh Kasultanan Cirebon. Konon saat itu di sekitar Gunung Layang sudah ada perkampungan kecil yang dinamakan Umbul Muncang Pandak (letaknya konon di daerah Kaom, termasuk Dusun Puhun sekarang). Umbul adalah sebutan untuk sekelompok orang yang bermukim sebagai penggarap lahan pertanian.

    Pada awalnya penduduk Umbul Muncang Pandak hanya sembilan keluarga, yang berasal dari dua keluarga awal. Mereka adalah Keluarga Wargadijaya (dimakamkan di Hulu Dayeuh, terletak di dusun Puhun) yang menurunkan Keluarga Raksanata, Keluarga Wangsaparana dan Keluarga Ditasinga (ketiganya dimakamkan di Dusun Kondang); dan Keluarga Buyut Bugel (dimakamkan di Hulu Dayeuh, terletak di Dusun Puhun) yang menurunkan Keluarga Partalaksana (dimakamkan di Dusun Cirikip), Keluarga Indraparta (dimakamkan di Dusun Kondang), Keluarga Partayuda (dimakamkan di dusun Puhun) dan Keluarga Indrabangsa (dimakamkan di dusun Kondang).

    Umbul Muncang Pandak kemudian berubah status menjadi Kadaleman, bagian dari Kasunanan Cirebon yang merupakan bagian pula dari kekuasaan Kerajaan Mataram. Pemimpin pertama Kadaleman Muncang Pandak bernama Dalem Mangkuratbumi yang berasal dari Kanoman Cirebon. Perkembangan wilayah ini berlangsung terus sekian lama hingga akhirnya menjadi sebuah desa yang wilayahnya cukup luas. Sebagai gambaran, Kadaleman Muncang Pandak sempat dimekarkan menjadi dua, yakni Kadaleman Cinyasag (Kadipaten Galuh) dan Kadaleman Sadapaingan (Kadipaten Panjalu).

    Perubahan nama Kadaleman Muncang Pandak menjadi Desa Cinyasag, konon didasarkan pada air dari ‘sasag’ (anyaman bambu) yang diperoleh sebagai hadiah atas peran warga Cinyasag yang telah memperbaiki meriam Si Jagur (sumber lain menyebut meriam Sapujagat). Meriam tersebut sempat rusak saat hendak digunakan pada penyerangan pasukan Mataram kepada Kompeni Belanda di Batavia.

    Keterlibatan Cinyasag dalam sejarah perjuangan Indonesia memang tak dapat dibantah. Peran istimewa lainnya di antaranya adalah sebagai tempat penyelamatan Panji Siliwangi dan sebagai tempat pertemuan Komite Tiga Negara pada saat perang kemerdekaan.

    Kini, Cinyasag tetap memegang peranan penting di masa kemeredekaan dan pembangunan. Desa yang didukung oleh irigasi dan bendungan ini memiliki persawahan yang luas dan subur. Terdapat pula aktivitas seni budaya dan pendidikan di lokasi yang strategis tersebut.

    Asal-usul Desa Cinyasag ini disusun ulang dengan bersumber dari blog Kaneron, laporan KKNM Unpad dan lainnya. Di luar kisah legenda yang lebih cenderung bersifat 'dongeng sasakala', masih diperlukan penelaahan dan kajian lebih jauh untuk mendapatkan catatan sejarah yang lebih lengkap dan komprehensif tentang Cinyasag.

    No comments:

    Sejarah

    Inspirasi

    Fiksi