• FYI

    21 September 2019

    Jembatan Cirahong, Jejak Sejarah dan Kereta yang Akhirnya Singgah


    Keberadaan jembatan Cirahong di perbatasan Ciamis-Tasikmalaya mengingatkan pada catatan sejarah, bahwa dulu pernah ada Bupati Tatar Galuh berjuluk Kangjeng Prebu yang sanggup 'mengalihkan arah rel kereta'. Mulanya, penjajah kolonial Belanda tak akan melewatkan jalur kereta api ke kota Ciamis (yang berkonsekuensi biaya sangat mahal karena harus membangun dua jembatan untuk melintasi Sungai Citanduy), tetapi Kangjeng Prebu mampu 'membujuk' pemerintah kolonial saat itu agar kereta api lewat di kota kecil ini.

    Jalur kereta api dibangun penjajah Belanda dengan rute melewati Bandung, Garut, Tasikmalaya, Banjar dan kemudian ke arah Jawa Tengah. Rute tersebut awalnya direncanakan tanpa melewati pusat Kabupaten Galuh, melainkan berada di sebelah selatan sungai Citanduy, menyusuri wilayah Cimaragas, lalu nantinya di Banjar terpecah dua jalur, ke Pangandaran dan ke Jawa Tengah.

    Kangjeng Prebu, julukan R.A.A. Kusumadiningrat (1839–1886), sejatinya sudah pensiun dari jabatan Bupati Galuh Ciamis. Namun, manakala mendengar kabar bahwa kereta api tak akan melewati kota Ciamis, ia menggunakan pengaruhnya untuk memengaruhi pemerintah Hindia Belanda agar mengubah kebijakan tentang pembangunan jalur tersebut.

    Ia mampu meyakinkan pemerintah kolonial bahwa kota Ciamis jauh lebih ramai daripada Cimaragas, sehingga keberadaan stasiun di kota ini akan bermanfaat bagi mobilitas penduduk dan barang. Dapat kita bayangkan bahwa negosiasi seperti ini, dari pihak yang dijajah kepada penguasa, pasti membutuhkan kecerdasan dan kharisma dari seorang pemimpin yang kuat.


    Atas jasa tokoh inilah Jembatan Cirahong mulai terwujud pada tahun 1893 dan kereta api akhirnya melintasi kota Ciamis. Stasiun Ciamis kemudian berdiri hingga kini. Sebagai tambahan catatan, Jembatan Cirahong yang bersejarah sempat diperkuat lagi kondisinya pada tahun 1954.

    Sayang, dalam perkembangannya sejarah juga mencatat bahwa penumpang asal Ciamis yang menggunakan kereta eksekutif dan bisnis ternyata akhirnya harus naik atau turun di kota lain, Tasikmalaya atau Banjar.

    Aneh? Nyatanya demikian. Ciamis dalam pandangan beberapa pihak seolah tak diperhitungkan dan sekadar menjadi perlintasan belaka. Disadari, memang ada pertimbangan tertentu di baliknya, tetapi tetap saja dianggap menyedihkan dan menyulitkan.


    Mengulang sejarah silam, Bupati Ciamis dan Gubernur Jawa Barat, harus melakukan 'bujukan' agar Ciamis dijadikan tempat persinggahan kereta api. Kini, atas inisiatif serta dorongan tersebut, PT KAI sudah mengumumkan bahwa kereta api eksekutif akan mulai singgah di kota Ciamis terhitung mulai 1 Oktober 2019.

    Kabar singgahnya kereta eksekutif dan bisnis di Stasiun Ciamis sudah lama dinantikan dan amat menggembirakan warga Tatar Galuh. Proses pendekatan para pihak terkait sudah berlangsung selama beberapa bulan terakhir, hingga akhirnya menjadi keputusan resmi untuk melakukan ujicoba.

    Kebijakan baru PT KAI ini bagi warga kota Ciamis dan sekitarnya akan menghemat waktu serta biaya perjalanan, karena tak harus turun di Kota Banjar atau Tasikmalaya lagi. Lebih dari itu, pastinya lebih memudahkan. Di sisi lain, pengakuan atas Stasiun Ciamis menumbuhkan penghargaan kembali atas jatidiri Ciamis.


    Secara kocak, seorang warganet menggambarkan bahwa kebanggaan warga Ciamis terhadap Jembatan Cirahong serta Stasiun Ciamis selama ini adalah sambil menahan perasaan dan menggumam perlahan, "Ah, da aku mah apa atuh, kareta juga cuma nganggap aku perlewatan ... Sedih ini teh kalau harus diceritakan mah."

    Kini, penantian itu berakhir. Warga tampak antusias dan berterima kasih melalui jejaring media sosial kepada Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, M.M., dan Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil, serta PT KAI atas keputusan singgahnya kereta api bisnis di Kota Manis Ciamis.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi