• FYI

    08 Juli 2021

    Melongok Keunikan Tradisi Suran, Sedekah Bumi di Dusun Jatibarang Lakbok


    Berbagai bentuk tradisi budaya yang bernilai kearifan lokal masih dapat ditemui di wilayah Tatar Galuh Ciamis hingga saat ini. Suran adalah salah satu di antaranya, dan dapat dijumpai di wilayah Dusun Jatibarang, Desa Sindangangin, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis.

    Kata ‘suran’ disebut sebagai bentuk perubahan penyebutan dari kata ‘suraan’ atau ‘syuraan’, karena acara ini memang dilaksanakan oleh warga setelah perayaan Tahun Baru Islam, yang dikenal juga dengan tanggal 1 Sura (1 Suro).

    Suran sendiri dikatakan sebagai bentuk ‘sedekah bumi’ untuk menunjukkan rasa syukur pada Tuhan atas hasil bumi atau rejeki yang didapatkan selama ini. Tak lupa, biasanya dipanjatkan doa pengharapan agar selalu diberi keberkahan dan keselamatan, serta dijauhkan dari bahaya serta kesusahan.

    Ano, salah satu warga Blok Pasirtambi RT 28 RW 07 Dusun Jatibarang, Desa Sindangangin, Lakbok, mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun di wilayahnya, dan merupakan warisan adat dari nenek-moyang yang terus dilestarikan.

    “Bukan menyembah bumi, tetapi kita berdoa dan bersyukur pada Allah SWT. Tradisi ini turun-temurun dari nenek moyang,” ungkapnya pada CIAMIS.info.

    Menurutnya, acara ini hanya dilaksanakan pada bulan Sura (Suro) dan di pelosok wilayah Lakbok masih cukup banyak yang melaksanakannya. Ia sendiri mengaku tidak mengetahui apakah di daerah yang termasuk ‘kota’ masih ada yang melestarikan tradisi Suran ini atau tidak.

    Acara Suran di Dusun Jatibarang, Sindangangin, Lakbok, biasanya dilaksanakan setelah waktu zhuhur, pada tanggal yang telah ditetapkan oleh tokoh setempat. Seluruh masyarakat satu RT datang ke satu tempat yang telah ditentukan sebelumnya, dengan membawa makanan masing-masing.

    Sebelumnya, setiap rumah telah menyiapkan hidangan terbaik dari rumah masing-masing sebagai sedekah Suran. Sesuai dengan maknanya, setiap rumah berusaha memberikan sedekah terbaik sesuai kemampuan yang ada, untuk diberikan pada saat acara Suran. Setelah terkumpul di lokasi tradisi Suran, makanan tersebut kemudian disatukan dengan makanan dari keluarga lain dan acara dilaksanakan dengan inti berupa doa bagi kebaikan bersama. Setelah didoakan, makanan tersebut kemudian dibagikan dengan bertukar dengan tetangga.

    Selain merupakan bentuk rasa syukur pada Yang Mahakuasa, kegiatan Suran ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama.

    Kontributor: @anokecil02
    Editor: @ciamisnulis

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Sejarah

    Fiksi

    Inspirasi