Terkadang kita sudah merasa cukup menjaga anak di dalam rumah dengan memberikan contoh yang baik, berbicara lemah lembut, serta mengajarkan mana hal yang baik atau tidak baik. Apakah pernah terpikir bahwa semua itu sudah cukup untuk memberikan lingkungan rumah yang aman serta terarah, dan anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang sudah kita bayangkan? Tampaknya, harapan semua orang tua akan demikian.
Namun, lingkungan anak pada hari ini faktanya tidak hanya di rumah atau sekolah saja. Kita mungkin tidak menyadari adanya lingkungan baru yang ikut hadir seiring berjalannya zaman: layar kecil yang selalu menemani anak-anak di setiap waktunya. Dari situlah anak melihat banyak hal, mendengar banyak suara, dan pelan-pelan akan ikut mengambil peran untuk ikut memberi pelajaran bagaimana dunia ini bekerja.
Ya, awalnya semua terlihat sepele. Anak mulanya sesekali diberi ‘layar ajaib’ agar tenang, agar tidak rewel, atau sekadar agar si ibu bisa fokus dengan dunia kerjanya yang hampir 24 jam. Memang tidak ada yang salah tentang hal tersebut, bahkan itu bisa menjadi solusi instan di tengah-tengah hiruk pikuk kegiatan orang tua yang super padat.
Namun, perlahan tetapi pasti, yang awalnya sesekali itu akan berubah menjadi suatu kebiasaan yang selalu dilakukan. Anak akan mulai terbiasa dengan tontonannya. Ia akan mengikuti cara bicara dan ekspresi tertentu, bahkan meniru perilaku yang berasal dari video yang dilihatnya. Sayangnya, akan ada pula hal-hal yang sebenarnya sudah kita beri tahu bahwa itu salah, tetapi tetap dilakukannya. Kita akhirnya merasa bingung. Semua itu terasa ‘asing’, karena di rumah hal-hal tersebut tidak kita contohkan.
Sampai di tahap ini, pernahkah ada sebersit pikiran di benak kita, sebagai orang yang berperan di lingkungan rumah, “Ini anak belajar di mana, ya?” Padahal, jawabannya sudah jelas ada di depan mata kita sendiri. Semua ini bermula dari sesuatu yang tadinya kita anggap hanya sekadar ‘sesekali’.
Anak pada usia emas memang sedang berada di fase meniru. Mereka belum mempunyai kemampuan menyaring mana yang layak untuk diikuti dan mana yang tidak. Mereka berada pada fase di mana hal-hal yang sering dilihat akan dianggap wajar, serta apa-apa yang kerap didengar akan mereka rekam.
Zaman dulu, mungkin dunia anak-anak terbatas hanya ada di rumah dan sekolah saja, di mana orang tua serta guru adalah contoh yang baik untuk mereka tiru. Namun, di zaman sekarang ini, ‘layar-layar ajaib’ telah mengambil peran yang tidak hanya pada sedikit ruang yang mereka ambil, tapi sebaliknya pada banyak ruang yang mereka kuasai.
Dunia digital tidak selalu memberikan tuntunan seperti yang kita inginkan. Sebaliknya, marak sekali di zaman sekarang ini konten yang hanya dibuat untuk menarik perhatian, tanpa adanya unsur pendidikan. Suara yang dibuat berlebihan, ekspresi yang dibuat-buat, respon yang cepat serta instan, semua itu dapat membuat anak mudah untuk menirukan.
Akhirnya, anak akan mulai terbiasa dengan hal-hal yang serba cepat, hiburan yang hanya menarik, serta respon yang tak perlu jeda. Akibatnya, ketika anak mulai kembali ke dunia nyata, semua terasa membosankan. Semuanya lambat, tidak semenarik dunia ‘layar ajaib’.
Ironisnya, di sinilah peran orang dewasa justru kadang tidak menyadari perubahan yang telah datang secara pelan-pelan. Anak jadi lebih mudah bosan, lebih cepat kesal, sulit fokus untuk waktu yang lama, dan bahkan akan menjadi lebih emosional ketika kenyataan tak terpenuhi seperti apa yang mereka bayangkan, atau tak terwujud seperti apa yang mereka inginkan.
Stop menyalahkan anak! Ini bukan karena mereka berubah menjadi “anak yang bermasalah”, melainkan disebabkan oleh satu kebiasaan yang awalnya muncul dengan kata “sesekali”. Kebiasaan itu dibentuk oleh lingkungan rumah yang ingin anak anteng, dengan memberikan dunia baru untuk anak, dunia ‘layar ajaib’.
Perubahan ini tidak terlihat langsung membesar, tetapi dapat terlihat dari hal-hal kecil yang sering terulang di keseharian anak, seperti nada suara, cara berbicara, dan emosi yang tidak stabil. Di sisi lain, kita ingin anak itu sesuai dengan apa yang kita harapkan, sesuai dengan apa yang kita ajarkan di rumah. Akibatnya, akan terjadi jarak yang pelan-pelan melebar, dan menjadikan si anak semakin menjauh dari unsur-unsur yang sering diterapkan di rumah.
Kalau dulu kita sering mendengar istilah “anak adalah cerminan lingkungannya”, maka saat ini kita harus memperluas makna “lingkungan” itu sendiri. Lingkungan saat ini bukan hanya siapa yang ada di dekat mereka, tetapi juga apa yang mereka lihat di ‘layar ajaib’ yang dipegangnya.
Apakah layar ajaib harus dijauhkan dari anak? Tentu tidak, karena itu pun tidak realistis di zaman sekarang. Dunia digital sudah menjadi kehidupan yang berdampingan, dan anak akan bergesekan dengan dunia tersebut, cepat atau lambat. Yang perlu disadari sekarang adalah bagaimana kita menyadari perannya, bahwa apa yang mereka tonton bukan hanya sekadar hiburan, tapi tuntunan. Setiap karakter yang mereka lihat membawa peran bagaimana si anak harus bersikap.
Di sinilah peran orang dewasa kembali menjadi penting, bukan hanya sebagai pemberi aturan, tetapi juga sebagai pendamping. Ini bukan hanya tentang membatasi waktu, tetapi juga memperhatikan apa yang anak lihat. Peran ini juga bukan sekadar melarang, tapi menjelaskan mengapa itu dilarang. Bukan pula hanya mengambil gadget dari anak, tetapi memberi mereka lingkungan yang lebih menarik dan interaktif. Perlu selalu diingat, di usia emas anak akan belajar bukan pada “katanya”, tetapi “nyatanya”.
Dunia digital memang turut berperan dalam membentuk karakter anak di zaman ini, tetapi bukan berarti kita kalah peran. Justru seharusnya di tengah banyaknya pengaruh dari luar, kehadiran orang dewasa yang sadar serta terlibat, menjadi sangat penting. Jika anak adalah “cerminan lingkungan”, maka saat ini “cermin” tersebut bukan hanya menyangkut lingkungan rumah dan sekolah saja, tetapi juga si ‘layar ajaib’ tersebut. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar tahu apa saja yang sedang membentuk mereka?


Medsos